Dapatkan analisis teknikal mendalam, berita pasar terkini, dan tips crypto setiap hari. Bergabunglah dengan komunitas trading yang solid & raih profit maksimal
**Kisruh Trump-Powell, Perak Jadi Aset Terbesar Kedua di Dunia**
Harga perak kembali meroket menjadi US$85,23 pada Selasa (13/01) menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed). Tak hanya itu, kapitalisasi pasarnya juga naik tipis 0,27% yang membuatnya menyalip NVIDIA menjadi aset paling berharga kedua di dunia.
Di sisi lain, Bitcoin masih turun ke posisi ke-8 dengan kapitalisasi pasar senilai US$1,8 triliun setelah sebelumnya sempat menyalip saham Alphabet, perusahaan induk Google sebagai aset paling berharga kelima di dunia.
Lonjakan perak terjadi karena pasar khawatir terhadap independensi The Fed. Sebagai informasi, Departemen Kehakiman Amerika Serikat memutuskan untuk menyelidiki Ketua The Fed Jerome Powell.
Powell menyebut penyelidikan tersebut merupakan serangan politik dari Gedung Putih terkait penolakannya menurunkan suku bunga sesuai keinginan Presiden Trump. Hal ini mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven.
Meski harga perak sudah menguat kuat sejak tahun lalu, kenaikan sekitar 7% hingga mendekati rekor baru ini terutama dipicu oleh faktor geopolitik dan institusional, bukan semata-mata fundamental permintaan industri.
Karena pasar perak relatif lebih kecil dibanding emas, arus modal defensif tersebut berdampak lebih besar pada harganya, menjadikan perak sangat sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan. $XAU $XAG
**Bitcoin $BTC Masih Loyo, Emas $PAXG Capai ATH Baru US$4.600**
Emas naik 2,23% yang membuatnya mencapai all-time high (ATH) atau rekor tertinggi baru seharga US$4.600 per ons, Senin (12/01). Di sisi lain, Bitcoin masih diam di tempat pada harga US$90.000 sejak November lalu.
Melonjaknya logam mulia dipicu krisis kepercayaan yang luar biasa terhadap independensi The Federal Reserve. Pasar bereaksi secara agresif setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) membuka investigasi kriminal terhadap Ketua Fed, Jerome Powell, terkait kasus renovasi gedung pusat.
Powell menyebut langkah ini sebagai tekanan politik akibat perselisihannya dengan administrasi Trump mengenai kebijakan suku bunga. Hal ini kemudian membuat investor berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke emas sebagai safe haven.
Secara analisis teknis, emas kini kembali memasuki fase price discovery setelah melampaui level tertinggi sepanjang masa sebelumnya. Penutupan harga di atas level rekor saat ini menjadi sinyal konfirmasi yang sangat krusial untuk melanjutkan tren bullish menuju target psikologis berikutnya di angka US$5.000, yang juga bertepatan dengan level ekstensi Fibonacci 100%.
Meskipun masih berpotensi naik, emas memiliki basis dukungan (support) yang kuat pada level US$4.360 dan rata-rata bergerak 50 hari (50 EMA) di kisaran US$4.255, yang dapat berfungsi sebagai penahan jika terjadi koreksi teknis akibat volatilitas pasar yang tinggi. #AkademiCryptoNews
Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).
**Carousel | X Bakal Luncurkan Fitur Pelacakan Harga Saham-Crypto**
Head of Product X Nikita Bier mengumumkan rencana peluncuran fitur Smart Cashtags, yang memungkinkan pelacakan harga aset digital crypto dan saham serta grafik kinerja aset secara real-time.
“Kami sedang membangun Smart Cashtags yang memungkinkan pengguna untuk menentukan aset yang tepat atau smart contract saat mengunggah ticker. Serta, hanya dari timeline, pengguna dapat mengetuknya untuk melihat harga real-timenya bersama dengan semua penyebutan aset tersebut,” tulis Bier melansir laman X miliknya.
Bahkan, peluncuran fitur X terbaru ini dijadwalkan bisa rilis kepada publik pada Februari mendatang, yang mana di dalam X sudah tersedia tombol jual atau beli serta dukungan untuk Solana ($SOL ). Lalu, menanggapi rencana itu, pengguna X pun menyambut antusiasnya fitur baru tersebut, terlebih pemegang aset digital crypto.
“CashTag akan sangat bagus dan berguna,” tulis akun X @martinlasek.
“Langkah bagus untuk pasar crypto di X,” tulis akun X @cryptotony. $BTC $ETH
**Superheat Rilis Water Heater yang Bisa Tambang Bitcoin, Dijual Rp33,6 Juta**
Superheat meluncurkan perangkat H1, yakni teknologi yang menggabungkan mesin penambang Bitcoin dan water heater seharga US$2.000 atau sekitar Rp33,6 juta. Cara kerjanya yaitu chip mining dipasang pada tangki air listrik standar berkapasitas 50 galon dan panas yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan air.
Perangkat ini mengonsumsi daya sekitar 4.000 hingga 5.000 watt, setara dengan pemanas air listrik biasa. Namun H1 lebih unggul karena bisa menghasilkan Bitcoin yang dapat dipantau melalui aplikasi yang menampilkan suhu air dan pendapatan mining secara real-time.
Menurut pengembangnya, Superheat, pendapatan dari mining berpotensi menutupi hingga 80% biaya listrik dan air, tergantung tarif lokal dan harga Bitcoin yang berada di kisaran US$91.000. $BTC $ETH $SOL
**Perjalanan Tahun 2025, Performa Bitcoin Ditentukan oleh Trump-ETF**
Sepanjang tahun 2025, nasib performa dari Bitcoin ($BTC ) ditentukan oleh ucapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan dana para investor di pasar exchange-traded fund (ETF) aset crypto tersebut.
Secara rinci, perjalanan pertama Bitcoin di awal tahun lalu mengalami dana keluar para investor ETF sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp16,8 triliun di bulan Februari.
Lalu, pengumuman pemerintah Amerika Serikat yang menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan negara di bulan Maret. Namun, pergerakan harganya justru berbalik arah di area perdagangan sekitar US$80 ribu hingga US$90 ribu.
Setelah bulan Maret, pada bulan April Trump mendadak mengumumkan tarif perdagangan ke puluhan negara di dunia. Hal tersebut membuat pasar crypto memerah, bahkan aset-aset investasi lainnya juga berdampak besar.
Pada bulan Juni, senat AS mengesahkan undang-undang bernama Genius Act yang terkait regulasi crypto. Hanya perlu waktu sebulan, senat AS telah menyetujui undang-undang tersebut di bulan Juli.
Terakhir, nasib aset ini ditentukan di bulan Oktober, saat itu pasar ETF mengalami euforia dengan arus dana masuk US$1,2 miliar atau sekitar Rp20,2 triliun dan membuat Bitcoin mencapai titik tertinggi yang baru senilai US$126 ribu. $ETH $SOL
**Tepat 17 Tahun Lalu, Mendiang Hal Finney Mengunggah Cuitan 'Running Bitcoin'**
Sosok legendaris di dunia cryptography Hal Finney mengunggah cuitannya yang berisi 'running Bitcoin' di tahun 2009, artinya sudah 17 tahun berlalu. Pada tahun itu bersamaan dengan peluncuran awal Bitcoin (BTC) oleh Satoshi Nakamoto.
Maksud dari ‘running Bitcoin’ adalah ia berhasil menginstall dan menjalankan software Bitcoin di komputernya. Hal ini menjadikan cuitan pertama yang membahas Bitcoin di X.
Pada tahun tersebut, kemunculan Bitcoin belum dilirik dunia dan nilainya nyaris tak berharga, Namun, Finney merupakan orang pertama yang melihat sesuatu yang luar biasa dan percaya pada aset ini.
Diketahui, Finney merupakan orang pertama yang menerima transaksi Bitcoin secara langsung dari sang pendirinya Satoshi Nakamoto. Sehingga, dirinya diduga sebagai Satoshi yang asli.
Selain itu, Finney meyakini Bitcoin akan menjadi mata uang global yang hidup berdampingan dengan fiat. Hal itu membuatnya aset tersebut nilainya akan naik hingga US$10 juta per koin atau Rp165 miliar.
Kini, tak terasa sudah 17 tahun Bitcoin hadir sebagai aset digital yang telah tumbuh pesat dan melalui banyak peristiwa besar sejak peluncurannya. $BTC $ETH $SOL
**El Salvador Pasang Instalasi di Bandara Bertuliskan "Selamat Datang di Negara Bitcoin"**
Bandara Monseñor Óscar Arnulfo Romero di El Salvador diramaikan dengan sebuah instalasi bertuliskan “Welcome to Bitcoin Country”. Monumen tersebut diramaikan dengan logo Bitcoin (BTC) di atasnya.
Tak hanya itu, di sekitar monumen, terdapat layar digital yang menampilkan informasi real-time tentang kepemilikan Bitcoin El Salvador, yang saat ini mencapai 7.524 Bitcoin setara US$698 juta.
Monumen tersebut ramai diperbincangkan di media sosial X. Beberapa netizen yang berada di sana, diketahui mengambil gambar hingga berswafoto dengan monumen tersebut.
Selain itu, berdiri monumen Bitcoin di bandara menunjukkan komitmen Presiden El Salvador Nayib Bukele yang berkomitmen penuh all-in di Bitcoin dan kecerdasan buatan (AI) sebagai pilar strategi nasional. $BTC $ETH $SOL
**Bitcoin Keok ke US$89.000, Buat US$180 Juta Posisi Long Terlikuidasi**
Bitcoin turun ke US$89.000 atau 0,41% dalam 24 jam terakhir, Jumat (09/01) sore. Penurunan ini memicu 96.294 trader terlikuidasi dengan posisi long di US$180 juta atau Rp3 triliun posisi long lenyap di waktu yang sama, menurut CoinGlass.
Katalis penurunan kali ini terjadi usai arus keluar (outflow) exchange-traded fund (ETF) Bitcoin selama 3 hari berturut-turut sejak Selasa, (06/01) mencapai US$1,12 miliar, menurut SoSoValue.
Lebih lanjut, pada gabungan outflow 6 Januari hingga 8 Januari, Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) pimpin outflow sebesar US$679 juta, sementara itu iShares Bitcoin Trust ETF (IBIT) milik BlackRock sekitar US$323 juta.
*Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).* $BTC $ETH $SOL
**Ahli Ungkap Harga Bitcoin Bisa Naik Jika AS Sita Bitcoin Milik Venezuela**
Reporter Crypto Senior CNBC MacKenzie Sigalos menyebut pasokan Bitcoin bisa terkunci sementara waktu, jika Amerika Serikat (AS) berhasil menyita Bitcoin milik Venezuela.
Jika terjadi, Bitcoin itu kemungkinan besar akan ditransfer ke cadangan strategis AS dan tidak akan dijual, sesuai janji Trump ketika kampanye. Pasokan ini dapat menghilang dari pasar, sehingga mendukung harga dalam jangka panjang.
“Jika AS menyita koin-koin tersebut sebagai cadangan strategisnya sendiri, maka kemungkinan besar sejumlah besar $BTC akan terkunci selama bertahun-tahun,” ujar Sigalos.
Sebagai informasi, Venezuela diduga punya sekitar 600 ribu-660 ribu Bitcoin bernilai US$67 miliar. Namun, aset digital yang dimaksud masih belum diketahui, apakah milik Venezuela atau milik Presiden Maduro.
Pasalnya, melansir Bitcoin Treasuries, Venezuela hanya tercatat memiliki 240 Bitcoin. Sementara kabarnya, ratusan ribu Bitcoin yang dimaksud merupakan milik Maduro selama menjabat sebagai presiden. $ETH $SOL
**Diam-diam Penambang Ini Malah Jual Ribuan Bitcoin Sejak November 2025**
Riot Platforms, penambang Bitcoin $BTC asal Amerika Serikat, terlacak menjual 383 koin sepanjang November dan 1.818 koin di Desember 2025. Artinya, mereka menjual 2.201 koin atau sekitar US$200 juta, hingga mengurangi kepemilikan menjadi 18.005 koin.
Kepala riset aset digital VanEck Matthew Sigel pun menyoroti penjualan besar-besaran Bitcoin Riot tersebut, di mana jumlah itu cukup untuk pengembangan pusat data AI pada 2026-2027.
Bahkan, dalam pantauan redaksi Akademi Crypto, Riot menyisakan 8.111 Bitcoin senilai US$751 juta, melansir Arkham Intelligence, Rabu (07/01). Artinya, Riot terus mengurangi eksposur di Bitcoin.
*Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).*
**Bitcoin Diakui sebagai Aset yang Lebih Aman dan Stabil**
CEO Capital Management Anthony Pompliano mengatakan Bitcoin ($BTC ) saat ini jauh lebih aman dan cenderung stabil. Hal ini berdasarkan perjalanan sejarah Bitcoin yang dihadapi beberapa peristiwa buruk.
"Bitcoin jauh lebih aman saat ini daripada di titik mana pun dalam sejarah aset ini," ucapnya, melansir akun X miliknya.
Menurutnya, Bitcoin telah melewati berbagai peristiwa dan situasi ekonomi yang mampu bertahan tanpa harganya jatuh hingga nol. Faktanya, saat krisis likuiditas pandemi Covid-19 tahun 2020, justru aset ini tumbuh hingga 303% di akhir tahun itu, menurut data SlickCharts.
Lalu, peristiwa keruntuhan FTX di tahun 2022 yang mengguncang pasar crypto. Aset tersebut memang mengalami penurunan sekitar 64% selama tahun tersebut.
Akan tetapi, di tahun 2023 pasca Covid-19 The Federal Reserve (The Fed) mendadak menaikan suku bunga dengan cepat dalam sejarahnya. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap Bitcoin, namun faktanya aset ini justru tumbuh mencapai 155%.
Dengan demikian, peristiwa-peristiwa besar yang terjadi selama perjalanan Bitcoin hingga kini, mencerminkan ketahanan aset tersebut di berbagai situasi ekonomi.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
**Gimana Caranya Bitcoin Selamatkan Taman Nasional Afrika yang Nyaris Bangkrut?**
Pada September 2020, Taman Nasional Virunga di Afrika Timur yang hampir bangkrut memulai penambangan Bitcoin ($BTC ) agar tetap beroperasi. Adapun, kebun binatang ini jadi salah satu yang tertua di Afrika.
Perlu diketahui, Taman Nasional Virunga hampir bangkrut akibat sejak 2018, wabah Covid-19 dan Ebola yang merebak membuat pendapatan pariwisata menurun. Lalu, tambang Bitcoin pun memanfaatkan kelebihan energi hidro dari pembangkit listrik bertenaga air di taman.
Direktur Taman Nasional Virunga Emmanuel de Merode pun mengakui bahwa penambangan Bitcoin adalah solusi inovatif hingga menjadi sumber pendapatan utamanya untuk pemeliharaan taman tersebut. Serta, penambangan aset crypto menciptakan model yang menginspirasi untuk cagar alam di dunia.
*Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).*
**Features | Giliran AI Milik Elon Musk Sebut Petinggi Ripple $XRP Sebagai Satoshi Nakamoto**
Platform AI besutan Elon Musk, Grok, kembali memanaskan misteri pencipta Bitcoin dengan menyebut petinggi Ripple sebagai Satoshi Nakamoto.
Isu ini mencuat setelah seorang validator XRP Ledger, Vet, menantang Grok lewat unggahan gambar tokoh-tokoh yang kerap dikaitkan dengan identitas Satoshi.
Dalam gambar tersebut, terdapat David Schwartz, Hal Finney, Nick Szabo, dan Dan Kaminsky yang selama ini sering masuk radar.
Namun, Grok justru “menyingkirkan” tiga nama dan hanya menyisakan David Schwartz, sosok yang dikenal sebagai Chief Technology Officer Ripple. Respons tersebut langsung memicu perdebatan di komunitas crypto, hingga Vet mempertanyakan alasan di balik pilihan Grok.
Menanggapi itu, Grok menegaskan kesimpulannya bukan kepastian, melainkan berdasar narasi lama seputar latar belakang kriptografi Schwartz dan kiprahnya di dunia sistem terdistribusi.
Meski begitu, Schwartz sendiri sudah berulang kali membantah sebagai Satoshi dan mengaku baru mengenal Bitcoin pada 2011.
Kendati demikian, sorotan publik, jejak karier, dan spekulasi yang terus beredar membuat namanya tetap sulit lepas dari teori pencipta Bitcoin hingga saat ini.
**Bank Amerika Ini Sarankan Investor untuk Alokasikan 4% Portofolio ke Bitcoin**
Menurut Kepala Investasi Private Bank di Bank Of America (BofA) Chris Hyzy menyarankan alokasi 1-4% portofolio untuk Bitcoin ($BTC ). Hal ini guna mendapat eksposur terkait aset digital.
"Bagi investor yang sangat tertarik pada inovasi tematik dan nyaman dengan volatilitas yang tinggi, alokasi moderat sebesar 1% hingga 4% dalam aset digital bisa jadi tepat," ucapnya, melansir unggahan video Yahoo Finance.
Ia menambahkan, alokasi dengan persenan yang rendah mungkin lebih cocok bagi profil risiko investor konservatif. Sedangkan, pada persenan yang lebih tinggi cocok bagi investor yang punya toleransi terhadap risiko besar.
Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa menjadi acuan. Sebab, setiap orang mempunyai profil risiko dan strategi masing-masing.
Sebagai informasi, pernyataan ini muncul usai Office of the Comptroller of the Currency (OCC) merilis Interpretive Letter 1188 berisi aturan yang memperbolehkan bank nasional menjembatani transaksi crypto.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
**Bitcoin Rebound ke US$94.000, Buat Rp7 Triliun Posisi Short Lenyap Terlikuidasi**
Bitcoin rebound ke harga US$94.000 atau 3,2%, menurut CoinMarketCap, Selasa (06/01) pagi. Namun, kenaikan kali ini pun membuat posisi shorts Bitcoin senilai US$436 juta atau sekitar Rp7 triliun posisi shorts terlikuidasi.
Kenaikan aset digital terbesar itu juga membuat altcoin berterbangan. Dengan, Ethereum ($ETH ) dan $XRP , $BNB yang sempat anjlok puluhan persen kini masing-masing dibanderol US$3.273, US$2.33 dan US$911.
Adapun katalis kenaikan Bitcoin kali ini terjadi di tengah isu kandidat pro-crypto akan maju menggantikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Selain itu, whale era Satoshi baru saja membeli 7.658 Bitcoin senilai US$710 juta di hari yang sama.
*Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR).*