Binance Square

BeInCrypto ID

image
Créateur vérifié
🌍 Berita terkini & analisis tak memihak dalam 26 bahasa!
0 Suivis
1.0K+ Abonnés
1.0K+ J’aime
60 Partagé(s)
Tout le contenu
--
Bitcoin Reli ke Atas US$93.000 setelah Rilis CPI AS: Apakah Pasar Bull Mulai Kembali Perlahan?Bitcoin naik kembali di atas US$93.000 pada hari Senin setelah data inflasi AS terbaru menunjukkan tekanan harga tetap terkendali. Pergerakan ini mengindikasikan selera risiko mulai kembali setelah berminggu-minggu penjualan yang dipicu oleh ETF. Indeks Harga Konsumen menunjukkan inflasi naik dengan laju yang stabil tapi moderat. Harga-harga sudah tidak melonjak lagi, dan juga tidak anjlok. Keseimbangan ini mengurangi risiko kenaikan suku bunga baru dan mendukung aset yang diuntungkan dari likuiditas stabil, termasuk Bitcoin. Data CPI AS Redakan Pasar dan Dukung Aset Berisiko Laporan CPI menunjukkan inflasi melaju di kisaran 2,7% secara tahunan. Itu berarti harga-harga masih naik, tapi jauh lebih lambat dibanding saat kejutan inflasi di tahun 2022 dan 2023. Bagi rumah tangga, ini berarti biaya hidup tetap tinggi, tapi kini tidak lagi naik dengan cepat. Bagi pasar, sinyal ini menunjukkan The Fed masih bisa mempertahankan suku bunga tanpa harus mengetatkan kebijakan lagi. Situasi ini biasanya mendukung aset berisiko. Ketika inflasi tidak mempercepat atau anjlok, investor jadi lebih nyaman menyimpan aset seperti saham dan aset kripto. Bitcoin langsung merespons. Setelah bertahan di kisaran US$90.000 pada awal hari, harganya naik karena data CPI menghapus kekhawatiran pengetatan moneter baru. Harga Bitcoin Meroket di Atas US$93.000 Setelah Data CPI AS | Sumber: CoinGecko Reli Bitcoin Mencerminkan Lebih dari Sekadar Pemulihan Ekonomi Makro Kenaikan dari CPI ini bukan terjadi sendirian. Hal ini muncul saat Bitcoin memang sedang stabil setelah penurunan tajam akibat aksi jual ETF. Pada Januari lalu, lebih dari US$6.000.000.000 keluar dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot AS. Penjualan tersebut terjadi dari investor yang membeli mendekati puncak harga di Oktober lalu dan terpaksa keluar saat harga turun. Meski demikian, arus keluar tersebut kini sudah melambat. Bitcoin sekarang bergerak mendekati harga rata-rata pembelian ETF di sekitar US$86.000. Level ini sering menjadi support setelah holder yang lemah sudah keluar. Pembelian dari AS, diukur melalui Indeks Premium Coinbase, masih lemah. Hal ini menunjukkan institusi belum kembali setelah aksi jual ETF berakhir. Tetapi Bitcoin tetap bertahan di kisarannya walaupun pasokan besar mengalir ke exchange. Artinya, pembeli global mampu menyerap Bitcoin yang dilepas ETF. Arus Bersih Bitcoin ke Exchange Secara Total | Sumber: CryptoQuant Jalan Menuju US$100.000 dalam Waktu Dekat? Saat ini Bitcoin sedang membentuk support di kisaran US$88.000 hingga US$92.000. Data CPI menghapus risiko makroekonomi utama, sedangkan data on-chain dan ETF memperlihatkan fase reset sudah berjalan cukup jauh. Apabila arus ETF stabil dan pembeli dari AS kembali, Bitcoin bisa saja menembus US$95.000 dalam waktu dekat. Jika permintaan terus membaik, peluang kembali ke kisaran US$100.000 semakin besar di kuartal ini. Untuk saat ini, laporan CPI hari ini memperkuat keyakinan bahwa Bitcoin hanya sedang jeda sebelum naik lagi, bukan awal dari bear market baru.

Bitcoin Reli ke Atas US$93.000 setelah Rilis CPI AS: Apakah Pasar Bull Mulai Kembali Perlahan?

Bitcoin naik kembali di atas US$93.000 pada hari Senin setelah data inflasi AS terbaru menunjukkan tekanan harga tetap terkendali. Pergerakan ini mengindikasikan selera risiko mulai kembali setelah berminggu-minggu penjualan yang dipicu oleh ETF.

Indeks Harga Konsumen menunjukkan inflasi naik dengan laju yang stabil tapi moderat. Harga-harga sudah tidak melonjak lagi, dan juga tidak anjlok. Keseimbangan ini mengurangi risiko kenaikan suku bunga baru dan mendukung aset yang diuntungkan dari likuiditas stabil, termasuk Bitcoin.

Data CPI AS Redakan Pasar dan Dukung Aset Berisiko

Laporan CPI menunjukkan inflasi melaju di kisaran 2,7% secara tahunan. Itu berarti harga-harga masih naik, tapi jauh lebih lambat dibanding saat kejutan inflasi di tahun 2022 dan 2023.

Bagi rumah tangga, ini berarti biaya hidup tetap tinggi, tapi kini tidak lagi naik dengan cepat.

Bagi pasar, sinyal ini menunjukkan The Fed masih bisa mempertahankan suku bunga tanpa harus mengetatkan kebijakan lagi.

Situasi ini biasanya mendukung aset berisiko. Ketika inflasi tidak mempercepat atau anjlok, investor jadi lebih nyaman menyimpan aset seperti saham dan aset kripto.

Bitcoin langsung merespons. Setelah bertahan di kisaran US$90.000 pada awal hari, harganya naik karena data CPI menghapus kekhawatiran pengetatan moneter baru.

Harga Bitcoin Meroket di Atas US$93.000 Setelah Data CPI AS | Sumber: CoinGecko Reli Bitcoin Mencerminkan Lebih dari Sekadar Pemulihan Ekonomi Makro

Kenaikan dari CPI ini bukan terjadi sendirian. Hal ini muncul saat Bitcoin memang sedang stabil setelah penurunan tajam akibat aksi jual ETF.

Pada Januari lalu, lebih dari US$6.000.000.000 keluar dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot AS. Penjualan tersebut terjadi dari investor yang membeli mendekati puncak harga di Oktober lalu dan terpaksa keluar saat harga turun.

Meski demikian, arus keluar tersebut kini sudah melambat. Bitcoin sekarang bergerak mendekati harga rata-rata pembelian ETF di sekitar US$86.000. Level ini sering menjadi support setelah holder yang lemah sudah keluar.

Pembelian dari AS, diukur melalui Indeks Premium Coinbase, masih lemah. Hal ini menunjukkan institusi belum kembali setelah aksi jual ETF berakhir.

Tetapi Bitcoin tetap bertahan di kisarannya walaupun pasokan besar mengalir ke exchange. Artinya, pembeli global mampu menyerap Bitcoin yang dilepas ETF.

Arus Bersih Bitcoin ke Exchange Secara Total | Sumber: CryptoQuant Jalan Menuju US$100.000 dalam Waktu Dekat?

Saat ini Bitcoin sedang membentuk support di kisaran US$88.000 hingga US$92.000. Data CPI menghapus risiko makroekonomi utama, sedangkan data on-chain dan ETF memperlihatkan fase reset sudah berjalan cukup jauh.

Apabila arus ETF stabil dan pembeli dari AS kembali, Bitcoin bisa saja menembus US$95.000 dalam waktu dekat. Jika permintaan terus membaik, peluang kembali ke kisaran US$100.000 semakin besar di kuartal ini.

Untuk saat ini, laporan CPI hari ini memperkuat keyakinan bahwa Bitcoin hanya sedang jeda sebelum naik lagi, bukan awal dari bear market baru.
Breakout Onyxcoin Lagi Sedang Terjadi saat Tekanan Jual Turun 90%? Chart Menunjukkan JalurnyaPergerakan harga Onyxcoin kini memasuki situasi tegang antara bulls dan bears. Setelah reli lebih dari 70% selama sebulan terakhir, XCN terkoreksi hampir 40% dari level tertingginya di Januari, menghapus sebagian besar kenaikan mingguan dan turun sekitar 7% dalam 24 jam terakhir. Tapi meski terjadi koreksi, struktur besarnya belum rusak. Yang membuat momen ini menarik adalah apa yang terjadi di bawah permukaan. Tekanan jual sudah anjlok, whale mulai kembali akumulasi, dan harga masih bertahan di level tren kunci. Sekarang, pertanyaannya sederhana: apakah setup ini akan mendorong breakout lagi, atau justru keraguan ini berubah jadi koreksi yang lebih dalam? Falling Wedge Masih Bertahan, tapi Momentum Bullish Sedang Diuji Di grafik 12 jam, Onyxcoin masih bergerak dalam pola falling wedge. Falling wedge terbentuk saat harga membentuk lower high dan lower low di antara garis tren yang saling mendekat, dan biasanya merupakan pola lanjutan bullish. Jika terkonfirmasi, pola ini sering berakhir dengan pergerakan tajam ke atas; kali ini mengarah ke potensi breakout sebesar 38%. Namun, momentum mulai melemah di dekat batas atas wedge. Bull–bear power, yang mengukur siapa yang mendominasi pergerakan harga jangka pendek antara pembeli dan penjual, masih positif namun sudah mulai memudar karena harga terus-menerus menguji resistance. Sejak 11 Januari, XCN sudah beberapa kali ditolak di dekat garis tren atas, inilah sebabnya reli terhenti dan kenaikan mingguan hilang. Struktur Harga Onyxcoin Bullish | Sumber: TradingView Mau insight token seperti ini? Langganan Newsletter Harian Crypto dari Editor Harsh Notariya di sini. Hal ini membuat pola tetap valid meskipun agak melemah. Bulls masih mengendalikan struktur, tetapi mereka butuh dukungan dari arus dan posisi untuk memaksa breakout. Whale Kembali Akumulasi saat Tekanan Jual Menurun Data on-chain memperlihatkan mengapa tekanan turun mulai mereda. Antara 11 dan 12 Januari, wallet besar sempat mengurangi eksposur, dengan kepemilikan whale turun dari sekitar 42,63 miliar XCN menjadi 42,49 miliar. Distribusi ini sangat bertepatan dengan penolakan di garis tren. Setelah momen itu, perilaku berubah total. Dalam 24 jam terakhir, whale kembali menambah kepemilikan menjadi sekitar 42,53 miliar XCN, menandakan akumulasi kembali di dekat support, bukan distribusi berlanjut. Whale Kembali Akumulasi XCN | Sumber: Santiment Data arus exchange bahkan lebih penting lagi. Inflow harian ke exchange, yang memantau berapa banyak token yang masuk ke exchange dan biasanya menjadi indikasi tekanan jual, telah anjlok drastis. Inflow turun dari sekitar 440 juta XCN menjadi hanya 33 juta dalam dua hari. Penurunan lebih dari 90% ini menunjukkan potensi tekanan jual sudah mengering tajam. Arus Masuk Exchange Turun Tajam | Sumber: Santiment Penurunan ini juga terjadi bahkan saat whale sempat melakukan aksi jual, yang berarti penjualan dari investor ritel tidak pernah melonjak. Karena makin sedikit token masuk ke exchange, pasar makin terlihat siap untuk ekspansi harga XCN daripada jatuh semakin dalam. Level Harga Onyxcoin yang Menentukan Breakout 38%? Penentuan akhir kini bergantung pada harga. Harga Onyxcoin masih diperdagangkan di atas exponential moving average (EMA) kunci. EMA memberi bobot lebih pada harga terakhir dan membantu mengenali arah tren. Di grafik 12 jam, XCN masih di atas 20-EMA, sedangkan 50-EMA mulai mendekati 200-EMA sehingga berpotensi membentuk golden crossover jika harga mampu bertahan. Bagi bulls, pemicu pertama berada di dekat US$0,0093. Jika harga menembus level ini, artinya ada upaya breakout jelas dari wedge. Konfirmasi kuat muncul jika harga naik di atas US$0,0098, yang akan membuka jalan menuju target di kisaran US$0,0124, alias sekitar 38% lebih tinggi. Analisis Harga Onyxcoin | Sumber: TradingView Risiko sudah jelas dan terukur. Jika 20-EMA kehilangan support, lalu harga menembus di bawah US$0,0077, maka setup bullish akan batal dan potensi penurunan bisa terbuka lebih dalam, bahkan sampai area US$0,0041 jika kondisi pasar makin lemah. Saat ini setup masih seimbang. Tekanan jual sudah mereda drastis, whale kembali di posisi beli, dan strukturnya masih bullish. Apakah harga Onyxcoin bisa mengubah kondisi ini jadi breakout lagi, hanya bergantung pada satu hal: bulls harus merebut kembali resistance sebelum momentum makin melemah.

Breakout Onyxcoin Lagi Sedang Terjadi saat Tekanan Jual Turun 90%? Chart Menunjukkan Jalurnya

Pergerakan harga Onyxcoin kini memasuki situasi tegang antara bulls dan bears. Setelah reli lebih dari 70% selama sebulan terakhir, XCN terkoreksi hampir 40% dari level tertingginya di Januari, menghapus sebagian besar kenaikan mingguan dan turun sekitar 7% dalam 24 jam terakhir. Tapi meski terjadi koreksi, struktur besarnya belum rusak.

Yang membuat momen ini menarik adalah apa yang terjadi di bawah permukaan. Tekanan jual sudah anjlok, whale mulai kembali akumulasi, dan harga masih bertahan di level tren kunci. Sekarang, pertanyaannya sederhana: apakah setup ini akan mendorong breakout lagi, atau justru keraguan ini berubah jadi koreksi yang lebih dalam?

Falling Wedge Masih Bertahan, tapi Momentum Bullish Sedang Diuji

Di grafik 12 jam, Onyxcoin masih bergerak dalam pola falling wedge. Falling wedge terbentuk saat harga membentuk lower high dan lower low di antara garis tren yang saling mendekat, dan biasanya merupakan pola lanjutan bullish. Jika terkonfirmasi, pola ini sering berakhir dengan pergerakan tajam ke atas; kali ini mengarah ke potensi breakout sebesar 38%.

Namun, momentum mulai melemah di dekat batas atas wedge. Bull–bear power, yang mengukur siapa yang mendominasi pergerakan harga jangka pendek antara pembeli dan penjual, masih positif namun sudah mulai memudar karena harga terus-menerus menguji resistance. Sejak 11 Januari, XCN sudah beberapa kali ditolak di dekat garis tren atas, inilah sebabnya reli terhenti dan kenaikan mingguan hilang.

Struktur Harga Onyxcoin Bullish | Sumber: TradingView

Mau insight token seperti ini? Langganan Newsletter Harian Crypto dari Editor Harsh Notariya di sini.

Hal ini membuat pola tetap valid meskipun agak melemah. Bulls masih mengendalikan struktur, tetapi mereka butuh dukungan dari arus dan posisi untuk memaksa breakout.

Whale Kembali Akumulasi saat Tekanan Jual Menurun

Data on-chain memperlihatkan mengapa tekanan turun mulai mereda. Antara 11 dan 12 Januari, wallet besar sempat mengurangi eksposur, dengan kepemilikan whale turun dari sekitar 42,63 miliar XCN menjadi 42,49 miliar. Distribusi ini sangat bertepatan dengan penolakan di garis tren.

Setelah momen itu, perilaku berubah total. Dalam 24 jam terakhir, whale kembali menambah kepemilikan menjadi sekitar 42,53 miliar XCN, menandakan akumulasi kembali di dekat support, bukan distribusi berlanjut.

Whale Kembali Akumulasi XCN | Sumber: Santiment

Data arus exchange bahkan lebih penting lagi. Inflow harian ke exchange, yang memantau berapa banyak token yang masuk ke exchange dan biasanya menjadi indikasi tekanan jual, telah anjlok drastis. Inflow turun dari sekitar 440 juta XCN menjadi hanya 33 juta dalam dua hari. Penurunan lebih dari 90% ini menunjukkan potensi tekanan jual sudah mengering tajam.

Arus Masuk Exchange Turun Tajam | Sumber: Santiment

Penurunan ini juga terjadi bahkan saat whale sempat melakukan aksi jual, yang berarti penjualan dari investor ritel tidak pernah melonjak. Karena makin sedikit token masuk ke exchange, pasar makin terlihat siap untuk ekspansi harga XCN daripada jatuh semakin dalam.

Level Harga Onyxcoin yang Menentukan Breakout 38%?

Penentuan akhir kini bergantung pada harga. Harga Onyxcoin masih diperdagangkan di atas exponential moving average (EMA) kunci. EMA memberi bobot lebih pada harga terakhir dan membantu mengenali arah tren. Di grafik 12 jam, XCN masih di atas 20-EMA, sedangkan 50-EMA mulai mendekati 200-EMA sehingga berpotensi membentuk golden crossover jika harga mampu bertahan.

Bagi bulls, pemicu pertama berada di dekat US$0,0093. Jika harga menembus level ini, artinya ada upaya breakout jelas dari wedge. Konfirmasi kuat muncul jika harga naik di atas US$0,0098, yang akan membuka jalan menuju target di kisaran US$0,0124, alias sekitar 38% lebih tinggi.

Analisis Harga Onyxcoin | Sumber: TradingView

Risiko sudah jelas dan terukur. Jika 20-EMA kehilangan support, lalu harga menembus di bawah US$0,0077, maka setup bullish akan batal dan potensi penurunan bisa terbuka lebih dalam, bahkan sampai area US$0,0041 jika kondisi pasar makin lemah.

Saat ini setup masih seimbang. Tekanan jual sudah mereda drastis, whale kembali di posisi beli, dan strukturnya masih bullish. Apakah harga Onyxcoin bisa mengubah kondisi ini jadi breakout lagi, hanya bergantung pada satu hal: bulls harus merebut kembali resistance sebelum momentum makin melemah.
Pemungutan Suara Pemegang Saham BitMine Bisa Tentukan Masa Depan Ethereum Treasuries | Berita Kri...Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing—ringkasan penting seputar perkembangan dunia aset kripto paling utama untuk hari ini. Siapkan kopi Anda, duduklah dengan santai, dan jangan lupa cek kalender. Sebab, besok malam, ada sesuatu yang besar tengah disiapkan diam-diam di dunia kripto. Satu suara saja bisa memicu kekacauan atau menyalakan api perubahan yang selama ini hanya dibicarakan orang secara bisik-bisik. Berita Kripto Hari Ini: Investor Ethereum Sedang Memantau Pemungutan Suara Pemegang Saham BitMine Menjelang tengah malam pada 14 Januari 2026, seluruh perhatian tertuju pada satu pemungutan suara penting oleh pemegang saham yang berpotensi mengubah masa depan Ethereum (ETH) dan pendukung korporasi terbesarnya, BitMine Immersion Technologies (BMNR). BitMine, yang dipimpin oleh analis ternama Tom Lee dari Fundstrat, secara agresif menempatkan diri sebagai perbendaharaan Ethereum publik terbesar di dunia. Per 11 Januari, perusahaan ini memegang 4,07 juta ETH, sekitar 3,36% dari total suplai, dengan 1,256 juta ETH sudah di-staking. Ini menghasilkan pendapatan pasif yang besar lewat operasional validator yang terus berkembang. Kepemilikan ETH Bitmine | Sumber: StrategicETHReserve.xyz Perusahaan ini baru-baru ini menambah puluhan ribu ETH hanya dalam beberapa minggu terakhir, menegaskan strategi akumulasi agresif mereka demi mencapai kepemilikan 5% dari suplai ETH. Peristiwa penting tersebut adalah tenggat waktu bagi pemegang saham untuk menyetujui Proposal 2, yang bertujuan menambah saham beredar dari 500 juta menjadi sangat besar, yaitu 50 miliar. Manajemen, dipimpin oleh Tom Lee, berargumen bahwa ekspansi satu kali ini adalah langkah wajib demi menghindari keterbatasan pertumbuhan. Jika tidak disetujui, kemampuan BitMine untuk menerbitkan saham baru guna membeli lebih banyak ETH akan terhenti saat batas yang ada sudah tercapai. Hal ini berpotensi menghentikan akuisisi, merger, serta model pembangunan treasury utamanya. Lee menekankan bahwa perusahaan ini tidak pernah menerbitkan saham di bawah 1,0x modified net asset value (mNAV), sehingga langkah ini dianggap menguntungkan nilai pemegang saham untuk jangka panjang. Kegagalan memperoleh mayoritas 50,1% bisa menyebabkan penundaan, sidang ulang, bahkan bulan-bulan penuh ketidakpastian. Kondisi seperti ini pernah menimpa perbendaharaan aset digital lain seperti Bit Digital (BTBT). Analis memperingatkan bahwa suara “tidak setuju” sama saja membekukan pertumbuhan, karena perusahaan hanya akan mengandalkan simpanan kas sekitar US$988 juta untuk akuisisi. 15 Januari Jadi Momen Penentu untuk Ethereum Selain itu, 15 Januari akan menjadi titik pertemuan banyak katalis. Rapat tahunan pemegang saham BitMine di Wynn Las Vegas akan mengikuti pemungutan suara, serta akan menghadirkan pembaruan tentang Made in America Validator Network (MAVAN) dan kemungkinan strategi setelah pemungutan suara seperti pembelian ETH di pasar terbuka. Pada saat yang sama, Komite Perbankan Senat AS dijadwalkan untuk membahas Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act). RUU bipartisan ini bisa membawa kejelasan regulasi yang selama ini dinanti, menargetkan manipulasi harga, mengharuskan bukti cadangan, dan membuka peluang adopsi institusi lebih luas terhadap altcoin seperti Ethereum. Fundamental on-chain Ethereum makin memperkuat antisipasi. Antrean keluar staking sempat nol (pertama kalinya sejak pertengahan 2025), namun kini sudah naik ke 512 antrean. Hal yang sama juga terjadi dengan saldo ETH di exchange yang berada pada level terendah dalam 10 tahun. Aliran dana institusi, termasuk dari ETF dan treasury seperti BitMine, terus mengunci suplai ETH. Saat ETH diperdagangkan di kisaran US$3.129 pada waktu publikasi, kondisi ini adalah contoh klasik sebuah setup squeeze: tekanan jual menurun bertemu permintaan yang naik akibat staking dan narasi adopsi seputar stablecoin, tokenisasi, dan aset dunia nyata. Saham BMNR, yang diperdagangkan seharga US$31,13 pada waktu publikasi, ditransaksikan sekitar 1,0x mNAV sehingga dipandang sebagai eksposur ETH dengan leverage. Jika Proposal itu disetujui, efek refleksifitas dapat terjadi—ETH naik, nilai treasury BitMine menanjak, memungkinkan pembelian makin agresif, dan mendorong kenaikan lebih lanjut. Di sisi lain, para skeptis menganggap permintaan penerbitan 50 miliar saham berisiko dilusi sangat tinggi, meski sejumlah pengkritik akhirnya mendukung suara “ya” agar perusahaan tidak stagnan. Dengan Lee yang memberikan kode-kode misterius dan pasar kripto yang mulai menunjukkan kekuatan baru, tanggal 14 dan 15 Januari menjadi momen penentu segalanya. Jika Proposal lolos, ini bisa jadi pemicu reli besar di ETH dan BMNR. Tapi jika ditolak, “crypto whale korporasi terbesar” di ekosistem Ethereum bisa saja lumpuh selama berbulan-bulan. Kondisi ini juga berpotensi menjadi kemunduran besar untuk narasi adopsi institusional kripto secara lebih luas di tahun 2026. Chart of the Day Performa Harga Ethereum | Sumber: BeInCrypto Byte-Sized Alpha Berikut rangkuman berita kripto AS yang perlu kamu pantau hari ini: Columbia Business School membantah 5 mitos stablecoin yang menghambat reformasi kripto di AS. Bitcoin kembali bidik US$95.000 seiring stres pasar yang terus mereda. Berikut yang harus terjadi agar harga perak bisa mencapai US$100 pada 2026. Token NYC milik Eric Adams mendapat sorotan setelah perpindahan likuiditas menimbulkan isu rug pull. Senat AS memberikan keuntungan bagi bank karena RUU kripto membatasi imbal hasil pasif stablecoin. Ethereum menghadapi resistance utama di 2026, namun arus masuk ETF ETH sebesar US$5,04 juta memberikan harapan. CME bersiap menghadapi potensi tekanan pada emas dan perak dengan aturan margin baru. Gambaran Umum Pre-Market Crypto Equities PerusahaanPenutupan per 12 JanuariOverview Pre-MarketStrategy (MSTR)US$162,23US$163,26 (+0,63%)Coinbase (COIN)US$242,98US$244,25 (+0,52%)Galaxy Digital Holdings (GLXY)US$25,49US$25,53 (+0,16%)MARA Holdings (MARA)US$10,65US$10,72 (+0,67%)Riot Platforms (RIOT)US$16,45US$16,58 (+0,79%)Core Scientific (CORZ)US$17,48US$17,52 (+0,23%) Persaingan pembukaan pasar ekuitas kripto: Google Finance

Pemungutan Suara Pemegang Saham BitMine Bisa Tentukan Masa Depan Ethereum Treasuries | Berita Kri...

Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing—ringkasan penting seputar perkembangan dunia aset kripto paling utama untuk hari ini.

Siapkan kopi Anda, duduklah dengan santai, dan jangan lupa cek kalender. Sebab, besok malam, ada sesuatu yang besar tengah disiapkan diam-diam di dunia kripto. Satu suara saja bisa memicu kekacauan atau menyalakan api perubahan yang selama ini hanya dibicarakan orang secara bisik-bisik.

Berita Kripto Hari Ini: Investor Ethereum Sedang Memantau Pemungutan Suara Pemegang Saham BitMine

Menjelang tengah malam pada 14 Januari 2026, seluruh perhatian tertuju pada satu pemungutan suara penting oleh pemegang saham yang berpotensi mengubah masa depan Ethereum (ETH) dan pendukung korporasi terbesarnya, BitMine Immersion Technologies (BMNR).

BitMine, yang dipimpin oleh analis ternama Tom Lee dari Fundstrat, secara agresif menempatkan diri sebagai perbendaharaan Ethereum publik terbesar di dunia.

Per 11 Januari, perusahaan ini memegang 4,07 juta ETH, sekitar 3,36% dari total suplai, dengan 1,256 juta ETH sudah di-staking. Ini menghasilkan pendapatan pasif yang besar lewat operasional validator yang terus berkembang.

Kepemilikan ETH Bitmine | Sumber: StrategicETHReserve.xyz

Perusahaan ini baru-baru ini menambah puluhan ribu ETH hanya dalam beberapa minggu terakhir, menegaskan strategi akumulasi agresif mereka demi mencapai kepemilikan 5% dari suplai ETH.

Peristiwa penting tersebut adalah tenggat waktu bagi pemegang saham untuk menyetujui Proposal 2, yang bertujuan menambah saham beredar dari 500 juta menjadi sangat besar, yaitu 50 miliar.

Manajemen, dipimpin oleh Tom Lee, berargumen bahwa ekspansi satu kali ini adalah langkah wajib demi menghindari keterbatasan pertumbuhan.

Jika tidak disetujui, kemampuan BitMine untuk menerbitkan saham baru guna membeli lebih banyak ETH akan terhenti saat batas yang ada sudah tercapai. Hal ini berpotensi menghentikan akuisisi, merger, serta model pembangunan treasury utamanya.

Lee menekankan bahwa perusahaan ini tidak pernah menerbitkan saham di bawah 1,0x modified net asset value (mNAV), sehingga langkah ini dianggap menguntungkan nilai pemegang saham untuk jangka panjang.

Kegagalan memperoleh mayoritas 50,1% bisa menyebabkan penundaan, sidang ulang, bahkan bulan-bulan penuh ketidakpastian. Kondisi seperti ini pernah menimpa perbendaharaan aset digital lain seperti Bit Digital (BTBT).

Analis memperingatkan bahwa suara “tidak setuju” sama saja membekukan pertumbuhan, karena perusahaan hanya akan mengandalkan simpanan kas sekitar US$988 juta untuk akuisisi.

15 Januari Jadi Momen Penentu untuk Ethereum

Selain itu, 15 Januari akan menjadi titik pertemuan banyak katalis. Rapat tahunan pemegang saham BitMine di Wynn Las Vegas akan mengikuti pemungutan suara, serta akan menghadirkan pembaruan tentang Made in America Validator Network (MAVAN) dan kemungkinan strategi setelah pemungutan suara seperti pembelian ETH di pasar terbuka.

Pada saat yang sama, Komite Perbankan Senat AS dijadwalkan untuk membahas Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act). RUU bipartisan ini bisa membawa kejelasan regulasi yang selama ini dinanti, menargetkan manipulasi harga, mengharuskan bukti cadangan, dan membuka peluang adopsi institusi lebih luas terhadap altcoin seperti Ethereum.

Fundamental on-chain Ethereum makin memperkuat antisipasi. Antrean keluar staking sempat nol (pertama kalinya sejak pertengahan 2025), namun kini sudah naik ke 512 antrean.

Hal yang sama juga terjadi dengan saldo ETH di exchange yang berada pada level terendah dalam 10 tahun. Aliran dana institusi, termasuk dari ETF dan treasury seperti BitMine, terus mengunci suplai ETH.

Saat ETH diperdagangkan di kisaran US$3.129 pada waktu publikasi, kondisi ini adalah contoh klasik sebuah setup squeeze: tekanan jual menurun bertemu permintaan yang naik akibat staking dan narasi adopsi seputar stablecoin, tokenisasi, dan aset dunia nyata.

Saham BMNR, yang diperdagangkan seharga US$31,13 pada waktu publikasi, ditransaksikan sekitar 1,0x mNAV sehingga dipandang sebagai eksposur ETH dengan leverage.

Jika Proposal itu disetujui, efek refleksifitas dapat terjadi—ETH naik, nilai treasury BitMine menanjak, memungkinkan pembelian makin agresif, dan mendorong kenaikan lebih lanjut.

Di sisi lain, para skeptis menganggap permintaan penerbitan 50 miliar saham berisiko dilusi sangat tinggi, meski sejumlah pengkritik akhirnya mendukung suara “ya” agar perusahaan tidak stagnan.

Dengan Lee yang memberikan kode-kode misterius dan pasar kripto yang mulai menunjukkan kekuatan baru, tanggal 14 dan 15 Januari menjadi momen penentu segalanya.

Jika Proposal lolos, ini bisa jadi pemicu reli besar di ETH dan BMNR. Tapi jika ditolak, “crypto whale korporasi terbesar” di ekosistem Ethereum bisa saja lumpuh selama berbulan-bulan. Kondisi ini juga berpotensi menjadi kemunduran besar untuk narasi adopsi institusional kripto secara lebih luas di tahun 2026.

Chart of the Day

Performa Harga Ethereum | Sumber: BeInCrypto Byte-Sized Alpha

Berikut rangkuman berita kripto AS yang perlu kamu pantau hari ini:

Columbia Business School membantah 5 mitos stablecoin yang menghambat reformasi kripto di AS.

Bitcoin kembali bidik US$95.000 seiring stres pasar yang terus mereda.

Berikut yang harus terjadi agar harga perak bisa mencapai US$100 pada 2026.

Token NYC milik Eric Adams mendapat sorotan setelah perpindahan likuiditas menimbulkan isu rug pull.

Senat AS memberikan keuntungan bagi bank karena RUU kripto membatasi imbal hasil pasif stablecoin.

Ethereum menghadapi resistance utama di 2026, namun arus masuk ETF ETH sebesar US$5,04 juta memberikan harapan.

CME bersiap menghadapi potensi tekanan pada emas dan perak dengan aturan margin baru.

Gambaran Umum Pre-Market Crypto Equities

PerusahaanPenutupan per 12 JanuariOverview Pre-MarketStrategy (MSTR)US$162,23US$163,26 (+0,63%)Coinbase (COIN)US$242,98US$244,25 (+0,52%)Galaxy Digital Holdings (GLXY)US$25,49US$25,53 (+0,16%)MARA Holdings (MARA)US$10,65US$10,72 (+0,67%)Riot Platforms (RIOT)US$16,45US$16,58 (+0,79%)Core Scientific (CORZ)US$17,48US$17,52 (+0,23%)

Persaingan pembukaan pasar ekuitas kripto: Google Finance
Data Core CPI AS Lebih Rendah dari Ekspektasi, Harga Perak Tembus ATH BaruBiro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Desember, yang menunjukkan inflasi naik secara tahunan sebesar 2,7%. Namun, sorotan utama pada Selasa (13/1) ini tertuju pada core CPI, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed). Bitcoin memang bereaksi, meski relatif ringan, sementara harga perak meroket ke puncak baru. Kendati begitu, sebagian analis mempertanyakan seberapa besar pengaruh data ekonomi makro terhadap pergerakan harga pasar saat ini. Data CPI AS: Inflasi Naik 2,7% YoY di Desember, Laporan CPI (Consumer Price Index) terbaru menunjukkan inflasi naik secara tahunan sebesar 2,7% di bulan Desember 2025, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namu, core CPI, yang memberikan gambaran tren inflasi mendasar, justru di bawah ekspektasi yakni 2,6%. Sesaat setelah laporan tersebut keluar, harga Bitcoin naik tipis untuk kembali melewati level US$92.000. Sementara itu, harga spot perak menembus US$87 per ons untuk pertama kalinya, naik lebih dari 21% sejak awal tahun. Walhasil, logam mulia ini semakin mendekati target US$100 yang para investor idamkan. Performa Harga Bitcoin (BTC) dan Silver (XAG) | Sumber: TradingView Kenaikan ini memang sudah diperkirakan sebab core inflation (inflasi inti) mengindikasikan tekanan inflasi mendasar mulai mereda. Hal itu membuat kekhawatiran akan kenaikan suku bunga agresif dari The Fed melandai, sehingga yield (imbal hasil) riil turun dan likuiditas meningkat, situasi yang biasanya mendorong investor untuk terjun ke aset berisiko seperti Bitcoin. Pada saat yang sama, perak juga meraih sentimen positif dari kondisi serupa. Inflasi yang melemah dan kemungkinan penundaan pengetatan moneter membuat daya tarik perak sebagai lindung nilai semakin kuat, sehingga terjadi reli secara bersamaan di kedua pasar tersebut. Peringatan Tarif Powell Melenceng, Manfaat Fiskal Lampaui Kekhawatiran Inflasi Bisa jadi, inilah alasan mengapa sebelum laporan CPI keluar, CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai kemungkinan 95% The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75%. Setelah laporan terbit, probabilitas itu tetap sama, dan kemungkinan pemotongan suku bunga hanya sebesar 5%. Probabilitas Pemangkasan Suku Bunga The Fed setelah CPI | Sumber: CME FedWatch Tool Laporan ini berpotensi berimbas ke keputusan suku bunga The Fed pada rapat berikutnya yang menurut jadwal bakal berlangsung 28 Januari 2026. “Menurut saya, ini menunjukkan betapa kelirunya Ketua Powell… ketika ia mengatakan di Economic Club bahwa inflasi akibat tarif impor akan menjadi masalah besar bagi The Fed — ternyata, itu tidak terjadi. Dan di sisi lain, tarif-tarif itu justru memperbaiki situasi fiskal kita,” komentar ekonom moneter Judy Shelton. Menjelang rilis CPI hari ini, analis Greeks.live menyoroti penurunan signifikan implied volatility (IV) aset kripto dibandingkan minggu lalu. Ini mengindikasikan para trader dan investor pada umumnya percaya data ekonomi makro tidak lagi memberi dampak signifikan ke pasar. Rebound yang terjadi awal bulan dan sempat mendorong pemullihan Skew juga disebut sudah berakhir, di mana Skew kembali turun seperti pada masa liburan. “Sentimen pasar masih cenderung lemah, bahkan momentum bullish pun sangat rapuh. Sedikit saja masalah muncul, investor langsung hengkang dari pasar,” tulis analis Greeks.live. Pandangan ini sejalan dengan pernyataan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon. Ia menilai bahwa pasar tidak memberi perhatian cukup pada faktor ekonomi makro maupun iklim geopolitik yang sewajarnya. Bagaimana pendapat Anda tentang core CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Data Core CPI AS Lebih Rendah dari Ekspektasi, Harga Perak Tembus ATH Baru

Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Desember, yang menunjukkan inflasi naik secara tahunan sebesar 2,7%. Namun, sorotan utama pada Selasa (13/1) ini tertuju pada core CPI, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed).

Bitcoin memang bereaksi, meski relatif ringan, sementara harga perak meroket ke puncak baru. Kendati begitu, sebagian analis mempertanyakan seberapa besar pengaruh data ekonomi makro terhadap pergerakan harga pasar saat ini.

Data CPI AS: Inflasi Naik 2,7% YoY di Desember,

Laporan CPI (Consumer Price Index) terbaru menunjukkan inflasi naik secara tahunan sebesar 2,7% di bulan Desember 2025, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namu, core CPI, yang memberikan gambaran tren inflasi mendasar, justru di bawah ekspektasi yakni 2,6%.

Sesaat setelah laporan tersebut keluar, harga Bitcoin naik tipis untuk kembali melewati level US$92.000. Sementara itu, harga spot perak menembus US$87 per ons untuk pertama kalinya, naik lebih dari 21% sejak awal tahun. Walhasil, logam mulia ini semakin mendekati target US$100 yang para investor idamkan.

Performa Harga Bitcoin (BTC) dan Silver (XAG) | Sumber: TradingView

Kenaikan ini memang sudah diperkirakan sebab core inflation (inflasi inti) mengindikasikan tekanan inflasi mendasar mulai mereda. Hal itu membuat kekhawatiran akan kenaikan suku bunga agresif dari The Fed melandai, sehingga yield (imbal hasil) riil turun dan likuiditas meningkat, situasi yang biasanya mendorong investor untuk terjun ke aset berisiko seperti Bitcoin.

Pada saat yang sama, perak juga meraih sentimen positif dari kondisi serupa. Inflasi yang melemah dan kemungkinan penundaan pengetatan moneter membuat daya tarik perak sebagai lindung nilai semakin kuat, sehingga terjadi reli secara bersamaan di kedua pasar tersebut.

Peringatan Tarif Powell Melenceng, Manfaat Fiskal Lampaui Kekhawatiran Inflasi

Bisa jadi, inilah alasan mengapa sebelum laporan CPI keluar, CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai kemungkinan 95% The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75%. Setelah laporan terbit, probabilitas itu tetap sama, dan kemungkinan pemotongan suku bunga hanya sebesar 5%.

Probabilitas Pemangkasan Suku Bunga The Fed setelah CPI | Sumber: CME FedWatch Tool

Laporan ini berpotensi berimbas ke keputusan suku bunga The Fed pada rapat berikutnya yang menurut jadwal bakal berlangsung 28 Januari 2026.

“Menurut saya, ini menunjukkan betapa kelirunya Ketua Powell… ketika ia mengatakan di Economic Club bahwa inflasi akibat tarif impor akan menjadi masalah besar bagi The Fed — ternyata, itu tidak terjadi. Dan di sisi lain, tarif-tarif itu justru memperbaiki situasi fiskal kita,” komentar ekonom moneter Judy Shelton.

Menjelang rilis CPI hari ini, analis Greeks.live menyoroti penurunan signifikan implied volatility (IV) aset kripto dibandingkan minggu lalu.

Ini mengindikasikan para trader dan investor pada umumnya percaya data ekonomi makro tidak lagi memberi dampak signifikan ke pasar.

Rebound yang terjadi awal bulan dan sempat mendorong pemullihan Skew juga disebut sudah berakhir, di mana Skew kembali turun seperti pada masa liburan.

“Sentimen pasar masih cenderung lemah, bahkan momentum bullish pun sangat rapuh. Sedikit saja masalah muncul, investor langsung hengkang dari pasar,” tulis analis Greeks.live.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon. Ia menilai bahwa pasar tidak memberi perhatian cukup pada faktor ekonomi makro maupun iklim geopolitik yang sewajarnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang core CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Harga Zcash Reli 16% — Bisakah Pembelian Whale Akhirnya Menaklukkan Risiko US$300?Zcash mengalami rebound jangka pendek, namun gambaran besarnya masih tetap belum jelas. setelah mencapai titik terendah lokal pada 10 Januari, harga Zcash naik sekitar 16%. Reli ini terjadi meskipun token tersebut masih turun lebih dari 20% selama sepekan dan kembali melemah dalam 24 jam terakhir. Di balik layar, data on-chain menunjukkan akumulasi agresif dari crypto whale. Pada saat yang sama, sinyal tren, arus di exchange, dan perilaku smart-money masih menunjukkan adanya risiko. Hal ini memunculkan konflik yang jelas: apakah rebound ini adalah awal pemulihan, atau hanya jeda sebelum harga kembali turun lebih jauh? Bullish Divergence dan Akumulasi Whale Jelaskan Reli Rebound ini bukan terjadi tanpa sebab. Antara 6 Desember hingga 10 Januari, Zcash membentuk hidden bullish RSI divergence. Harga Zcash mencetak higher low, sementara Relative Strength Index (RSI), indikator momentum yang mengukur kekuatan beli dan jual, menunjukkan lower low. Pola seperti ini sering menjadi tanda tekanan jual mulai melemah sebelum harga bereaksi naik. RSI Memberi Sinyal Rebound: TradingView Ingin wawasan token lain seperti ini? Daftar untuk menerima Daily Crypto Newsletter dari Editor Harsh Notariya di sini. Perilaku whale sejalan dengan sinyal tersebut. Dalam tujuh hari terakhir, para holder terbesar Zcash melakukan akumulasi besar-besaran. Wallet mega whale meningkatkan kepemilikan mereka sebesar 39,07%, sehingga jumlah ZEC yang mereka pegang mencapai 45.103 ZEC. Wallet whale yang lebih kecil juga menambah kepemilikan, naik 17,63% menjadi 10.405 ZEC. Jadi, total pembelian whale selama 7 hari terakhir tercatat sebesar US$5,7 juta. Crypto Whale Tambah Zcash: Nansen Wallet milik figur publik juga naik hampir 20% dalam periode yang sama. Akumulasi secara konsisten ini menjelaskan mengapa adanya divergence di RSI telah mendorong harga naik dan kenapa Zcash mampu rebound dari titik terendah pada 10 Januari. Risiko EMA Meningkat saat Arus Keluar Spot Mulai Mereda Tapi, reli ini kini menemui resistance secara struktural. Harga Zcash sekarang diperdagangkan di bawah exponential moving average (EMA) kunci. EMA memberikan bobot lebih pada harga-harga terbaru sehingga membantu mengidentifikasi arah tren. EMA 20-hari sedang bergerak menuju potensi crossover bearish di bawah EMA 50-hari, yang biasanya membatasi reli dan memicu tren turun baru. Level EMA ini juga menjadi resistance dari atas harga saat ini. Risiko Struktural Mengintai: TradingView Arus aset kripto di exchange memperkuat risiko tersebut. Walau Zcash masih menunjukkan arus bersih keluar exchange, artinya koin keluar dari exchange dan bukan masuk untuk dijual, intensitasnya turun tajam. Pada 7 Januari, arus keluar bersih sempat mencapai puncak sekitar US$35,6 juta. Kini, nilainya turun menjadi sekitar US$10,7 juta—penurunan sekitar US$25 juta atau hampir 70%. Ini menunjukkan bahwa meski whale masih akumulasi, trader ritel mungkin mulai kembali menjual atau ragu untuk masuk, karena sentimen pasar tetap rentan. Pembelian Melambat: Coinglass Walaupun begitu, situasi seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Di akhir Desember lalu, risiko crossover EMA serupa sempat muncul. Saat itu, aksi beli dari para whale yang konsisten membuat EMA 20-hari menjauh dari EMA 50-hari dan tidak terjadi crossover ke bawah. Divergensi tersebut menghasilkan reli Zcash hingga 38,36%. Kini, pasar mengamati apakah akumulasi whale saat ini bisa kembali mengalahkan lemahnya permintaan ritel dan mencegah terjadinya crossover bearish. Smart Money Masih Memberi Peringatan, dengan Risiko Harga Zcash US$300 yang Masih Ada Sinyal terakhir datang dari Smart Money Index (SMI). Indikator ini melacak posisi trader yang ‘berpengetahuan’ dibandingkan dengan perilaku ritel. Jika tetap berada di bawah garis sinyalnya, ini biasanya isyaratkan kehati-hatian dan potensi risiko penurunan. Smart Money Index milik Zcash masih jauh di bawah garis tersebut. Terakhir kali nilainya turun tajam, yaitu antara akhir November hingga awal Desember, harga ZEC sempat anjlok lebih dari 50%. Garis SMI untuk saat ini nampak mendatar, tetapi ada satu nuansa yang patut dicatat. Dari sisi derivatif, posisi smart money mulai menambah net long selama 24 jam terakhir. Ini menunjukkan sebagian trader (pada produk derivatif) sedang bertaruh pada potensi rebound. Tapi, taruhan ini masih bersifat kondisional. Trader Zcash Cerdas Menambah Posisi Long: Nansen Untuk bisa pulih, Zcash harus merebut kembali level US$408 dan kemudian menembus di atas US$459 serta US$483. Sampai itu terjadi, struktur EMA dan arus keluar yang lemah tetap membuat risiko penurunan tetap ada. Jika harga turun bersih di bawah US$361, maka jalur menuju US$300 akan terbuka kembali. Analisis Harga Zcash: TradingView Pembalikan arah Zcash memang nyata, dan aksi beli whale yang menjelaskannya. Tapi struktur masih menjadi penentu utama. Selama sinyal tren belum berbalik, akumulasi whale dan peningkatan posisi smart money saja mungkin belum cukup untuk menghilangkan risiko turun ke US$300.

Harga Zcash Reli 16% — Bisakah Pembelian Whale Akhirnya Menaklukkan Risiko US$300?

Zcash mengalami rebound jangka pendek, namun gambaran besarnya masih tetap belum jelas. setelah mencapai titik terendah lokal pada 10 Januari, harga Zcash naik sekitar 16%. Reli ini terjadi meskipun token tersebut masih turun lebih dari 20% selama sepekan dan kembali melemah dalam 24 jam terakhir. Di balik layar, data on-chain menunjukkan akumulasi agresif dari crypto whale.

Pada saat yang sama, sinyal tren, arus di exchange, dan perilaku smart-money masih menunjukkan adanya risiko. Hal ini memunculkan konflik yang jelas: apakah rebound ini adalah awal pemulihan, atau hanya jeda sebelum harga kembali turun lebih jauh?

Bullish Divergence dan Akumulasi Whale Jelaskan Reli

Rebound ini bukan terjadi tanpa sebab. Antara 6 Desember hingga 10 Januari, Zcash membentuk hidden bullish RSI divergence. Harga Zcash mencetak higher low, sementara Relative Strength Index (RSI), indikator momentum yang mengukur kekuatan beli dan jual, menunjukkan lower low. Pola seperti ini sering menjadi tanda tekanan jual mulai melemah sebelum harga bereaksi naik.

RSI Memberi Sinyal Rebound: TradingView

Ingin wawasan token lain seperti ini? Daftar untuk menerima Daily Crypto Newsletter dari Editor Harsh Notariya di sini.

Perilaku whale sejalan dengan sinyal tersebut. Dalam tujuh hari terakhir, para holder terbesar Zcash melakukan akumulasi besar-besaran. Wallet mega whale meningkatkan kepemilikan mereka sebesar 39,07%, sehingga jumlah ZEC yang mereka pegang mencapai 45.103 ZEC.

Wallet whale yang lebih kecil juga menambah kepemilikan, naik 17,63% menjadi 10.405 ZEC. Jadi, total pembelian whale selama 7 hari terakhir tercatat sebesar US$5,7 juta.

Crypto Whale Tambah Zcash: Nansen

Wallet milik figur publik juga naik hampir 20% dalam periode yang sama. Akumulasi secara konsisten ini menjelaskan mengapa adanya divergence di RSI telah mendorong harga naik dan kenapa Zcash mampu rebound dari titik terendah pada 10 Januari.

Risiko EMA Meningkat saat Arus Keluar Spot Mulai Mereda

Tapi, reli ini kini menemui resistance secara struktural. Harga Zcash sekarang diperdagangkan di bawah exponential moving average (EMA) kunci. EMA memberikan bobot lebih pada harga-harga terbaru sehingga membantu mengidentifikasi arah tren. EMA 20-hari sedang bergerak menuju potensi crossover bearish di bawah EMA 50-hari, yang biasanya membatasi reli dan memicu tren turun baru. Level EMA ini juga menjadi resistance dari atas harga saat ini.

Risiko Struktural Mengintai: TradingView

Arus aset kripto di exchange memperkuat risiko tersebut. Walau Zcash masih menunjukkan arus bersih keluar exchange, artinya koin keluar dari exchange dan bukan masuk untuk dijual, intensitasnya turun tajam. Pada 7 Januari, arus keluar bersih sempat mencapai puncak sekitar US$35,6 juta.

Kini, nilainya turun menjadi sekitar US$10,7 juta—penurunan sekitar US$25 juta atau hampir 70%. Ini menunjukkan bahwa meski whale masih akumulasi, trader ritel mungkin mulai kembali menjual atau ragu untuk masuk, karena sentimen pasar tetap rentan.

Pembelian Melambat: Coinglass

Walaupun begitu, situasi seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Di akhir Desember lalu, risiko crossover EMA serupa sempat muncul. Saat itu, aksi beli dari para whale yang konsisten membuat EMA 20-hari menjauh dari EMA 50-hari dan tidak terjadi crossover ke bawah. Divergensi tersebut menghasilkan reli Zcash hingga 38,36%. Kini, pasar mengamati apakah akumulasi whale saat ini bisa kembali mengalahkan lemahnya permintaan ritel dan mencegah terjadinya crossover bearish.

Smart Money Masih Memberi Peringatan, dengan Risiko Harga Zcash US$300 yang Masih Ada

Sinyal terakhir datang dari Smart Money Index (SMI). Indikator ini melacak posisi trader yang ‘berpengetahuan’ dibandingkan dengan perilaku ritel. Jika tetap berada di bawah garis sinyalnya, ini biasanya isyaratkan kehati-hatian dan potensi risiko penurunan. Smart Money Index milik Zcash masih jauh di bawah garis tersebut.

Terakhir kali nilainya turun tajam, yaitu antara akhir November hingga awal Desember, harga ZEC sempat anjlok lebih dari 50%. Garis SMI untuk saat ini nampak mendatar, tetapi ada satu nuansa yang patut dicatat.

Dari sisi derivatif, posisi smart money mulai menambah net long selama 24 jam terakhir. Ini menunjukkan sebagian trader (pada produk derivatif) sedang bertaruh pada potensi rebound. Tapi, taruhan ini masih bersifat kondisional.

Trader Zcash Cerdas Menambah Posisi Long: Nansen

Untuk bisa pulih, Zcash harus merebut kembali level US$408 dan kemudian menembus di atas US$459 serta US$483. Sampai itu terjadi, struktur EMA dan arus keluar yang lemah tetap membuat risiko penurunan tetap ada. Jika harga turun bersih di bawah US$361, maka jalur menuju US$300 akan terbuka kembali.

Analisis Harga Zcash: TradingView

Pembalikan arah Zcash memang nyata, dan aksi beli whale yang menjelaskannya. Tapi struktur masih menjadi penentu utama. Selama sinyal tren belum berbalik, akumulasi whale dan peningkatan posisi smart money saja mungkin belum cukup untuk menghilangkan risiko turun ke US$300.
Bitcoin Terus Decouple dari Global M2 pada Awal 2026 saat Analis Masih TerbagiSejak pertengahan 2025, Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda melepas korelasi dari pertumbuhan suplai uang global M2. Memasuki 2026, pelepasan korelasi ini jadi makin jelas. Hubungan historis antara kedua faktor tersebut sebelumnya menjadi dasar banyak proyeksi bullish. Sekarang, para analis sangat terpecah dalam menilai makna fenomena ini untuk tahun 2026. Analis Terbelah dalam Penjelasan tentang Hubungan antara Bitcoin dan Global M2. Laporan Januari dari Fidelity Digital Assets tetap menyampaikan keyakinan pada korelasi positif antara suplai uang M2 dan harga Bitcoin. Fidelity menekankan bahwa siklus bull Bitcoin biasanya bertepatan dengan periode percepatan M2. Bitcoin, berkat kelangkaannya, menyerap kelebihan modal jauh lebih kuat daripada aset lain. “Karena siklus pelonggaran moneter baru telah dimulai secara global dan program QT The Fed telah berakhir, kemungkinan besar kita akan melihat tingkat pertumbuhan ini terus naik sepanjang tahun 2026, menjadi katalis positif bagi harga bitcoin.” — lapor Fidelity . Perubahan Tahunan M2 Global dan Bitcoin | Sumber: Fidelity Digital Assets Analis pendukung pandangan ini berpendapat bahwa emas dan perak telah menyerap permintaan lindung nilai inflasi pada periode sebelumnya. Mereka juga menyatakan bahwa cetak uang yang kembali marak di berbagai negara kini jadi pendorong utama bagi Bitcoin. Analis MartyParty mengambil sikap yang lebih berani. Ia membandingkan harga Bitcoin dengan suplai uang M2 global menggunakan jeda waktu 50 hari. Ia memperkirakan pekan ini bisa menjadi momen harga Bitcoin akan bangkit untuk mengejar pertumbuhan suplai uang tersebut. “Bitcoin vs Likuiditas Global – Tertunda 50 hari. M2 bilang kita pantul di sini — 12 Januari.” — prediksi MartyParty . Harga M2 Global dan Bitcoin | Sumber: MartyParty Nampaknya, grafik dari Fidelity justru menunjukkan pertumbuhan YoY Bitcoin dan YoY Global M2 kehilangan korelasi sepanjang tahun lalu. Perbedaannya menjadi semakin lebar di awal tahun 2026. Bitcoin mencatat pertumbuhan YoY negatif, sedangkan YoY Global M2 tumbuh lebih dari 10%. Hal ini memantik keraguan dari analis lain. Pengamatan Mister Crypto menunjukkan bahwa masa di mana harga Bitcoin melepas korelasi dari pertumbuhan M2 kerap menandai puncak besar pasar. Fase-fase ini biasanya diikuti bear market yang berlangsung dua hingga empat tahun. Harga M2 Global dan Bitcoin | Sumber: Mister Crypto Sementara itu, analis Charles Edwards mengambil sikap yang benar-benar berbeda untuk menjelaskan fenomena ini. Ia menilai tahun 2025 menandai masa di mana risiko komputer kuantum membobol kriptografi Bitcoin menjadi kemungkinan nyata. Karena itu, pelepasan korelasi dari M2 ini mencerminkan risiko tersebut. “Ini adalah pertama kalinya Bitcoin melepas korelasi dengan suplai uang dan arus likuiditas global. Kenapa? Tahun 2025 adalah kali pertama Bitcoin memasuki Quantum Event Horizon. Waktu menuju probabilitas non-nol mesin kuantum membobol kriptografi Bitcoin kini lebih singkat daripada estimasi waktu upgrade Bitcoin. Uang mulai dipindahkan untuk memperhitungkan risiko tersebut.” — ujar Charles Edwards . Singkatnya, perbedaan tajam di antara analis mencerminkan semakin kompleksnya pasar Bitcoin. Pihak bullish tetap berpegang pada model historis tradisional yang didukung pemangkasan suku bunga The Fed dan pencetakan uang. Pihak bearish fokus pada kejadian tak terduga terkait risiko teknologi. Bitcoin juga memasuki tahun 2026 menghadapi risiko lain. Ini termasuk risiko dari yen carry trade serta kemungkinan perang dunia ketiga karena kondisi ekonomi dan geopolitik global semakin rumit. Risiko-risiko ini belum tentu menandakan akhir dari Bitcoin. Risiko ini juga bisa menghadirkan peluang bagi banyak investor. Banyak investor tetap yakin bahwa, tidak peduli bagaimana dunia berubah, Bitcoin akan bertahan sebagai penyimpan nilai jangka panjang, seperti yang sudah dibuktikan selama lebih dari 15 tahun sejarahnya.

Bitcoin Terus Decouple dari Global M2 pada Awal 2026 saat Analis Masih Terbagi

Sejak pertengahan 2025, Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda melepas korelasi dari pertumbuhan suplai uang global M2. Memasuki 2026, pelepasan korelasi ini jadi makin jelas.

Hubungan historis antara kedua faktor tersebut sebelumnya menjadi dasar banyak proyeksi bullish. Sekarang, para analis sangat terpecah dalam menilai makna fenomena ini untuk tahun 2026.

Analis Terbelah dalam Penjelasan tentang Hubungan antara Bitcoin dan Global M2.

Laporan Januari dari Fidelity Digital Assets tetap menyampaikan keyakinan pada korelasi positif antara suplai uang M2 dan harga Bitcoin.

Fidelity menekankan bahwa siklus bull Bitcoin biasanya bertepatan dengan periode percepatan M2. Bitcoin, berkat kelangkaannya, menyerap kelebihan modal jauh lebih kuat daripada aset lain.

“Karena siklus pelonggaran moneter baru telah dimulai secara global dan program QT The Fed telah berakhir, kemungkinan besar kita akan melihat tingkat pertumbuhan ini terus naik sepanjang tahun 2026, menjadi katalis positif bagi harga bitcoin.” — lapor Fidelity .

Perubahan Tahunan M2 Global dan Bitcoin | Sumber: Fidelity Digital Assets

Analis pendukung pandangan ini berpendapat bahwa emas dan perak telah menyerap permintaan lindung nilai inflasi pada periode sebelumnya. Mereka juga menyatakan bahwa cetak uang yang kembali marak di berbagai negara kini jadi pendorong utama bagi Bitcoin.

Analis MartyParty mengambil sikap yang lebih berani. Ia membandingkan harga Bitcoin dengan suplai uang M2 global menggunakan jeda waktu 50 hari. Ia memperkirakan pekan ini bisa menjadi momen harga Bitcoin akan bangkit untuk mengejar pertumbuhan suplai uang tersebut.

“Bitcoin vs Likuiditas Global – Tertunda 50 hari. M2 bilang kita pantul di sini — 12 Januari.” — prediksi MartyParty .

Harga M2 Global dan Bitcoin | Sumber: MartyParty

Nampaknya, grafik dari Fidelity justru menunjukkan pertumbuhan YoY Bitcoin dan YoY Global M2 kehilangan korelasi sepanjang tahun lalu. Perbedaannya menjadi semakin lebar di awal tahun 2026. Bitcoin mencatat pertumbuhan YoY negatif, sedangkan YoY Global M2 tumbuh lebih dari 10%. Hal ini memantik keraguan dari analis lain.

Pengamatan Mister Crypto menunjukkan bahwa masa di mana harga Bitcoin melepas korelasi dari pertumbuhan M2 kerap menandai puncak besar pasar. Fase-fase ini biasanya diikuti bear market yang berlangsung dua hingga empat tahun.

Harga M2 Global dan Bitcoin | Sumber: Mister Crypto

Sementara itu, analis Charles Edwards mengambil sikap yang benar-benar berbeda untuk menjelaskan fenomena ini.

Ia menilai tahun 2025 menandai masa di mana risiko komputer kuantum membobol kriptografi Bitcoin menjadi kemungkinan nyata. Karena itu, pelepasan korelasi dari M2 ini mencerminkan risiko tersebut.

“Ini adalah pertama kalinya Bitcoin melepas korelasi dengan suplai uang dan arus likuiditas global. Kenapa? Tahun 2025 adalah kali pertama Bitcoin memasuki Quantum Event Horizon. Waktu menuju probabilitas non-nol mesin kuantum membobol kriptografi Bitcoin kini lebih singkat daripada estimasi waktu upgrade Bitcoin. Uang mulai dipindahkan untuk memperhitungkan risiko tersebut.” — ujar Charles Edwards .

Singkatnya, perbedaan tajam di antara analis mencerminkan semakin kompleksnya pasar Bitcoin. Pihak bullish tetap berpegang pada model historis tradisional yang didukung pemangkasan suku bunga The Fed dan pencetakan uang. Pihak bearish fokus pada kejadian tak terduga terkait risiko teknologi.

Bitcoin juga memasuki tahun 2026 menghadapi risiko lain. Ini termasuk risiko dari yen carry trade serta kemungkinan perang dunia ketiga karena kondisi ekonomi dan geopolitik global semakin rumit.

Risiko-risiko ini belum tentu menandakan akhir dari Bitcoin. Risiko ini juga bisa menghadirkan peluang bagi banyak investor. Banyak investor tetap yakin bahwa, tidak peduli bagaimana dunia berubah, Bitcoin akan bertahan sebagai penyimpan nilai jangka panjang, seperti yang sudah dibuktikan selama lebih dari 15 tahun sejarahnya.
Whale Bitcoin Sedang Membeli Ketika Harga Turun – Haruskah Retail Ikut atau Menjauh?Data on-chain Bitcoin menunjukkan perbedaan yang jelas antara holder besar dan investor kecil. Sementara trader ritel terlihat mengambil keuntungan setelah reli awal Januari, whale justru melakukan hal sebaliknya. Berdasarkan data dari Santiment, perbedaan ini secara historis telah meningkatkan peluang kondisi pasar yang bullish. Dengan Bitcoin diperdagangkan di atas US$93.000 pada saat data Santiment dirilis, banyak investor ritel terlihat kembali mempertimbangkan posisi mereka dengan menghitung keuntungan Bitcoin setelah kenaikan harga baru-baru ini. Revaluasi tersebut sepertinya mendorong aksi ambil untung dari wallet kecil, padahal holder besar justru menambah eksposur mereka. Alamat wallet yang memegang antara 10 hingga 10.000 BTC sudah mengakumulasi lebih dari 56.000 koin dari pertengahan Desember sampai awal Januari. Sementara itu, wallet dengan saldo kurang dari 0,01 BTC mulai menjual, yang mengindikasikan adanya ketakutan bahwa reli ini hanya sesaat dan bukan kenaikan yang berkelanjutan. Trader Ritel Ambil Untung setelah Reli Holder kecil Bitcoin beralih ke mode jual ketika Bitcoin sempat naik tajam di awal Januari. setelah Bitcoin menembus di atas US$93.000, banyak investor ritel memilih mengunci keuntungan daripada memperbesar eksposur. Perilaku ini mencerminkan kekhawatiran bahwa kekuatan harga baru-baru ini hanya sekedar bull trap. Trader ritel nampaknya juga ragu bahwa harga yang lebih tinggi akan bertahan, terlebih setelah pergerakan tajam yang terjadi dalam beberapa minggu sebelumnya. Alhasil, wallet dengan saldo BTC paling sedikit ikut menambah tekanan jual selama periode itu. Santiment, dalam tweet yang sarat data, menerangkan bahwa perilaku ini menandakan perubahan dibandingkan pertengahan Desember, saat aktivitas ritel masih beragam dan belum punya tren yang jelas. Reli yang baru saja terjadi sepertinya menjadi pemicu aksi ambil untung. Crypto Whale Bitcoin Serap Tekanan Jual Saat investor ritel keluar dari posisi mereka sehingga menyebabkan harga turun, holder besar Bitcoin justru terus menambah aset. Wallet yang memegang antara 10 sampai 10.000 BTC telah menambah 56.227 koin sejak 17 Desember, bahkan ketika harga bergerak sideways. Santiment mengkategorikan pola ini sebagai salah satu konfigurasi paling bullish dalam kerangka mereka. Akumulasi whale yang diiringi distribusi ritel seringkali menjadi pertanda kenaikan kapitalisasi pasar lebih lanjut di aset kripto. Data mengindikasikan bahwa holder besar cukup nyaman menyerap tekanan jual di level harga tersebut. Pembelian yang stabil ini sangat kontras dengan keraguan investor ritel dan sekaligus menandakan rasa percaya diri dari investor dengan horison waktu yang lebih panjang. Apa Arti Ini bagi Investor Ritel Secara historis, periode di mana whale Bitcoin mengakumulasi sementara ritel menjual seringkali mendorong harga naik. tapi, Santiment juga mengingatkan bahwa peluang yang bagus tidak selalu memastikan hasil yang sama. Fase bullish seperti ini bisa berlangsung beberapa hari atau minggu, dan perilaku whale bisa saja berubah cepat jika situasi berbalik. Bagi investor ritel, pelajaran pentingnya bukan sekadar mengikuti salah satu sisi secara buta. Setup saat ini memang menunjukkan ada kekuatan tersembunyi di balik pasar, tapi manajemen risiko tetap sangat penting. Mengamati gap antara akumulasi whale dan penjualan ritel bisa memberi konteks berguna, apalagi di tengah fase pasar yang volatil. Saat ini, struktur pasar Bitcoin nampaknya masih mendukung. Apakah investor ritel akan kembali masuk atau justru tetap berhati-hati mungkin akan tergantung berapa lama perbedaan ini bertahan.

Whale Bitcoin Sedang Membeli Ketika Harga Turun – Haruskah Retail Ikut atau Menjauh?

Data on-chain Bitcoin menunjukkan perbedaan yang jelas antara holder besar dan investor kecil. Sementara trader ritel terlihat mengambil keuntungan setelah reli awal Januari, whale justru melakukan hal sebaliknya. Berdasarkan data dari Santiment, perbedaan ini secara historis telah meningkatkan peluang kondisi pasar yang bullish.

Dengan Bitcoin diperdagangkan di atas US$93.000 pada saat data Santiment dirilis, banyak investor ritel terlihat kembali mempertimbangkan posisi mereka dengan menghitung keuntungan Bitcoin setelah kenaikan harga baru-baru ini. Revaluasi tersebut sepertinya mendorong aksi ambil untung dari wallet kecil, padahal holder besar justru menambah eksposur mereka.

Alamat wallet yang memegang antara 10 hingga 10.000 BTC sudah mengakumulasi lebih dari 56.000 koin dari pertengahan Desember sampai awal Januari. Sementara itu, wallet dengan saldo kurang dari 0,01 BTC mulai menjual, yang mengindikasikan adanya ketakutan bahwa reli ini hanya sesaat dan bukan kenaikan yang berkelanjutan.

Trader Ritel Ambil Untung setelah Reli

Holder kecil Bitcoin beralih ke mode jual ketika Bitcoin sempat naik tajam di awal Januari. setelah Bitcoin menembus di atas US$93.000, banyak investor ritel memilih mengunci keuntungan daripada memperbesar eksposur.

Perilaku ini mencerminkan kekhawatiran bahwa kekuatan harga baru-baru ini hanya sekedar bull trap. Trader ritel nampaknya juga ragu bahwa harga yang lebih tinggi akan bertahan, terlebih setelah pergerakan tajam yang terjadi dalam beberapa minggu sebelumnya. Alhasil, wallet dengan saldo BTC paling sedikit ikut menambah tekanan jual selama periode itu.

Santiment, dalam tweet yang sarat data, menerangkan bahwa perilaku ini menandakan perubahan dibandingkan pertengahan Desember, saat aktivitas ritel masih beragam dan belum punya tren yang jelas. Reli yang baru saja terjadi sepertinya menjadi pemicu aksi ambil untung.

Crypto Whale Bitcoin Serap Tekanan Jual

Saat investor ritel keluar dari posisi mereka sehingga menyebabkan harga turun, holder besar Bitcoin justru terus menambah aset. Wallet yang memegang antara 10 sampai 10.000 BTC telah menambah 56.227 koin sejak 17 Desember, bahkan ketika harga bergerak sideways.

Santiment mengkategorikan pola ini sebagai salah satu konfigurasi paling bullish dalam kerangka mereka. Akumulasi whale yang diiringi distribusi ritel seringkali menjadi pertanda kenaikan kapitalisasi pasar lebih lanjut di aset kripto.

Data mengindikasikan bahwa holder besar cukup nyaman menyerap tekanan jual di level harga tersebut. Pembelian yang stabil ini sangat kontras dengan keraguan investor ritel dan sekaligus menandakan rasa percaya diri dari investor dengan horison waktu yang lebih panjang.

Apa Arti Ini bagi Investor Ritel

Secara historis, periode di mana whale Bitcoin mengakumulasi sementara ritel menjual seringkali mendorong harga naik. tapi, Santiment juga mengingatkan bahwa peluang yang bagus tidak selalu memastikan hasil yang sama. Fase bullish seperti ini bisa berlangsung beberapa hari atau minggu, dan perilaku whale bisa saja berubah cepat jika situasi berbalik.

Bagi investor ritel, pelajaran pentingnya bukan sekadar mengikuti salah satu sisi secara buta. Setup saat ini memang menunjukkan ada kekuatan tersembunyi di balik pasar, tapi manajemen risiko tetap sangat penting. Mengamati gap antara akumulasi whale dan penjualan ritel bisa memberi konteks berguna, apalagi di tengah fase pasar yang volatil.

Saat ini, struktur pasar Bitcoin nampaknya masih mendukung. Apakah investor ritel akan kembali masuk atau justru tetap berhati-hati mungkin akan tergantung berapa lama perbedaan ini bertahan.
2025 Menjadi Tahun Terburuk dalam Sejarah untuk Pencurian Aset Kripto karena Kerugian Melebihi US...Skala pencurian terkait aset kripto mencapai level tertinggi pada tahun 2025, dengan kerugian melebihi US$4,04 miliar, menurut laporan keamanan tahunan PeckShield. Lonjakan ini menyoroti semakin canggihnya serangan dan meningkatnya tantangan keamanan yang dihadapi industri aset kripto. Laporan Keamanan Aset Kripto 2025 Ungkap Kerugian Naik dan Pemulihan Aset Menurun Jumlah kerugian di 2025 ini meningkat 34,2% dibanding pencurian sebesar US$3,01 miliar pada 2024 serta naik sekitar 55% dari US$2,61 miliar di tahun 2023. Meski jumlah insiden keamanan aset kripto menurun di 2025, nilai aset yang dicuri justru melesat tajam. Kondisi ini menunjukkan pergeseran ke arah serangan yang lebih sedikit namun berdampak sangat besar. “2025 telah menjadi tahun rekor untuk pencurian terkait aset kripto, terutama didorong oleh kerentanan sistemik di infrastruktur terpusat dan pergeseran strategi ke rekayasa sosial yang semakin terarah,” tulis PeckShield. Laporan Crypto Security Annual Report menunjukkan bahwa eksploitasi tetap menjadi vektor serangan utama dan mencakup 66% dari total kerugian. Insiden-insiden ini, yang sering melibatkan celah pada smart contract, kunci privat yang berhasil dijebol, atau pelanggaran pada infrastruktur, menyebabkan sekitar US$2,67 miliar aset hilang, naik 24,2% dibanding tahun sebelumnya. Penipuan menjadi penyumbang kerugian terbesar kedua. PeckShield melaporkan bahwa aktivitas penipuan menyebabkan kerugian sebesar US$1,37 miliar pada 2025, meningkat 64,2% dari tahun sebelumnya. Laporan ini juga menyoroti semakin besarnya peran teknik rekayasa sosial, seperti phishing dan penyamaran, yang berkontribusi ke 12% dari total kerugian. Berbeda dengan eksploitasi teknis, serangan ini lebih mengandalkan manipulasi pengguna ketimbang kelemahan kode blockchain. Peretasan dan Penipuan Kripto di 2025 | Sumber: X/PeckShield Upaya pemulihan kerugian masih jauh tertinggal dari besarnya kasus pencurian. Hanya sekitar US$334,9 juta aset kripto yang berhasil dikembalikan atau dibekukan selama 2025, jauh di bawah jumlah US$488,5 juta pada 2024. Penurunan ini menunjukkan makin canggihnya teknik pencucian dana. PeckShield Mengungkap Daftar Perampokan Aset Kripto Terbesar 2025 Laporan tersebut merangkum sepuluh aksi pencurian terbesar pada 2025. Nilai kerugian dari tiap kasus berkisar puluhan juta sampai lebih dari US$1 miliar. Berikut beberapa kejadian yang menonjol: Bybit: Pencurian terbesar yang pernah tercatat di industri aset kripto, dengan Lazarus Group dari Korea Utara mencuri lebih dari US$1,4 miliar dari exchange tersebut. Libra Token: Kasus rug pull profil tinggi yang menyebabkan kerugian investor sekitar US$251 juta. Cetus Protocol: Decentralized exchange di Sui blockchain ini mengalami kerugian lebih dari US$200 juta dalam satu serangan. Nobitex: Exchange aset kripto terbesar di Iran dilaporkan menderita kerugian sekitar US$81,7 juta setelah Gonjeshke Darande (Predatory Sparrow) mengeksploitasi platform tersebut. Sementara itu, data bulanan menunjukkan kerugian tersebar tidak merata sepanjang tahun. Februari menjadi bulan terburuk bagi pencurian aset kripto pada 2025, dengan kerugian mencapai US$1,77 miliar akibat kasus peretasan Bybit. Sebaliknya, Oktober mencatat angka kerugian bulanan terendah selama 2025, dengan total kerugian sekitar US$21,6 juta. Tapi, jumlah ini kembali melonjak pada November. Tren ini sepertinya berlanjut hingga 2026. Baru 13 hari di tahun yang baru, industri aset kripto sudah mengalami dua eksploitasi besar. Pertama adalah eksploitasi Truebit, lalu disusul serangan rekayasa sosial yang menargetkan pengguna platform investasi Betterment.

2025 Menjadi Tahun Terburuk dalam Sejarah untuk Pencurian Aset Kripto karena Kerugian Melebihi US...

Skala pencurian terkait aset kripto mencapai level tertinggi pada tahun 2025, dengan kerugian melebihi US$4,04 miliar, menurut laporan keamanan tahunan PeckShield.

Lonjakan ini menyoroti semakin canggihnya serangan dan meningkatnya tantangan keamanan yang dihadapi industri aset kripto.

Laporan Keamanan Aset Kripto 2025 Ungkap Kerugian Naik dan Pemulihan Aset Menurun

Jumlah kerugian di 2025 ini meningkat 34,2% dibanding pencurian sebesar US$3,01 miliar pada 2024 serta naik sekitar 55% dari US$2,61 miliar di tahun 2023.

Meski jumlah insiden keamanan aset kripto menurun di 2025, nilai aset yang dicuri justru melesat tajam. Kondisi ini menunjukkan pergeseran ke arah serangan yang lebih sedikit namun berdampak sangat besar.

“2025 telah menjadi tahun rekor untuk pencurian terkait aset kripto, terutama didorong oleh kerentanan sistemik di infrastruktur terpusat dan pergeseran strategi ke rekayasa sosial yang semakin terarah,” tulis PeckShield.

Laporan Crypto Security Annual Report menunjukkan bahwa eksploitasi tetap menjadi vektor serangan utama dan mencakup 66% dari total kerugian. Insiden-insiden ini, yang sering melibatkan celah pada smart contract, kunci privat yang berhasil dijebol, atau pelanggaran pada infrastruktur, menyebabkan sekitar US$2,67 miliar aset hilang, naik 24,2% dibanding tahun sebelumnya.

Penipuan menjadi penyumbang kerugian terbesar kedua. PeckShield melaporkan bahwa aktivitas penipuan menyebabkan kerugian sebesar US$1,37 miliar pada 2025, meningkat 64,2% dari tahun sebelumnya.

Laporan ini juga menyoroti semakin besarnya peran teknik rekayasa sosial, seperti phishing dan penyamaran, yang berkontribusi ke 12% dari total kerugian. Berbeda dengan eksploitasi teknis, serangan ini lebih mengandalkan manipulasi pengguna ketimbang kelemahan kode blockchain.

Peretasan dan Penipuan Kripto di 2025 | Sumber: X/PeckShield

Upaya pemulihan kerugian masih jauh tertinggal dari besarnya kasus pencurian. Hanya sekitar US$334,9 juta aset kripto yang berhasil dikembalikan atau dibekukan selama 2025, jauh di bawah jumlah US$488,5 juta pada 2024. Penurunan ini menunjukkan makin canggihnya teknik pencucian dana.

PeckShield Mengungkap Daftar Perampokan Aset Kripto Terbesar 2025

Laporan tersebut merangkum sepuluh aksi pencurian terbesar pada 2025. Nilai kerugian dari tiap kasus berkisar puluhan juta sampai lebih dari US$1 miliar. Berikut beberapa kejadian yang menonjol:

Bybit: Pencurian terbesar yang pernah tercatat di industri aset kripto, dengan Lazarus Group dari Korea Utara mencuri lebih dari US$1,4 miliar dari exchange tersebut.

Libra Token: Kasus rug pull profil tinggi yang menyebabkan kerugian investor sekitar US$251 juta.

Cetus Protocol: Decentralized exchange di Sui blockchain ini mengalami kerugian lebih dari US$200 juta dalam satu serangan.

Nobitex: Exchange aset kripto terbesar di Iran dilaporkan menderita kerugian sekitar US$81,7 juta setelah Gonjeshke Darande (Predatory Sparrow) mengeksploitasi platform tersebut.

Sementara itu, data bulanan menunjukkan kerugian tersebar tidak merata sepanjang tahun. Februari menjadi bulan terburuk bagi pencurian aset kripto pada 2025, dengan kerugian mencapai US$1,77 miliar akibat kasus peretasan Bybit. Sebaliknya, Oktober mencatat angka kerugian bulanan terendah selama 2025, dengan total kerugian sekitar US$21,6 juta. Tapi, jumlah ini kembali melonjak pada November.

Tren ini sepertinya berlanjut hingga 2026. Baru 13 hari di tahun yang baru, industri aset kripto sudah mengalami dua eksploitasi besar. Pertama adalah eksploitasi Truebit, lalu disusul serangan rekayasa sosial yang menargetkan pengguna platform investasi Betterment.
Inilah yang Perlu Terjadi agar Harga Perak Mencapai US$100 di Tahun 2026Harga XAG tetap menjadi sorotan bagi banyak investor karena perak memimpin kenaikan di antara logam mulia selama beberapa minggu terakhir. Selama harga tetap di atas US$80, para analis kini berspekulasi apakah US$100 berikutnya akan tercapai, dan jika ya, seberapa cepat hal itu terjadi? Di tengah kenaikan logam mulia baru-baru ini, CME bersiap menghadapi potensi tekanan dan telah memperkenalkan aturan margin baru. Apa yang Mendorong Reli Harga Silver? Perak kembali mencatat lonjakan tajam setelah stabil di atas level psikologis US$80,00. Pada waktu publikasi, logam mulia ini diperdagangkan di harga US$83,59 per ons, sedikit di bawah rekor tertinggi US$85,94. Harga perak kini mencapai level tertinggi sejak lonjakan ke US$83,34 pada 29 Desember. Performa Harga Silver (XAG) | Sumber: Coincodex Pertumbuhan perak hingga 160% dalam satu tahun terakhir terjadi karena gabungan beberapa faktor pendukung: Investor ramai-ramai membeli aset safe haven karena ketidakpastian geopolitik Ada prospek penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Maret, dan dolar Amerika yang terus melemah. Dalam situasi seperti ini, permintaan industri untuk perak juga sangat kuat, khususnya dari sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan. Yang menarik, kita juga melihat momentum di berbagai kelas aset dalam beberapa hari terakhir, meski ada kejutan geopolitik dari intervensi militer AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Padahal biasanya peristiwa seperti ini akan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti logam mulia, tetapi justru ekuitas dan Bitcoin juga ikut reli setelah berita tersebut menyebar. Ini menunjukkan saat ini pasar mengalami apa yang disebut sebagai “reli segala aset”, setidaknya dalam jangka pendek. Logam Mulia, Bitcoin, dan Saham Kompak Reli Dengan gaya yang biasanya provokatif, investor logam mulia Peter Schiff baru-baru ini mengabaikan performa Bitcoin (BTC naik sekitar 6,5% selama 7 hari terakhir) dengan mengatakan bahwa investor sebaiknya lebih memperhatikan logam mulia saja. Seperti yang dilaporkan Coinpaper, Schiff menyebut kita sekarang masih berada di tahap awal dari “apa yang kemungkinan menjadi bull market logam mulia terbesar dalam sejarah”. Apakah perak benar-benar masih berpotensi lanjut naik atau justru sudah waktunya koreksi setelah reli tajam? Mari kita lihat bagaimana kondisi pasar perak saat ini. Apakah Silver Akan Mencapai US$100 per Ounce? Dalam jangka pendek, intervensi AS di Venezuela dipandang sebagai pemicu utama reli perak, yang membuat logam mulia ini bisa kembali mendekati rekor tertingginya lagi. Presiden AS Donald Trump mengindikasikan ada kemungkinan aksi militer lanjutan bila otoritas interim Venezuela tidak memenuhi tuntutan dari Amerika, sehingga menambah ketidakpastian dalam situasi yang sudah sangat volatil. Karena itu, saat ini ada narasi kuat yang mendorong investor masuk ke safe haven seperti logam mulia. Dari sisi jangka panjang, para investor juga bertaruh pada perak (dan logam mulia lainnya) karena ada ekspektasi kuat bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga, terutama setelah dorongan dari Trump. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026, tetapi data pekerjaan dan inflasi yang akan datang tetap jadi perhatian utama pelaku pasar. Jumlah Potensi Pemangkasan Suku Bunga The Fed di 2026 | Sumber: Polymarket Jika kondisi pasar tenaga kerja melemah, maka kemungkinan pemangkasan suku bunga akan meningkat. Sementara itu, jika inflasi makin tinggi, maka peluang suku bunga lebih rendah juga akan berkurang. Lingkungan suku bunga rendah memberikan keuntungan bagi aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti perak, karena mengurangi biaya peluang dari memegangnya. Agar prediksi harga perak yang sangat bullish di kisaran US$100 atau lebih per ons bisa terjadi, beberapa faktor bullish harus bergerak bersamaan dalam waktu yang sama. Permintaan industri harus tetap kuat, didorong oleh pertumbuhan berkelanjutan di instalasi tenaga surya, elektrifikasi, dan elektronik, sementara pasokan hasil tambang tetap ketat dan tidak bisa merespon dengan cepat. Pada saat yang sama, perak perlu mendapat permintaan yang terus-menerus karena perannya sebagai aset lindung nilai saat terjadi tekanan ekonomi atau keuangan dan sebagai pelindung nilai inflasi. Bila permintaan fisik tetap tinggi, pasokan tetap terbatas, dan minat investasi kembali meningkat, harga perak bisa saja terdorong ke kisaran US$100 per ons. Harga perak jauh di atas US$100 kemungkinan besar memerlukan pemicu yang lebih ekstrim seperti inflasi yang tidak terkendali, krisis keuangan besar, guncangan mata uang, atau kekurangan fisik nyata yang memperlihatkan ketidaksesuaian antara perak di kertas dan logam aslinya.

Inilah yang Perlu Terjadi agar Harga Perak Mencapai US$100 di Tahun 2026

Harga XAG tetap menjadi sorotan bagi banyak investor karena perak memimpin kenaikan di antara logam mulia selama beberapa minggu terakhir. Selama harga tetap di atas US$80, para analis kini berspekulasi apakah US$100 berikutnya akan tercapai, dan jika ya, seberapa cepat hal itu terjadi?

Di tengah kenaikan logam mulia baru-baru ini, CME bersiap menghadapi potensi tekanan dan telah memperkenalkan aturan margin baru.

Apa yang Mendorong Reli Harga Silver?

Perak kembali mencatat lonjakan tajam setelah stabil di atas level psikologis US$80,00. Pada waktu publikasi, logam mulia ini diperdagangkan di harga US$83,59 per ons, sedikit di bawah rekor tertinggi US$85,94. Harga perak kini mencapai level tertinggi sejak lonjakan ke US$83,34 pada 29 Desember.

Performa Harga Silver (XAG) | Sumber: Coincodex

Pertumbuhan perak hingga 160% dalam satu tahun terakhir terjadi karena gabungan beberapa faktor pendukung:

Investor ramai-ramai membeli aset safe haven karena ketidakpastian geopolitik

Ada prospek penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Maret, dan

dolar Amerika yang terus melemah.

Dalam situasi seperti ini, permintaan industri untuk perak juga sangat kuat, khususnya dari sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Yang menarik, kita juga melihat momentum di berbagai kelas aset dalam beberapa hari terakhir, meski ada kejutan geopolitik dari intervensi militer AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Padahal biasanya peristiwa seperti ini akan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti logam mulia, tetapi justru ekuitas dan Bitcoin juga ikut reli setelah berita tersebut menyebar. Ini menunjukkan saat ini pasar mengalami apa yang disebut sebagai “reli segala aset”, setidaknya dalam jangka pendek.

Logam Mulia, Bitcoin, dan Saham Kompak Reli

Dengan gaya yang biasanya provokatif, investor logam mulia Peter Schiff baru-baru ini mengabaikan performa Bitcoin (BTC naik sekitar 6,5% selama 7 hari terakhir) dengan mengatakan bahwa investor sebaiknya lebih memperhatikan logam mulia saja.

Seperti yang dilaporkan Coinpaper, Schiff menyebut kita sekarang masih berada di tahap awal dari “apa yang kemungkinan menjadi bull market logam mulia terbesar dalam sejarah”.

Apakah perak benar-benar masih berpotensi lanjut naik atau justru sudah waktunya koreksi setelah reli tajam? Mari kita lihat bagaimana kondisi pasar perak saat ini.

Apakah Silver Akan Mencapai US$100 per Ounce?

Dalam jangka pendek, intervensi AS di Venezuela dipandang sebagai pemicu utama reli perak, yang membuat logam mulia ini bisa kembali mendekati rekor tertingginya lagi.

Presiden AS Donald Trump mengindikasikan ada kemungkinan aksi militer lanjutan bila otoritas interim Venezuela tidak memenuhi tuntutan dari Amerika, sehingga menambah ketidakpastian dalam situasi yang sudah sangat volatil.

Karena itu, saat ini ada narasi kuat yang mendorong investor masuk ke safe haven seperti logam mulia.

Dari sisi jangka panjang, para investor juga bertaruh pada perak (dan logam mulia lainnya) karena ada ekspektasi kuat bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga, terutama setelah dorongan dari Trump.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026, tetapi data pekerjaan dan inflasi yang akan datang tetap jadi perhatian utama pelaku pasar.

Jumlah Potensi Pemangkasan Suku Bunga The Fed di 2026 | Sumber: Polymarket

Jika kondisi pasar tenaga kerja melemah, maka kemungkinan pemangkasan suku bunga akan meningkat. Sementara itu, jika inflasi makin tinggi, maka peluang suku bunga lebih rendah juga akan berkurang.

Lingkungan suku bunga rendah memberikan keuntungan bagi aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti perak, karena mengurangi biaya peluang dari memegangnya.

Agar prediksi harga perak yang sangat bullish di kisaran US$100 atau lebih per ons bisa terjadi, beberapa faktor bullish harus bergerak bersamaan dalam waktu yang sama.

Permintaan industri harus tetap kuat, didorong oleh pertumbuhan berkelanjutan di instalasi tenaga surya, elektrifikasi, dan elektronik, sementara pasokan hasil tambang tetap ketat dan tidak bisa merespon dengan cepat.

Pada saat yang sama, perak perlu mendapat permintaan yang terus-menerus karena perannya sebagai aset lindung nilai saat terjadi tekanan ekonomi atau keuangan dan sebagai pelindung nilai inflasi.

Bila permintaan fisik tetap tinggi, pasokan tetap terbatas, dan minat investasi kembali meningkat, harga perak bisa saja terdorong ke kisaran US$100 per ons.

Harga perak jauh di atas US$100 kemungkinan besar memerlukan pemicu yang lebih ekstrim seperti inflasi yang tidak terkendali, krisis keuangan besar, guncangan mata uang, atau kekurangan fisik nyata yang memperlihatkan ketidaksesuaian antara perak di kertas dan logam aslinya.
3 Aset Crypto Favorit Institusi di 2026, Berikut AlasannyaAset crypto digadang-gadang akan memasuki fase perubahan besar pada tahun 2026. Hal ini seiring ditinggalkannya model investasi lama yang mendominasi selama satu dekade terakhir. Investor institusional kini menulis ulang strategi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lanskap pasar yang terus berubah. Perubahan ini tak ayal membuka peluang signifikan bagi sejumlah sektor, terutama proyek yang mampu menarik arus modal jangka panjang dan beradaptasi dengan kebutuhan institusi global. Institusi Adopsi Strategi Anyar Menurut analis dari Milk Road, model investasi yang berlaku selama satu dekade terakhir mulai kehilangan daya dorong di tengah pasar yang berubah akibat percepatan simultan berbagai teknologi kunci. Pada 2025, meskipun terjadi kemajuan besar di sisi teknologi dan regulasi, harga aset crypto cenderung stagnan sementara saham dan emas justru melonjak. Kondisi ini menyingkap keterbatasan pendekatan lama yang dirancang untuk dunia dengan laju perubahan lebih lambat. Kini, institusi hijrah ke diversifikasi strategis yang mencakup likuiditas demi fleksibilitas, infrastruktur crypto yang solid, serta proyek artificial intelligence (AI) yang mampu mendongkrak produktivitas sekaligus menekan biaya. Baca Juga: Miner Era Satoshi Pindahkan 2.000 BTC setelah 15 Tahun Bungkam Dinamika ekonomi pun berevolusi seiring bangkitnya AI, otomatisasi, energi, infrastruktur data, transportasi otonom, dan rel keuangan on-chain secara bersamaan, yang memicu arus modal berskala masif. Regulasi crypto di Amerika Serikat yang semakin kokoh sepanjang 2025 mendorong investor institusional untuk memasuki fase aktif pada 2026, setelah sebelumnya melakukan pengujian awal. Menunggu konfirmasi yang benar-benar jelas justru berisiko membuat investor tertinggal dalam restrukturisasi yang sedang berlangsung. Para pemenang adalah mereka yang memosisikan modal lebih awal di sektor-sektor yang saling beririsan ini, serta tidak terpaku semata pada crypto. Tiga Aset Crypto Berpotensi Raih Benefit Bitcoin, Ethereum, dan Solana muncul sebagai favorit institusi dalam lanskap ini. Rasio BTC terhadap emas dan perak mengisyaratkan potensi rotasi modal menuju Bitcoin sejak kuartal pertama 2026, setelah logam mulia stabil usai mendominasi dalam periode sebelumnya. Baca Juga: CZ Binance Prediksi Kedatangan ‘Super Cycle’ Kripto, Ini Faktor Kuncinya Laporan ekonomi makro mingguan Binance Research mencatat adanya pergeseran struktural di pasar aset digital. Mulai dari dominasi investor ritel menuju modal institusional dan strategi jangka panjang. Perubahan ini mendapat dukungan dari akumulasi aset digital oleh negara-negara berkembang serta inisiatif legislatif AS terkait pembentukan cadangan strategis aset digital. Sejak persetujuan ETF pada 2024, fase kedua adopsi institusional pun berjalan. Hal ini tecermin dari setoran terbaru Morgan Stanley untuk ETF Bitcoin dan Solana. Selain itu, konsentrasi imbal hasil pada kelompok saham “Magnificent Seven” mendorong investor untuk melakukan diversifikasi ke crypto. Bitcoin jelas menjadi pilihan utama. Namun, Ethereum dan Solana juga membidik peran lebih besar dalam sistem keuangan global dengan menarik aset-aset kelas atas. Bukan tidak mungkin, ekosistem keduanya akan berkembang seiring derasnya arus modal institusional ke depan. Bagaimana pendapat Anda tentang 3 aset crypto favorit institusi untuk 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

3 Aset Crypto Favorit Institusi di 2026, Berikut Alasannya

Aset crypto digadang-gadang akan memasuki fase perubahan besar pada tahun 2026. Hal ini seiring ditinggalkannya model investasi lama yang mendominasi selama satu dekade terakhir. Investor institusional kini menulis ulang strategi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lanskap pasar yang terus berubah.

Perubahan ini tak ayal membuka peluang signifikan bagi sejumlah sektor, terutama proyek yang mampu menarik arus modal jangka panjang dan beradaptasi dengan kebutuhan institusi global.

Institusi Adopsi Strategi Anyar

Menurut analis dari Milk Road, model investasi yang berlaku selama satu dekade terakhir mulai kehilangan daya dorong di tengah pasar yang berubah akibat percepatan simultan berbagai teknologi kunci. Pada 2025, meskipun terjadi kemajuan besar di sisi teknologi dan regulasi, harga aset crypto cenderung stagnan sementara saham dan emas justru melonjak. Kondisi ini menyingkap keterbatasan pendekatan lama yang dirancang untuk dunia dengan laju perubahan lebih lambat.

Kini, institusi hijrah ke diversifikasi strategis yang mencakup likuiditas demi fleksibilitas, infrastruktur crypto yang solid, serta proyek artificial intelligence (AI) yang mampu mendongkrak produktivitas sekaligus menekan biaya.

Baca Juga: Miner Era Satoshi Pindahkan 2.000 BTC setelah 15 Tahun Bungkam

Dinamika ekonomi pun berevolusi seiring bangkitnya AI, otomatisasi, energi, infrastruktur data, transportasi otonom, dan rel keuangan on-chain secara bersamaan, yang memicu arus modal berskala masif.

Regulasi crypto di Amerika Serikat yang semakin kokoh sepanjang 2025 mendorong investor institusional untuk memasuki fase aktif pada 2026, setelah sebelumnya melakukan pengujian awal. Menunggu konfirmasi yang benar-benar jelas justru berisiko membuat investor tertinggal dalam restrukturisasi yang sedang berlangsung. Para pemenang adalah mereka yang memosisikan modal lebih awal di sektor-sektor yang saling beririsan ini, serta tidak terpaku semata pada crypto.

Tiga Aset Crypto Berpotensi Raih Benefit

Bitcoin, Ethereum, dan Solana muncul sebagai favorit institusi dalam lanskap ini. Rasio BTC terhadap emas dan perak mengisyaratkan potensi rotasi modal menuju Bitcoin sejak kuartal pertama 2026, setelah logam mulia stabil usai mendominasi dalam periode sebelumnya.

Baca Juga: CZ Binance Prediksi Kedatangan ‘Super Cycle’ Kripto, Ini Faktor Kuncinya

Laporan ekonomi makro mingguan Binance Research mencatat adanya pergeseran struktural di pasar aset digital. Mulai dari dominasi investor ritel menuju modal institusional dan strategi jangka panjang. Perubahan ini mendapat dukungan dari akumulasi aset digital oleh negara-negara berkembang serta inisiatif legislatif AS terkait pembentukan cadangan strategis aset digital.

Sejak persetujuan ETF pada 2024, fase kedua adopsi institusional pun berjalan. Hal ini tecermin dari setoran terbaru Morgan Stanley untuk ETF Bitcoin dan Solana. Selain itu, konsentrasi imbal hasil pada kelompok saham “Magnificent Seven” mendorong investor untuk melakukan diversifikasi ke crypto.

Bitcoin jelas menjadi pilihan utama. Namun, Ethereum dan Solana juga membidik peran lebih besar dalam sistem keuangan global dengan menarik aset-aset kelas atas. Bukan tidak mungkin, ekosistem keduanya akan berkembang seiring derasnya arus modal institusional ke depan.

Bagaimana pendapat Anda tentang 3 aset crypto favorit institusi untuk 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Goldman Sachs Prediksi Imbal Hasil Ekuitas Global 11% di 2026: Apa Artinya untuk Aset Kripto?Goldman Sachs memprediksi bahwa ekuitas global akan terus naik pada 2026, dengan proyeksi imbal hasil sebesar 11%, termasuk dividen, dalam 12 bulan ke depan. Reli ini akan didukung oleh pertumbuhan laba dan ekspansi ekonomi yang meluas. Ketika pasar tradisional terus merangkak naik, muncul satu pertanyaan krusial: apakah aset digital akan bergerak sejalan dengan ekuitas, atau justru memilih jalur yang berbeda? Goldman Sachs Bagikan Prediksi Saham Global untuk 2026 Prospek ekuitas global 2026 dari Goldman Sachs menunjukkan masih adanya ruang kenaikan untuk indeks utama. Menurut laporan itu, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh di semua wilayah pada tahun depan, dengan proyeksi pertumbuhan PDB global sebesar 2,8%. The Fed di Amerika Serikat juga diproyeksikan akan melakukan pelonggaran kebijakan lanjutan tahun ini meski bersifat moderat, sehingga mendukung situasi ekonomi makro yang kondusif. Dengan latar belakang tersebut, Peter Oppenheimer, kepala analis strategi ekuitas global di Goldman Sachs Research, menilai bahwa penurunan tajam di pasar ekuitas masih kecil kemungkinannya selama tidak ada resesi. “Kami pikir imbal hasil di 2026 kemungkinan akan lebih banyak didorong oleh pertumbuhan laba fundamental daripada kenaikan valuasi. Proyeksi global 12 bulan dari para analis kami menunjukkan harga ekuitas, yang bobotnya berdasarkan market cap regional, diperkirakan naik 9% dan mencapai imbal hasil 11% termasuk dividen dalam US dollar (per 6 Januari 2026). Mayoritas imbal hasil itu didorong oleh laba,” tulis Oppenheimer . Meski begitu, Goldman Sachs menambahkan, kenaikan ekuitas pada 2026 nampaknya tidak akan setajam reli yang terjadi pada 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa ke depan, tempo pertumbuhan imbal hasil akan lebih hati-hati. “Walaupun saham-saham mencatat performa kuat pada 2025… kenaikannya tidak terjadi secara lurus. Ekuitas sempat melemah di awal tahun, dengan S&P 500 terkoreksi hampir 20% dari pertengahan Februari hingga April, sebelum kembali pulih. Reli kuat ekuitas global telah membawa valuasi ke level historis tinggi di semua kawasan—bukan hanya di AS, namun juga di Jepang, Eropa, serta pasar berkembang,” tertulis dalam laporan tersebut. Laporan tersebut mengungkap target 7.600 untuk S&P 500 (yang berarti imbal hasil total 11%), 625 untuk STOXX 600 (imbal hasil 7%), 3.600 untuk TOPIX Jepang (imbal hasil 4%), dan 825 untuk MSCI Asia Pacific ex-Japan (imbal hasil 12%). Prediksi Ekuitas Global Goldman Sachs | Sumber: X/Goldman Sachs Analisis tersebut menyebutkan bahwa saham-saham saat ini berada di fase optimistis dari siklus pasar—yang bermula dari bear market saat pandemi COVID-19 pada 2020. Tim analis menjelaskan, fase optimistis di siklus akhir ini biasanya berkaitan dengan kenaikan valuasi, sehingga masih ada potensi kenaikan lebih lanjut di luar proyeksi utama mereka. Laporan itu juga menyoroti meningkatnya perhatian terhadap saham-saham berbasis AI. Para analis memaparkan bahwa fokus pasar terhadap artificial intelligence tetap kuat, namun menegaskan bahwa kondisi ini tidak secara otomatis menandakan adanya bubble AI. Apakah Bitcoin Masih Berkorelasi dengan S&P 500 di Awal 2026? Ketika ekuitas tradisional memasuki 2026 dengan ekspektasi pertumbuhan berkelanjutan, perhatian mulai beralih pada performa pasar kripto. Bitcoin, aset kripto terbesar, umumnya menunjukkan korelasi positif dengan S&P 500, meskipun terkadang juga menampilkan periode independensi yang jelas. Berdasarkan data setahun terakhir, CryptoQuant mengungkap bahwa korelasi BTC dengan S&P 500 sebagian besar tetap positif. Walau begitu, korelasinya sempat berubah negatif pada September–Oktober, lalu kejadian serupa terulang di November, dan dua kali pada Desember. “Pada paruh kedua 2025, korelasi Bitcoin dengan S&P 500 turun drastis. Ini bukanlah penyimpangan sementara, melainkan dampak dari terjadinya perubahan struktural pada perilaku pasar,” tutur seorang analis . Sang analis mengaitkan hal ini dengan beberapa faktor utama: Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot menggeser permintaan dari trading jangka pendek ke arus masuk berbasis alokasi. Risiko leverage menurun karena pasar derivatif memangkas eksposur berbasis BTC dalam jumlah besar. Likuiditas makro berputar ke komoditas dan logam mulia, melewati kripto. Trader ekuitas jangka pendek keluar dari pasar, sehingga menyisakan basis holder jangka panjang. Pergerakan harga Bitcoin kini lebih dipengaruhi oleh dinamika suplai internal daripada sentimen pasar ekuitas. Menurut data terbaru dari CryptoQuant, korelasi Bitcoin dengan S&P 500 kembali negatif dan kini berada di -0,02 pada waktu publikasi. Ini menunjukkan bahwa di awal 2026, Bitcoin tidak bergerak sebagai proxy ekuitas berisiko. Korelasi Bitcoin dengan S&P 500 | Sumber: CryptoQuant Meski begitu, pola korelasi ini sudah terbukti tidak stabil pada siklus sebelumnya, sehingga masih ada kemungkinan Bitcoin kembali bergerak seirama dengan saham. Dalam situasi seperti itu, reli saham yang berkelanjutan bisa kembali menjadi angin segar bagi Bitcoin, sehingga aset ini dapat ikut merasakan sentimen risk-on yang lebih luas.

Goldman Sachs Prediksi Imbal Hasil Ekuitas Global 11% di 2026: Apa Artinya untuk Aset Kripto?

Goldman Sachs memprediksi bahwa ekuitas global akan terus naik pada 2026, dengan proyeksi imbal hasil sebesar 11%, termasuk dividen, dalam 12 bulan ke depan. Reli ini akan didukung oleh pertumbuhan laba dan ekspansi ekonomi yang meluas.

Ketika pasar tradisional terus merangkak naik, muncul satu pertanyaan krusial: apakah aset digital akan bergerak sejalan dengan ekuitas, atau justru memilih jalur yang berbeda?

Goldman Sachs Bagikan Prediksi Saham Global untuk 2026

Prospek ekuitas global 2026 dari Goldman Sachs menunjukkan masih adanya ruang kenaikan untuk indeks utama. Menurut laporan itu, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh di semua wilayah pada tahun depan, dengan proyeksi pertumbuhan PDB global sebesar 2,8%.

The Fed di Amerika Serikat juga diproyeksikan akan melakukan pelonggaran kebijakan lanjutan tahun ini meski bersifat moderat, sehingga mendukung situasi ekonomi makro yang kondusif. Dengan latar belakang tersebut, Peter Oppenheimer, kepala analis strategi ekuitas global di Goldman Sachs Research, menilai bahwa penurunan tajam di pasar ekuitas masih kecil kemungkinannya selama tidak ada resesi.

“Kami pikir imbal hasil di 2026 kemungkinan akan lebih banyak didorong oleh pertumbuhan laba fundamental daripada kenaikan valuasi. Proyeksi global 12 bulan dari para analis kami menunjukkan harga ekuitas, yang bobotnya berdasarkan market cap regional, diperkirakan naik 9% dan mencapai imbal hasil 11% termasuk dividen dalam US dollar (per 6 Januari 2026). Mayoritas imbal hasil itu didorong oleh laba,” tulis Oppenheimer .

Meski begitu, Goldman Sachs menambahkan, kenaikan ekuitas pada 2026 nampaknya tidak akan setajam reli yang terjadi pada 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa ke depan, tempo pertumbuhan imbal hasil akan lebih hati-hati.

“Walaupun saham-saham mencatat performa kuat pada 2025… kenaikannya tidak terjadi secara lurus. Ekuitas sempat melemah di awal tahun, dengan S&P 500 terkoreksi hampir 20% dari pertengahan Februari hingga April, sebelum kembali pulih. Reli kuat ekuitas global telah membawa valuasi ke level historis tinggi di semua kawasan—bukan hanya di AS, namun juga di Jepang, Eropa, serta pasar berkembang,” tertulis dalam laporan tersebut.

Laporan tersebut mengungkap target 7.600 untuk S&P 500 (yang berarti imbal hasil total 11%), 625 untuk STOXX 600 (imbal hasil 7%), 3.600 untuk TOPIX Jepang (imbal hasil 4%), dan 825 untuk MSCI Asia Pacific ex-Japan (imbal hasil 12%).

Prediksi Ekuitas Global Goldman Sachs | Sumber: X/Goldman Sachs

Analisis tersebut menyebutkan bahwa saham-saham saat ini berada di fase optimistis dari siklus pasar—yang bermula dari bear market saat pandemi COVID-19 pada 2020. Tim analis menjelaskan, fase optimistis di siklus akhir ini biasanya berkaitan dengan kenaikan valuasi, sehingga masih ada potensi kenaikan lebih lanjut di luar proyeksi utama mereka.

Laporan itu juga menyoroti meningkatnya perhatian terhadap saham-saham berbasis AI. Para analis memaparkan bahwa fokus pasar terhadap artificial intelligence tetap kuat, namun menegaskan bahwa kondisi ini tidak secara otomatis menandakan adanya bubble AI.

Apakah Bitcoin Masih Berkorelasi dengan S&P 500 di Awal 2026?

Ketika ekuitas tradisional memasuki 2026 dengan ekspektasi pertumbuhan berkelanjutan, perhatian mulai beralih pada performa pasar kripto. Bitcoin, aset kripto terbesar, umumnya menunjukkan korelasi positif dengan S&P 500, meskipun terkadang juga menampilkan periode independensi yang jelas.

Berdasarkan data setahun terakhir, CryptoQuant mengungkap bahwa korelasi BTC dengan S&P 500 sebagian besar tetap positif. Walau begitu, korelasinya sempat berubah negatif pada September–Oktober, lalu kejadian serupa terulang di November, dan dua kali pada Desember.

“Pada paruh kedua 2025, korelasi Bitcoin dengan S&P 500 turun drastis. Ini bukanlah penyimpangan sementara, melainkan dampak dari terjadinya perubahan struktural pada perilaku pasar,” tutur seorang analis .

Sang analis mengaitkan hal ini dengan beberapa faktor utama:

Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot menggeser permintaan dari trading jangka pendek ke arus masuk berbasis alokasi.

Risiko leverage menurun karena pasar derivatif memangkas eksposur berbasis BTC dalam jumlah besar.

Likuiditas makro berputar ke komoditas dan logam mulia, melewati kripto.

Trader ekuitas jangka pendek keluar dari pasar, sehingga menyisakan basis holder jangka panjang.

Pergerakan harga Bitcoin kini lebih dipengaruhi oleh dinamika suplai internal daripada sentimen pasar ekuitas.

Menurut data terbaru dari CryptoQuant, korelasi Bitcoin dengan S&P 500 kembali negatif dan kini berada di -0,02 pada waktu publikasi. Ini menunjukkan bahwa di awal 2026, Bitcoin tidak bergerak sebagai proxy ekuitas berisiko.

Korelasi Bitcoin dengan S&P 500 | Sumber: CryptoQuant

Meski begitu, pola korelasi ini sudah terbukti tidak stabil pada siklus sebelumnya, sehingga masih ada kemungkinan Bitcoin kembali bergerak seirama dengan saham. Dalam situasi seperti itu, reli saham yang berkelanjutan bisa kembali menjadi angin segar bagi Bitcoin, sehingga aset ini dapat ikut merasakan sentimen risk-on yang lebih luas.
Bitcoin Incar US$95.000 Lagi saat Tekanan Pasar Terus MeredaHarga Bitcoin kembali memperoleh momentum setelah upaya gagal menembus US$95.000 di siklus ini. BTC kini kembali mencoba naik seiring perilaku investor yang mulai berubah dan kondisi pasar yang membaik. Tidak seperti reli sebelumnya, tekanan jual kali ini nampaknya lebih ringan sehingga kepercayaan diri investor meningkat karena pergerakan harga ini punya dukungan struktur yang lebih kuat. Holder Bitcoin Sedang Mengubah Sikap Mereka Sentimen investor memperlihatkan perbaikan yang dapat diukur. Net Unrealized Profit and Loss telah naik dari −10,2% menjadi −7,8%. Perubahan ini menunjukkan kerugian yang belum direalisasi di jaringan makin menyusut dan tekanan pada para holder pun mulai mereda. NUPL masih berada dalam kisaran statistik historisnya, menandakan stabilisasi, bukan euforia. Kondisi seperti ini sering kali mendahului kelanjutan tren dibanding pembalikan tajam. Holder terlihat lebih sabar menunggu potensi kenaikan lebih lanjut daripada buru-buru keluar saat harga baru naik sedikit. Kerugian yang belum terealisasi yang lebih kecil juga memperkecil kemungkinan penjualan terpaksa. Jika makin sedikit partisipan yang merugi, aksi jual panik juga berkurang. Kondisi seperti ini mendukung proses penemuan harga yang lebih stabil saat Bitcoin mendekati zona resistance pentingnya. Ingin insight token lain seperti ini? Daftar Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini. Bitcoin NUPL | Sumber: Glassnode Perilaku holder jangka panjang menunjukkan distribusi suplai mulai melambat secara signifikan. Arus keluar bersih dari wallet-wallet ini kini berkurang dari level ekstrem yang pernah terlihat saat koreksi sebelumnya. Perubahan ini mengisyaratkan pasar kini menyerap suplai lama dengan lebih efisien. Dengan suplai di atas kepala yang makin menipis, harga tidak butuh permintaan besar untuk bisa naik. Dalam sejarah, transisi semacam ini sering mendukung kenaikan harga yang berlanjut, bukan sekadar lonjakan sesaat. Siklus sebelumnya menunjukkan, saat metrik ini bergerak ke wilayah positif, akumulasi biasanya mulai mendominasi. Meskipun Bitcoin sendiri belum sepenuhnya ke fase itu, tren saat ini memperlihatkan progres ke arah sana. Perubahan Posisi Bersih LTH Bitcoin | Sumber: Glassnode Harga BTC Punya Satu Lagi Barrier untuk Breakout Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$92.221, bertahan di atas level support US$91.298. Harga kini mengincar resistance di US$93.471. Rintangan utama masih berupa garis tren naik menurun yang menjadi resistance di atas harga. Garis tren ini telah menahan breakout Bitcoin sejak pertengahan November 2025, dan posisinya tepat di bawah level US$95.000. Jika BTC berhasil mengubah US$93.471 menjadi support dan menembus garis tersebut, pergerakan menuju US$95.000 menjadi lebih mungkin. Sentimen yang membaik dan distribusi yang menurun ikut memperkuat peluang ini. Analisis Harga Bitcoin | Sumber: TradingView Kegagalan tetap bisa terjadi. Jika Bitcoin kembali tertolak di resistance tren, harga bisa turun ke area US$91.298. Bila pelemahan berlanjut, US$90.000 menjadi area uji selanjutnya. Tekanan koreksi yang lebih dalam bisa menekan BTC sampai US$89.241. Jika level itu hilang, skenario bullish batal dan kerugian bisa berlanjut hingga US$87.210.

Bitcoin Incar US$95.000 Lagi saat Tekanan Pasar Terus Mereda

Harga Bitcoin kembali memperoleh momentum setelah upaya gagal menembus US$95.000 di siklus ini. BTC kini kembali mencoba naik seiring perilaku investor yang mulai berubah dan kondisi pasar yang membaik.

Tidak seperti reli sebelumnya, tekanan jual kali ini nampaknya lebih ringan sehingga kepercayaan diri investor meningkat karena pergerakan harga ini punya dukungan struktur yang lebih kuat.

Holder Bitcoin Sedang Mengubah Sikap Mereka

Sentimen investor memperlihatkan perbaikan yang dapat diukur. Net Unrealized Profit and Loss telah naik dari −10,2% menjadi −7,8%. Perubahan ini menunjukkan kerugian yang belum direalisasi di jaringan makin menyusut dan tekanan pada para holder pun mulai mereda.

NUPL masih berada dalam kisaran statistik historisnya, menandakan stabilisasi, bukan euforia. Kondisi seperti ini sering kali mendahului kelanjutan tren dibanding pembalikan tajam. Holder terlihat lebih sabar menunggu potensi kenaikan lebih lanjut daripada buru-buru keluar saat harga baru naik sedikit.

Kerugian yang belum terealisasi yang lebih kecil juga memperkecil kemungkinan penjualan terpaksa. Jika makin sedikit partisipan yang merugi, aksi jual panik juga berkurang. Kondisi seperti ini mendukung proses penemuan harga yang lebih stabil saat Bitcoin mendekati zona resistance pentingnya.

Ingin insight token lain seperti ini? Daftar Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.

Bitcoin NUPL | Sumber: Glassnode

Perilaku holder jangka panjang menunjukkan distribusi suplai mulai melambat secara signifikan. Arus keluar bersih dari wallet-wallet ini kini berkurang dari level ekstrem yang pernah terlihat saat koreksi sebelumnya.

Perubahan ini mengisyaratkan pasar kini menyerap suplai lama dengan lebih efisien. Dengan suplai di atas kepala yang makin menipis, harga tidak butuh permintaan besar untuk bisa naik. Dalam sejarah, transisi semacam ini sering mendukung kenaikan harga yang berlanjut, bukan sekadar lonjakan sesaat.

Siklus sebelumnya menunjukkan, saat metrik ini bergerak ke wilayah positif, akumulasi biasanya mulai mendominasi. Meskipun Bitcoin sendiri belum sepenuhnya ke fase itu, tren saat ini memperlihatkan progres ke arah sana.

Perubahan Posisi Bersih LTH Bitcoin | Sumber: Glassnode Harga BTC Punya Satu Lagi Barrier untuk Breakout

Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$92.221, bertahan di atas level support US$91.298. Harga kini mengincar resistance di US$93.471. Rintangan utama masih berupa garis tren naik menurun yang menjadi resistance di atas harga.

Garis tren ini telah menahan breakout Bitcoin sejak pertengahan November 2025, dan posisinya tepat di bawah level US$95.000. Jika BTC berhasil mengubah US$93.471 menjadi support dan menembus garis tersebut, pergerakan menuju US$95.000 menjadi lebih mungkin. Sentimen yang membaik dan distribusi yang menurun ikut memperkuat peluang ini.

Analisis Harga Bitcoin | Sumber: TradingView

Kegagalan tetap bisa terjadi. Jika Bitcoin kembali tertolak di resistance tren, harga bisa turun ke area US$91.298. Bila pelemahan berlanjut, US$90.000 menjadi area uji selanjutnya. Tekanan koreksi yang lebih dalam bisa menekan BTC sampai US$89.241. Jika level itu hilang, skenario bullish batal dan kerugian bisa berlanjut hingga US$87.210.
Columbia Business School Membantah 5 Mitos Stablecoin yang Menghambat Reformasi Aset Kripto di ASKetika Senat AS semakin dekat untuk merampungkan rancangan undang-undang struktur pasar aset digital, ada satu isu yang tampak sederhana justru menahan kemajuan: imbal hasil stablecoin. Walaupun pemberitaan menyoroti pengawasan DeFi dan klasifikasi token, dosen Columbia Business School sekaligus analis kebijakan kripto, Omid Malekan, mengingatkan bahwa sebagian besar perdebatan di Washington lebih banyak didasari oleh mitos daripada bukti nyata. Bank vs. Stablecoin: Apakah Pembuat Undang-Undang AS Melawan Ancaman yang Tidak Nyata? Malekan mengidentifikasi lima kesalahpahaman yang masih bertahan tentang stablecoin dan dampaknya terhadap sistem perbankan. Menurut Malekan, yang disebut-sebut telah mengajar di Columbia Business School sejak tahun 2019, jika kesalahpahaman ini dibiarkan, maka akan menghambat terciptanya regulasi kripto yang berarti. Mitos 1: Stablecoin Mengurangi Dana Simpanan di Bank Berlawanan dengan kepercayaan umum, adopsi stablecoin tidak selalu menggerus simpanan di bank-bank AS. Malekan menuturkan bahwa permintaan stablecoin dari luar negeri, bersama dengan cadangan berbasis Treasury yang dimiliki penerbit stablecoin, sebenarnya justru cenderung menaikkan dana simpanan bank domestik. Setiap penambahan US$1 pada penerbitan stablecoin biasanya memicu lebih banyak aktivitas perbankan melalui transaksi beli-jual surat berharga pemerintah, pasar repo, dan transaksi valuta asing. “Stablecoin meningkatkan permintaan terhadap dollar di mana-mana,” terang Malekan, sambil menekankan bahwa stablecoin dengan imbal hasil akan memperkuat efek ini. Mitos 2: Stablecoin Mengancam Pasokan Kredit Bank Para pengkritik berpendapat bahwa dana simpanan yang berpindah ke stablecoin bisa mengurangi penyaluran kredit. Malekan menyebut ini sebagai kekeliruan antara profitabilitas dan pasokan kredit. Pada akhir Desember, Justin Slaughter selaku VP urusan regulasi Paradigm yang juga pernah menjadi penasihat senior di SEC dan CFTC, menyoroti bahwa adopsi stablecoin seharusnya bersifat netral atau bahkan membantu memperlancar pembentukan kredit serta menambah dana simpanan bank. Malekan membantah dengan menegaskan bahwa bank, khususnya institusi besar di AS, memiliki cadangan besar dan margin bunga bersih yang kuat. Walaupun persaingan simpanan bisa mengurangi keuntungan, hal ini tidak menurunkan kemampuan bank dalam memberikan pinjaman. Bahkan, bank bisa menutupi kekurangan dengan mengurangi cadangan di The Fed atau menyesuaikan bunga yang diberikan ke nasabah simpanan. Pendapatnya sejalan dengan Asosiasi Blockchain yang menegur bank-bank besar karena menganggap stablecoin mengancam dana simpanan dan pasar kredit. Mitos 3: Bank Harus Dilindungi dari Persaingan Kesalahpahaman ketiga adalah bahwa bank merupakan sumber utama kredit sehingga wajib dilindungi dari persaingan stablecoin. Data menunjukkan hal sebaliknya, di mana BIS Data Portal menunjukkan bank hanya menyumbang lebih dari 20% total kredit di AS. Sementara itu, pemberi pinjaman non-bank justru mendominasi pembiayaan bagi rumah tangga dan bisnis. Ini termasuk money market fund, sekuritas berbasis hipotek, dan penyedia kredit swasta lainnya. Malekan berpendapat bahwa stablecoin bahkan bisa menurunkan biaya pinjaman dengan meningkatkan permintaan terhadap aset berbasis Treasury, yang menjadi tolok ukur bagi kredit non-bank. Mitos 4: Bank Komunitas Paling Rentan Narasi yang menyebut bank kecil atau bank daerah sebagai pihak yang paling terancam akibat adopsi stablecoin juga menyesatkan. Malekan menyoroti bahwa bank besar, yaitu “money center banks,” justru menghadapi persaingan nyata, terutama dalam pengelolaan pembayaran dan layanan perusahaan. Bank komunitas yang melayani masyarakat lokal dan nasabah yang umumnya lebih tua, cenderung kecil kemungkinan simpanan mereka berpindah ke dollar digital. Pada intinya, institusi yang sebenarnya paling terancam oleh stablecoin justru adalah mereka yang sudah menikmati laba tinggi dan jangkauan global. Mitos 5: Peminjam Lebih Penting daripada Penabung Terakhir, anggapan bahwa perlindungan peminjam harus lebih diutamakan daripada kepentingan penabung adalah keliru secara mendasar. Memberi imbal hasil ke holder stablecoin akan memperkuat simpanan, dan pada akhirnya mendukung stabilitas ekonomi secara keseluruhan. “Melarang penerbit stablecoin untuk membagi hasil ekonominya adalah kebijakan terselubung yang merugikan penabung Amerika demi keuntungan peminjam,” terang Malekan. Mendorong budaya menabung lewat inovasi akan menguntungkan kedua sisi dalam proses peminjaman – meningkatkan ketahanan konsumen maupun dinamika ekonomi. Penghalang Utama untuk Reformasi Menurut Malekan, perdebatan seputar imbal hasil stablecoin yang masih berlangsung mayoritas dipicu oleh rasa takut dan dijadikan alasan penundaan. Genius Act sebenarnya sudah memperjelas legalitas reward stablecoin, tapi Washington masih saja larut dalam kekhawatiran lama yang digerakkan oleh kepentingan lobi. Malekan mengibaratkan situasi ini seperti meminta Kongres melarang Tesla, daripada membiarkan industri otomotif berinovasi: “Aset digital tidak berbeda. Sebagian besar kekhawatiran yang diangkat oleh bank belum terbukti dan tidak berdasar,” simpul profesor dari Colombia Business School. Dengan adanya legislasi bipartisan, termasuk draft Senat setebal 278 halaman, yang siap untuk pembahasan, saatnya pengambilan keputusan berbasis bukti adalah sekarang. Kesalahpahaman tentang stablecoin menghambat kejelasan regulasi, yang bisa memperlambat proses, dan juga dapat mengganggu daya saing AS dalam ekonomi dolar digital global. Malekan meminta para pembuat kebijakan agar lebih fokus pada fakta, bukan ketakutan. Ia menyoroti bahwa adopsi stablecoin yang didesain dengan baik bisa meningkatkan tabungan, menambah simpanan bank, serta menurunkan biaya pinjaman, sembari mendorong inovasi di sektor pembayaran dan decentralized finance (DeFi). Singkatnya, stablecoin bukanlah ancaman yang selama ini banyak orang takutkan. Mitos yang salah tempat justru yang menjadi masalah. Meluruskan kesalahpahaman ini bisa membuka babak baru reformasi kripto di Amerika, sehingga menciptakan keseimbangan antara manfaat bagi konsumen, efisiensi pasar, dan stabilitas keuangan.

Columbia Business School Membantah 5 Mitos Stablecoin yang Menghambat Reformasi Aset Kripto di AS

Ketika Senat AS semakin dekat untuk merampungkan rancangan undang-undang struktur pasar aset digital, ada satu isu yang tampak sederhana justru menahan kemajuan: imbal hasil stablecoin.

Walaupun pemberitaan menyoroti pengawasan DeFi dan klasifikasi token, dosen Columbia Business School sekaligus analis kebijakan kripto, Omid Malekan, mengingatkan bahwa sebagian besar perdebatan di Washington lebih banyak didasari oleh mitos daripada bukti nyata.

Bank vs. Stablecoin: Apakah Pembuat Undang-Undang AS Melawan Ancaman yang Tidak Nyata?

Malekan mengidentifikasi lima kesalahpahaman yang masih bertahan tentang stablecoin dan dampaknya terhadap sistem perbankan.

Menurut Malekan, yang disebut-sebut telah mengajar di Columbia Business School sejak tahun 2019, jika kesalahpahaman ini dibiarkan, maka akan menghambat terciptanya regulasi kripto yang berarti.

Mitos 1: Stablecoin Mengurangi Dana Simpanan di Bank

Berlawanan dengan kepercayaan umum, adopsi stablecoin tidak selalu menggerus simpanan di bank-bank AS.

Malekan menuturkan bahwa permintaan stablecoin dari luar negeri, bersama dengan cadangan berbasis Treasury yang dimiliki penerbit stablecoin, sebenarnya justru cenderung menaikkan dana simpanan bank domestik.

Setiap penambahan US$1 pada penerbitan stablecoin biasanya memicu lebih banyak aktivitas perbankan melalui transaksi beli-jual surat berharga pemerintah, pasar repo, dan transaksi valuta asing.

“Stablecoin meningkatkan permintaan terhadap dollar di mana-mana,” terang Malekan, sambil menekankan bahwa stablecoin dengan imbal hasil akan memperkuat efek ini.

Mitos 2: Stablecoin Mengancam Pasokan Kredit Bank

Para pengkritik berpendapat bahwa dana simpanan yang berpindah ke stablecoin bisa mengurangi penyaluran kredit. Malekan menyebut ini sebagai kekeliruan antara profitabilitas dan pasokan kredit.

Pada akhir Desember, Justin Slaughter selaku VP urusan regulasi Paradigm yang juga pernah menjadi penasihat senior di SEC dan CFTC, menyoroti bahwa adopsi stablecoin seharusnya bersifat netral atau bahkan membantu memperlancar pembentukan kredit serta menambah dana simpanan bank.

Malekan membantah dengan menegaskan bahwa bank, khususnya institusi besar di AS, memiliki cadangan besar dan margin bunga bersih yang kuat. Walaupun persaingan simpanan bisa mengurangi keuntungan, hal ini tidak menurunkan kemampuan bank dalam memberikan pinjaman.

Bahkan, bank bisa menutupi kekurangan dengan mengurangi cadangan di The Fed atau menyesuaikan bunga yang diberikan ke nasabah simpanan.

Pendapatnya sejalan dengan Asosiasi Blockchain yang menegur bank-bank besar karena menganggap stablecoin mengancam dana simpanan dan pasar kredit.

Mitos 3: Bank Harus Dilindungi dari Persaingan

Kesalahpahaman ketiga adalah bahwa bank merupakan sumber utama kredit sehingga wajib dilindungi dari persaingan stablecoin.

Data menunjukkan hal sebaliknya, di mana BIS Data Portal menunjukkan bank hanya menyumbang lebih dari 20% total kredit di AS. Sementara itu, pemberi pinjaman non-bank justru mendominasi pembiayaan bagi rumah tangga dan bisnis. Ini termasuk money market fund, sekuritas berbasis hipotek, dan penyedia kredit swasta lainnya.

Malekan berpendapat bahwa stablecoin bahkan bisa menurunkan biaya pinjaman dengan meningkatkan permintaan terhadap aset berbasis Treasury, yang menjadi tolok ukur bagi kredit non-bank.

Mitos 4: Bank Komunitas Paling Rentan

Narasi yang menyebut bank kecil atau bank daerah sebagai pihak yang paling terancam akibat adopsi stablecoin juga menyesatkan.

Malekan menyoroti bahwa bank besar, yaitu “money center banks,” justru menghadapi persaingan nyata, terutama dalam pengelolaan pembayaran dan layanan perusahaan. Bank komunitas yang melayani masyarakat lokal dan nasabah yang umumnya lebih tua, cenderung kecil kemungkinan simpanan mereka berpindah ke dollar digital.

Pada intinya, institusi yang sebenarnya paling terancam oleh stablecoin justru adalah mereka yang sudah menikmati laba tinggi dan jangkauan global.

Mitos 5: Peminjam Lebih Penting daripada Penabung

Terakhir, anggapan bahwa perlindungan peminjam harus lebih diutamakan daripada kepentingan penabung adalah keliru secara mendasar.

Memberi imbal hasil ke holder stablecoin akan memperkuat simpanan, dan pada akhirnya mendukung stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

“Melarang penerbit stablecoin untuk membagi hasil ekonominya adalah kebijakan terselubung yang merugikan penabung Amerika demi keuntungan peminjam,” terang Malekan.

Mendorong budaya menabung lewat inovasi akan menguntungkan kedua sisi dalam proses peminjaman – meningkatkan ketahanan konsumen maupun dinamika ekonomi.

Penghalang Utama untuk Reformasi

Menurut Malekan, perdebatan seputar imbal hasil stablecoin yang masih berlangsung mayoritas dipicu oleh rasa takut dan dijadikan alasan penundaan.

Genius Act sebenarnya sudah memperjelas legalitas reward stablecoin, tapi Washington masih saja larut dalam kekhawatiran lama yang digerakkan oleh kepentingan lobi.

Malekan mengibaratkan situasi ini seperti meminta Kongres melarang Tesla, daripada membiarkan industri otomotif berinovasi:

“Aset digital tidak berbeda. Sebagian besar kekhawatiran yang diangkat oleh bank belum terbukti dan tidak berdasar,” simpul profesor dari Colombia Business School.

Dengan adanya legislasi bipartisan, termasuk draft Senat setebal 278 halaman, yang siap untuk pembahasan, saatnya pengambilan keputusan berbasis bukti adalah sekarang.

Kesalahpahaman tentang stablecoin menghambat kejelasan regulasi, yang bisa memperlambat proses, dan juga dapat mengganggu daya saing AS dalam ekonomi dolar digital global.

Malekan meminta para pembuat kebijakan agar lebih fokus pada fakta, bukan ketakutan. Ia menyoroti bahwa adopsi stablecoin yang didesain dengan baik bisa meningkatkan tabungan, menambah simpanan bank, serta menurunkan biaya pinjaman, sembari mendorong inovasi di sektor pembayaran dan decentralized finance (DeFi).

Singkatnya, stablecoin bukanlah ancaman yang selama ini banyak orang takutkan. Mitos yang salah tempat justru yang menjadi masalah. Meluruskan kesalahpahaman ini bisa membuka babak baru reformasi kripto di Amerika, sehingga menciptakan keseimbangan antara manfaat bagi konsumen, efisiensi pasar, dan stabilitas keuangan.
Apa yang Crypto Whale Beli dan Jual Menjelang Rilis CPI AS JanuariLaporan CPI AS bulan Januari akan segera dirilis di tengah momen pasar yang sensitif, dan para crypto whale sudah mengambil posisi. Inflasi diperkirakan akan tetap stabil, sejalan dengan data pendinginan bulan November. Namun, tingkat inflasi masih cukup tinggi hingga harapan pemangkasan suku bunga pada awal 2026 cenderung minim. CPI yang lebih lemah pada November lalu juga gagal mengubah ekspektasi The Fed, menyebabkan kondisi likuiditas tetap ketat. Dalam situasi ini, perilaku whale lebih penting dibandingkan pergerakan harga semata. Saat optimisme penurunan suku bunga rendah, holder besar cenderung bertindak selektif daripada mengejar risiko. Menjelang rilis CPI, data on-chain menunjukkan perbedaan yang jelas di antara tiga token. Crypto whale sedang akumulasi dua token, sementara mengurangi eksposur pada token ketiga setelah reli baru-baru ini. Maple Finance (SYRUP) Di antara token yang dijadikan posisi oleh whale menjelang rilis CPI, Maple Finance (SYRUP) menonjol sebagai taruhan berfokus DeFi, bukan sekadar faktor makro. Dalam 24 jam terakhir, wallet crypto whale Maple Finance meningkatkan kepemilikan mereka sebesar 7,41%. Itu setara dengan 480.000 SYRUP yang ditambah, atau senilai sekitar US$190.000 di harga saat ini. Whale SYRUP | Sumber: Nansen Peningkatan dalam satu hari ini memang terlihat kecil. Tapi, konteks menjadi sangat penting. Selama 30 hari terakhir, saldo whale Maple Finance melonjak lebih dari 718%, menandakan akumulasi yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar aksi beli sesaat. Aksi Borong Selama 30 Hari | Sumber: Nansen Pergerakan harga mendukung perilaku ini. SYRUP naik hampir 40% dalam 30 hari terakhir (menunjukkan keyakinan whale dalam terus membeli), dari sekitar US$0,23 menjadi US$0,40 sejak awal Desember. Pergerakan ini juga didukung secara struktur oleh sinyal tren pada grafiknya. EMA, atau exponential moving average, memberi bobot lebih pada harga terbaru dan membantu menentukan arah tren. Pada grafik harian SYRUP, EMA 20 hari telah menembus ke atas EMA 50 hari dan EMA 100 hari, sebuah urutan yang biasanya menandakan momentum naik yang makin kuat. Saat ini, harga SYRUP berada di atas semua garis EMA utama, menjaga tren bullish tetap kuat. Selain itu, EMA 20 hari sedang mendekati EMA 200 hari, menandakan potensi crossover bullish lain yang akan terjadi. Analisis Harga Maple Finance | Sumber: TradingView Tantangan berikutnya berada di US$0,40, yang telah menjadi resistance kuat dan menolak harga pada 12 Januari. Penutupan harian yang bersih di atas level ini, sekitar kenaikan 3,8%, akan membuka jalan menuju US$0,46, lalu berpotensi lanjut ke US$0,50 jika momentum masih ada. Risiko penurunan tetap terkendali, tapi jelas. Jika kehilangan US$0,36, itu akan menjadi peringatan pertama. Penurunan lebih dalam di bawah US$0,34 akan mendorong harga turun di bawah EMA kunci, sehingga struktur bullish melemah dan berpotensi menguji kembali area US$0,30. Chainlink (LINK) Chainlink menunjukkan posisi whale yang tenang menjelang rilis CPI AS, menandakan akumulasi selektif dibanding aksi risk-on yang meluas. Selama 24 jam terakhir, wallet crypto whale menambah kepemilikan LINK mereka dari 503,12 juta menjadi 503,51 juta, alias tambahan sekitar 390.000 LINK atau US$6,6 juta. Hal ini penting karena ekspektasi pemotongan suku bunga pada awal 2026 masih rendah, yang biasanya membatasi aksi posisi agresif. Sebagai gantinya, para crypto whale tampaknya lebih memilih token infrastruktur yang terkait dengan narasi aset dunia nyata, sebuah tema yang bertahan kuat sepanjang 2025 hingga 2026. Whale LINK | Sumber: Santiment Ingin insight token seperti ini? Daftar ke Newsletter Kripto Harian Editor Harsh Notariya di sini. Struktur harga LINK mendukung posisi ini. Chainlink sedang membentuk pola double bottom pada grafik 12 jam, yaitu fondasi berbentuk W yang sering menandakan tekanan jual mulai habis. Harga telah stabil setelah turun dua kali dan kini perlahan naik. Agar momentum semakin terbangun, LINK perlu menembus terlebih dahulu US$13,50, lalu area penting US$14,90 yang sudah berkali-kali membatasi kenaikan. Jika berhasil breakout 12 jam di atas US$14,90, LINK berpeluang bergerak ke US$15,50 dan US$17,01. Jika reli terus berlanjut, resistance lebih tinggi di sekitar US$19,56 dapat terlihat di depan mata. Analisis Harga Chainlink | Sumber: TradingView Risiko masih jelas. Jika turun di bawah US$12,90, potensi pemulihan jadi melemah, sedangkan kalau harga jatuh ke bawah US$11,70, struktur double-bottom jadi batal sepenuhnya. Polygon Ecosystem Token (POL) Polygon Ecosystem Token (POL) mengalami perubahan besar dalam perilaku whale sesaat sebelum rilis data CPI AS. Walau POL masih naik sekitar 20% dalam sepekan, harga token ini turun hampir 4% selama 24 jam terakhir. Selama koreksi ini, crypto whale besar yang memegang antara 10 juta sampai 100 juta POL mulai mengurangi eksposur setelah sempat menambah kepemilikan pada 10 Januari sampai 12 Januari. Dalam sehari terakhir, kelompok ini mengurangi kepemilikan dari 585,39 juta POL menjadi 582,37 juta POL, artinya ada pengurangan sekitar 3,02 juta token. Whale POL | Sumber: Santiment Waktunya cukup mencolok, sebab aksi jual ini muncul setelah reli kuat beberapa hari berturut-turut. Struktur harga POL membantu menjelaskan sikap hati-hati para pelaku pasar. Harga POL naik tajam dari level terendah di awal Januari, membentuk tiang yang curam, lalu masuk fase konsolidasi ketat yang mirip dengan bull flag. Tapi, koreksi dari puncaknya terjadi cukup tajam, bukan terkendali. Pada saat bersamaan, On-Balance Volume (OBV) yang melacak apakah volume mendukung arah harga, juga sudah berbalik turun dan sekarang berada di dekat garis tren naiknya. Hal ini memberi sinyal tekanan beli melemah walau harga masih berusaha bertahan di kisarannya. Jika trendline ini jebol, struktur harga bisa semakin lemah. Jika POL gagal bertahan di atas US$0,14 lalu US$0,13, struktur bull flag berisiko batal dengan potensi penurunan ke arah US$0,11 bahkan mungkin US$0,09. Skenario bullish hanya akan kembali dipercaya bila harga kembali ke atas US$0,16, itupun harus didukung oleh peningkatan volume. Analisis Harga POL | Sumber: TradingView Untuk saat ini, aksi jual whale memberi isyarat bahwa pergerakan terbaru pada Polygon Ecosystem Token terlihat lebih bersifat siklus daripada benar-benar didasari keyakinan kuat, apalagi menjelang rilis data CPI yang menjadi salah satu peristiwa ekonomi makro besar.

Apa yang Crypto Whale Beli dan Jual Menjelang Rilis CPI AS Januari

Laporan CPI AS bulan Januari akan segera dirilis di tengah momen pasar yang sensitif, dan para crypto whale sudah mengambil posisi. Inflasi diperkirakan akan tetap stabil, sejalan dengan data pendinginan bulan November. Namun, tingkat inflasi masih cukup tinggi hingga harapan pemangkasan suku bunga pada awal 2026 cenderung minim. CPI yang lebih lemah pada November lalu juga gagal mengubah ekspektasi The Fed, menyebabkan kondisi likuiditas tetap ketat.

Dalam situasi ini, perilaku whale lebih penting dibandingkan pergerakan harga semata. Saat optimisme penurunan suku bunga rendah, holder besar cenderung bertindak selektif daripada mengejar risiko. Menjelang rilis CPI, data on-chain menunjukkan perbedaan yang jelas di antara tiga token. Crypto whale sedang akumulasi dua token, sementara mengurangi eksposur pada token ketiga setelah reli baru-baru ini.

Maple Finance (SYRUP)

Di antara token yang dijadikan posisi oleh whale menjelang rilis CPI, Maple Finance (SYRUP) menonjol sebagai taruhan berfokus DeFi, bukan sekadar faktor makro.

Dalam 24 jam terakhir, wallet crypto whale Maple Finance meningkatkan kepemilikan mereka sebesar 7,41%. Itu setara dengan 480.000 SYRUP yang ditambah, atau senilai sekitar US$190.000 di harga saat ini.

Whale SYRUP | Sumber: Nansen

Peningkatan dalam satu hari ini memang terlihat kecil. Tapi, konteks menjadi sangat penting.

Selama 30 hari terakhir, saldo whale Maple Finance melonjak lebih dari 718%, menandakan akumulasi yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar aksi beli sesaat.

Aksi Borong Selama 30 Hari | Sumber: Nansen

Pergerakan harga mendukung perilaku ini.

SYRUP naik hampir 40% dalam 30 hari terakhir (menunjukkan keyakinan whale dalam terus membeli), dari sekitar US$0,23 menjadi US$0,40 sejak awal Desember. Pergerakan ini juga didukung secara struktur oleh sinyal tren pada grafiknya.

EMA, atau exponential moving average, memberi bobot lebih pada harga terbaru dan membantu menentukan arah tren. Pada grafik harian SYRUP, EMA 20 hari telah menembus ke atas EMA 50 hari dan EMA 100 hari, sebuah urutan yang biasanya menandakan momentum naik yang makin kuat. Saat ini, harga SYRUP berada di atas semua garis EMA utama, menjaga tren bullish tetap kuat. Selain itu, EMA 20 hari sedang mendekati EMA 200 hari, menandakan potensi crossover bullish lain yang akan terjadi.

Analisis Harga Maple Finance | Sumber: TradingView

Tantangan berikutnya berada di US$0,40, yang telah menjadi resistance kuat dan menolak harga pada 12 Januari. Penutupan harian yang bersih di atas level ini, sekitar kenaikan 3,8%, akan membuka jalan menuju US$0,46, lalu berpotensi lanjut ke US$0,50 jika momentum masih ada.

Risiko penurunan tetap terkendali, tapi jelas. Jika kehilangan US$0,36, itu akan menjadi peringatan pertama. Penurunan lebih dalam di bawah US$0,34 akan mendorong harga turun di bawah EMA kunci, sehingga struktur bullish melemah dan berpotensi menguji kembali area US$0,30.

Chainlink (LINK)

Chainlink menunjukkan posisi whale yang tenang menjelang rilis CPI AS, menandakan akumulasi selektif dibanding aksi risk-on yang meluas.

Selama 24 jam terakhir, wallet crypto whale menambah kepemilikan LINK mereka dari 503,12 juta menjadi 503,51 juta, alias tambahan sekitar 390.000 LINK atau US$6,6 juta. Hal ini penting karena ekspektasi pemotongan suku bunga pada awal 2026 masih rendah, yang biasanya membatasi aksi posisi agresif. Sebagai gantinya, para crypto whale tampaknya lebih memilih token infrastruktur yang terkait dengan narasi aset dunia nyata, sebuah tema yang bertahan kuat sepanjang 2025 hingga 2026.

Whale LINK | Sumber: Santiment

Ingin insight token seperti ini? Daftar ke Newsletter Kripto Harian Editor Harsh Notariya di sini.

Struktur harga LINK mendukung posisi ini. Chainlink sedang membentuk pola double bottom pada grafik 12 jam, yaitu fondasi berbentuk W yang sering menandakan tekanan jual mulai habis.

Harga telah stabil setelah turun dua kali dan kini perlahan naik. Agar momentum semakin terbangun, LINK perlu menembus terlebih dahulu US$13,50, lalu area penting US$14,90 yang sudah berkali-kali membatasi kenaikan. Jika berhasil breakout 12 jam di atas US$14,90, LINK berpeluang bergerak ke US$15,50 dan US$17,01. Jika reli terus berlanjut, resistance lebih tinggi di sekitar US$19,56 dapat terlihat di depan mata.

Analisis Harga Chainlink | Sumber: TradingView

Risiko masih jelas. Jika turun di bawah US$12,90, potensi pemulihan jadi melemah, sedangkan kalau harga jatuh ke bawah US$11,70, struktur double-bottom jadi batal sepenuhnya.

Polygon Ecosystem Token (POL)

Polygon Ecosystem Token (POL) mengalami perubahan besar dalam perilaku whale sesaat sebelum rilis data CPI AS. Walau POL masih naik sekitar 20% dalam sepekan, harga token ini turun hampir 4% selama 24 jam terakhir.

Selama koreksi ini, crypto whale besar yang memegang antara 10 juta sampai 100 juta POL mulai mengurangi eksposur setelah sempat menambah kepemilikan pada 10 Januari sampai 12 Januari. Dalam sehari terakhir, kelompok ini mengurangi kepemilikan dari 585,39 juta POL menjadi 582,37 juta POL, artinya ada pengurangan sekitar 3,02 juta token.

Whale POL | Sumber: Santiment

Waktunya cukup mencolok, sebab aksi jual ini muncul setelah reli kuat beberapa hari berturut-turut.

Struktur harga POL membantu menjelaskan sikap hati-hati para pelaku pasar. Harga POL naik tajam dari level terendah di awal Januari, membentuk tiang yang curam, lalu masuk fase konsolidasi ketat yang mirip dengan bull flag.

Tapi, koreksi dari puncaknya terjadi cukup tajam, bukan terkendali. Pada saat bersamaan, On-Balance Volume (OBV) yang melacak apakah volume mendukung arah harga, juga sudah berbalik turun dan sekarang berada di dekat garis tren naiknya. Hal ini memberi sinyal tekanan beli melemah walau harga masih berusaha bertahan di kisarannya. Jika trendline ini jebol, struktur harga bisa semakin lemah.

Jika POL gagal bertahan di atas US$0,14 lalu US$0,13, struktur bull flag berisiko batal dengan potensi penurunan ke arah US$0,11 bahkan mungkin US$0,09. Skenario bullish hanya akan kembali dipercaya bila harga kembali ke atas US$0,16, itupun harus didukung oleh peningkatan volume.

Analisis Harga POL | Sumber: TradingView

Untuk saat ini, aksi jual whale memberi isyarat bahwa pergerakan terbaru pada Polygon Ecosystem Token terlihat lebih bersifat siklus daripada benar-benar didasari keyakinan kuat, apalagi menjelang rilis data CPI yang menjadi salah satu peristiwa ekonomi makro besar.
Token NYC Eric Adams Dapat Sorotan setelah Aksi Likuiditas Picu Kekhawatiran Rug PullKekhawatiran semakin meningkat di komunitas aset kripto terkait peluncuran NYC token oleh mantan Walikota New York City, Eric Adams, setelah data on-chain menunjukkan penarikan likuiditas besar-besaran tak lama setelah peluncurannya. Situasi ini membuat sejumlah anggota komunitas berspekulasi tentang kemungkinan adanya rug pull. Tapi, tim proyek menegaskan bahwa pergerakan likuiditas tersebut merupakan bagian dari proses penyeimbangan ulang. Apa Itu Token NYC Milik Mantan Wali Kota Eric Adams? Menurut laporan media, Adams memperkenalkan “NYC Token” dalam acara konferensi pers di Times Square pada hari Senin. Mantan walikota tersebut mengungkapkan bahwa hasil dari altcoin ini akan didistribusikan untuk upaya melawan antisemitisme dan sentimen anti-Amerika. Adams juga mengumumkan peluncuran ini di X (sebelumnya Twitter). Berdasarkan situs resmi proyek, NYC Token dibuat di atas blockchain Solana. NYC Token memiliki total suplai sebesar 1 miliar token. Pada saat token generation event (TGE), suplai yang beredar mencapai 80 juta token. Selain itu, proyek ini mengalokasikan 70% dari total suplai ke dalam “NYC Token Reserve,” yang tidak termasuk dalam suplai beredar yang direncanakan. “NYCTOKEN ($NYC) dimaksudkan sebagai ekspresi dukungan serta keterlibatan terhadap nilai-nilai dan semangat yang terkandung dalam simbol ‘$NYC’ beserta karya seni terkait, dan tidak bertujuan untuk menjadi, ataupun dijadikan, peluang investasi, kontrak investasi, atau sekuritas dalam bentuk apapun. NYCTOKEN tidak terafiliasi, didukung, atau berhubungan dengan Kota New York, lembaga pemerintah, atau organisasi resmi Kota New York. Proyek ini digerakkan oleh komunitas dan dibuat oleh pengembang independen,” terang situs web tersebut. Analis Angkat Kekhawatiran di Tengah Debut Token NYC Berdasarkan data dari GeckoTerminal, token ini sempat mengalami reli kuat tak lama setelah rilis, sehingga kapitalisasi pasarnya melejit lebih dari US$700 juta. Tapi, momentum itu cepat mereda, harga token jatuh drastis dan kapitalisasi pasarnya turun di bawah US$100 juta. Pada waktu publikasi, NYC berhasil mencatat pemulihan ringan, sehingga kapitalisasi pasarnya kembali sekitar US$128,8 juta. Kapitalisasi Pasar NYC Token | Sumber: GeckoTerminal Menariknya, analis on-chain memperingatkan tentang adanya aktivitas mencurigakan. Penyelidik blockchain, Rune Crypto, mengabarkan ke komunitas bahwa US$3,4 juta telah ditarik dari liquidity pool, sehingga diduga sebagai potensi penipuan. “Eric Adams sekarang telah menguras lebih dari US$3.400.000 dari liquidity pool meme coin miliknya: ini sekarang menjadi rug-pull, lucunya kekayaan bersih dia cuma US$2.000.000,” ucap unggahan tersebut. Bubblemaps juga menyoroti “aktivitas LP mencurigakan” di sekitar NYC. Wallet 9Ty4M, yang terhubung dengan pihak pengembang NYC token, membuat liquidity pool satu sisi di Meteora. Pada puncak harga token, wallet ini menarik sekitar US$2,5 juta USDC. Kemudian wallet tersebut juga kembali menyuntikkan dana sekitar US$1,5 juta ke pool setelah harga turun kurang lebih 60%. Platform tersebut menyebutkan bahwa situasi pada token berbasis Solana ini serupa seperti masalah yang terjadi pada token LIBRA. Hal ini memperkuat kekhawatiran tentang transparansi serta perlindungan investor di proyek aset kripto yang terkait politik. “Sayangnya, ini sangat mengingatkan pada peluncuran $LIBRA, di mana likuiditasnya juga dimanipulasi secara besar-besaran,” tulis Bubblemaps . Selain masalah likuiditas, para analis juga menyoroti sentralisasi ekstrem. Analis kripto Star Platinum memperingatkan struktur proyek yang sangat terpusat dan risiko yang menghantui para holder ritel. “5 wallet teratas saja: menguasai 92%+ suplai. Jika LP ditarik → langsung rug pull. Banyak token NYC palsu diluncurkan bersamaan → kebingungan memudahkan scammer. Bahkan penjualan 10% dari wallet yang memegang 70% suplai akan membuat grafik anjlok. Distribusi seperti ini tidak wajar. Ini bukan struktur pasar yang aman. Ritel sangat rentan terpapar,” tekan analis tersebut . Meski demikian, proyek ini telah menanggapi aktivitas on-chain yang mendapat sorotan dengan menyampaikan bahwa pergerakan likuiditas tersebut adalah bagian dari proses penyeimbangan ulang. Ke depannya, perkembangan NYC Token sepertinya akan bergantung pada kejelasan lebih lanjut seputar pengelolaan likuiditas. Pemantauan on-chain yang berlanjut serta komunikasi transparan dari tim proyek bisa membantu menjawab kekhawatiran komunitas seiring aktivitas pasar token ini berkembang dalam beberapa minggu ke depan.

Token NYC Eric Adams Dapat Sorotan setelah Aksi Likuiditas Picu Kekhawatiran Rug Pull

Kekhawatiran semakin meningkat di komunitas aset kripto terkait peluncuran NYC token oleh mantan Walikota New York City, Eric Adams, setelah data on-chain menunjukkan penarikan likuiditas besar-besaran tak lama setelah peluncurannya.

Situasi ini membuat sejumlah anggota komunitas berspekulasi tentang kemungkinan adanya rug pull. Tapi, tim proyek menegaskan bahwa pergerakan likuiditas tersebut merupakan bagian dari proses penyeimbangan ulang.

Apa Itu Token NYC Milik Mantan Wali Kota Eric Adams?

Menurut laporan media, Adams memperkenalkan “NYC Token” dalam acara konferensi pers di Times Square pada hari Senin. Mantan walikota tersebut mengungkapkan bahwa hasil dari altcoin ini akan didistribusikan untuk upaya melawan antisemitisme dan sentimen anti-Amerika. Adams juga mengumumkan peluncuran ini di X (sebelumnya Twitter).

Berdasarkan situs resmi proyek, NYC Token dibuat di atas blockchain Solana. NYC Token memiliki total suplai sebesar 1 miliar token. Pada saat token generation event (TGE), suplai yang beredar mencapai 80 juta token.

Selain itu, proyek ini mengalokasikan 70% dari total suplai ke dalam “NYC Token Reserve,” yang tidak termasuk dalam suplai beredar yang direncanakan.

“NYCTOKEN ($NYC) dimaksudkan sebagai ekspresi dukungan serta keterlibatan terhadap nilai-nilai dan semangat yang terkandung dalam simbol ‘$NYC’ beserta karya seni terkait, dan tidak bertujuan untuk menjadi, ataupun dijadikan, peluang investasi, kontrak investasi, atau sekuritas dalam bentuk apapun. NYCTOKEN tidak terafiliasi, didukung, atau berhubungan dengan Kota New York, lembaga pemerintah, atau organisasi resmi Kota New York. Proyek ini digerakkan oleh komunitas dan dibuat oleh pengembang independen,” terang situs web tersebut.

Analis Angkat Kekhawatiran di Tengah Debut Token NYC

Berdasarkan data dari GeckoTerminal, token ini sempat mengalami reli kuat tak lama setelah rilis, sehingga kapitalisasi pasarnya melejit lebih dari US$700 juta. Tapi, momentum itu cepat mereda, harga token jatuh drastis dan kapitalisasi pasarnya turun di bawah US$100 juta.

Pada waktu publikasi, NYC berhasil mencatat pemulihan ringan, sehingga kapitalisasi pasarnya kembali sekitar US$128,8 juta.

Kapitalisasi Pasar NYC Token | Sumber: GeckoTerminal

Menariknya, analis on-chain memperingatkan tentang adanya aktivitas mencurigakan. Penyelidik blockchain, Rune Crypto, mengabarkan ke komunitas bahwa US$3,4 juta telah ditarik dari liquidity pool, sehingga diduga sebagai potensi penipuan.

“Eric Adams sekarang telah menguras lebih dari US$3.400.000 dari liquidity pool meme coin miliknya: ini sekarang menjadi rug-pull, lucunya kekayaan bersih dia cuma US$2.000.000,” ucap unggahan tersebut.

Bubblemaps juga menyoroti “aktivitas LP mencurigakan” di sekitar NYC. Wallet 9Ty4M, yang terhubung dengan pihak pengembang NYC token, membuat liquidity pool satu sisi di Meteora.

Pada puncak harga token, wallet ini menarik sekitar US$2,5 juta USDC. Kemudian wallet tersebut juga kembali menyuntikkan dana sekitar US$1,5 juta ke pool setelah harga turun kurang lebih 60%.

Platform tersebut menyebutkan bahwa situasi pada token berbasis Solana ini serupa seperti masalah yang terjadi pada token LIBRA. Hal ini memperkuat kekhawatiran tentang transparansi serta perlindungan investor di proyek aset kripto yang terkait politik.

“Sayangnya, ini sangat mengingatkan pada peluncuran $LIBRA, di mana likuiditasnya juga dimanipulasi secara besar-besaran,” tulis Bubblemaps .

Selain masalah likuiditas, para analis juga menyoroti sentralisasi ekstrem. Analis kripto Star Platinum memperingatkan struktur proyek yang sangat terpusat dan risiko yang menghantui para holder ritel.

“5 wallet teratas saja: menguasai 92%+ suplai. Jika LP ditarik → langsung rug pull. Banyak token NYC palsu diluncurkan bersamaan → kebingungan memudahkan scammer. Bahkan penjualan 10% dari wallet yang memegang 70% suplai akan membuat grafik anjlok. Distribusi seperti ini tidak wajar. Ini bukan struktur pasar yang aman. Ritel sangat rentan terpapar,” tekan analis tersebut .

Meski demikian, proyek ini telah menanggapi aktivitas on-chain yang mendapat sorotan dengan menyampaikan bahwa pergerakan likuiditas tersebut adalah bagian dari proses penyeimbangan ulang.

Ke depannya, perkembangan NYC Token sepertinya akan bergantung pada kejelasan lebih lanjut seputar pengelolaan likuiditas. Pemantauan on-chain yang berlanjut serta komunikasi transparan dari tim proyek bisa membantu menjawab kekhawatiran komunitas seiring aktivitas pasar token ini berkembang dalam beberapa minggu ke depan.
Pemulihan Harga Bitcoin Menyembunyikan Risiko yang Meningkat dari Posisi Long yang OverleverageSetelah menghadapi tantangan pekan lalu, Bitcoin (BTC) kembali menguat, sehingga menumbuhkan sentimen optimistis di kalangan trader derivatif. Posisi bullish meningkat tajam dan mendorong indikator utama ke level yang menonjol. Namun, arus exchange-traded fund (ETF) yang mayoritas masih negatif serta lemahnya permintaan institusional memicu kekhawatiran terkait risiko likuidasi long yang tinggi. Derivatif Bitcoin Jadi Bullish meski Permintaan Spot Loyo Bitcoin membuka tahun 2026 dengan momentum kenaikan yang kuat, mencatatkan kenaikan lebih dari 7% dalam lima hari pertama Januari. Meski begitu, koreksi sempat mendorong aset turun di bawah US$90.000 di akhir pekan lalu. Sejak hari Minggu, Bitcoin berhasil stabil dan kembali mencatatkan kinerja positif, diperdagangkan mayoritas di zona hijau dengan volatilitas yang relatif tenang. Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di US$91.299, turun 0,81% dalam 24 jam terakhir. Performa Harga Bitcoin | Sumber: BeInCrypto Markets Pulihnya harga ini memicu sentimen bullish di pasar derivatif. Data dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa Taker Buy/Sell Ratio naik menjadi 1,249 hari ini. Ini adalah level tertinggi sejak awal tahun 2019. Sebagai konteks, Taker Buy/Sell Ratio mengukur keseimbangan antara pembelian agresif dan penjualan di pasar derivatif dengan membandingkan volume order beli dan jual yang dieksekusi pada harga pasar. Rasio di atas 1 menunjukkan bahwa sentimen bullish mendominasi. Sementara itu, rasio di bawah 1 menandakan sentimen bearish yang lebih kuat. Rasio Taker Buy/Sell Bitcoin | Sumber: CryptoQuant Kenaikan pembelian agresif ini bertepatan dengan eksposur long yang sangat meningkat di kalangan trader papan atas. Joao Wedson, pendiri Alphractal, menerangkan bahwa posisi long yang dipegang trader besar sudah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Konsentrasi leverage di satu sisi pasar seperti ini bisa memperbesar kemungkinan pergerakan harga yang tajam karena likuidasi. “Hal ini sebagian menjelaskan aksi berburu likuiditas yang dilakukan exchange, dipicu oleh trader bermodal besar. Exchange sebenarnya tidak terlalu peduli pada trader ritel — yang mereka inginkan adalah menargetkan trader kaya yang berada di posisi yang salah,” tulis Wedson . Indikator pasar tambahan semakin menguatkan kekhawatiran atas tingginya risiko long. Data dari SoSoValue menunjukkan permintaan ETF yang tidak stabil. Meskipun dana ini sempat mengalami arus masuk besar di awal bulan, tak lama kemudian arus keluar membalikkan tren, dengan dana keluar sebesar US$681,01 juta pada pekan lalu. Meski demikian, ETF tetap menarik US$187,33 juta pada hari Senin. “Dengan harga realisasi rata-rata di sekitar US$86.000, mayoritas arus masuk ETF sejak ATH Oktober 2025 kini mengalami kerugian. Lebih dari US$6 miliar telah keluar dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di periode yang sama, menandai rekor tertinggi sejak persetujuannya,” papar analis Darkfost . “Dengan likuiditas Bitcoin yang secara berkala masih tipis, dampak ETF menjadi semakin signifikan, sehingga penting untuk selalu memantau arus ETF.” Di saat yang sama, premi Coinbase menjadi negatif, memperlihatkan bahwa tekanan beli spot dari AS tertinggal dibandingkan pasar global. Jika disimpulkan, data menunjukkan bahwa pasar kini semakin didorong oleh spekulasi leverage daripada permintaan spot. Meskipun trader derivatif secara agresif menargetkan kenaikan, keterlibatan institusi lewat ETF masih belum konsisten dan tekanan beli spot di AS mulai melemah. Hal ini membuat Bitcoin rentan terhadap volatilitas penurunan. Saat posisi long terlalu padat, posisi itu bisa cepat terlepas jika momentum harga melambat. Dalam situasi seperti ini, koreksi kecil saja berisiko memicu gelombang likuidasi, sehingga kerugian bisa melebar sebelum permintaan yang lebih stabil kembali masuk ke pasar.

Pemulihan Harga Bitcoin Menyembunyikan Risiko yang Meningkat dari Posisi Long yang Overleverage

Setelah menghadapi tantangan pekan lalu, Bitcoin (BTC) kembali menguat, sehingga menumbuhkan sentimen optimistis di kalangan trader derivatif. Posisi bullish meningkat tajam dan mendorong indikator utama ke level yang menonjol.

Namun, arus exchange-traded fund (ETF) yang mayoritas masih negatif serta lemahnya permintaan institusional memicu kekhawatiran terkait risiko likuidasi long yang tinggi.

Derivatif Bitcoin Jadi Bullish meski Permintaan Spot Loyo

Bitcoin membuka tahun 2026 dengan momentum kenaikan yang kuat, mencatatkan kenaikan lebih dari 7% dalam lima hari pertama Januari. Meski begitu, koreksi sempat mendorong aset turun di bawah US$90.000 di akhir pekan lalu.

Sejak hari Minggu, Bitcoin berhasil stabil dan kembali mencatatkan kinerja positif, diperdagangkan mayoritas di zona hijau dengan volatilitas yang relatif tenang. Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di US$91.299, turun 0,81% dalam 24 jam terakhir.

Performa Harga Bitcoin | Sumber: BeInCrypto Markets

Pulihnya harga ini memicu sentimen bullish di pasar derivatif. Data dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa Taker Buy/Sell Ratio naik menjadi 1,249 hari ini. Ini adalah level tertinggi sejak awal tahun 2019.

Sebagai konteks, Taker Buy/Sell Ratio mengukur keseimbangan antara pembelian agresif dan penjualan di pasar derivatif dengan membandingkan volume order beli dan jual yang dieksekusi pada harga pasar. Rasio di atas 1 menunjukkan bahwa sentimen bullish mendominasi. Sementara itu, rasio di bawah 1 menandakan sentimen bearish yang lebih kuat.

Rasio Taker Buy/Sell Bitcoin | Sumber: CryptoQuant

Kenaikan pembelian agresif ini bertepatan dengan eksposur long yang sangat meningkat di kalangan trader papan atas. Joao Wedson, pendiri Alphractal, menerangkan bahwa posisi long yang dipegang trader besar sudah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Konsentrasi leverage di satu sisi pasar seperti ini bisa memperbesar kemungkinan pergerakan harga yang tajam karena likuidasi.

“Hal ini sebagian menjelaskan aksi berburu likuiditas yang dilakukan exchange, dipicu oleh trader bermodal besar. Exchange sebenarnya tidak terlalu peduli pada trader ritel — yang mereka inginkan adalah menargetkan trader kaya yang berada di posisi yang salah,” tulis Wedson .

Indikator pasar tambahan semakin menguatkan kekhawatiran atas tingginya risiko long. Data dari SoSoValue menunjukkan permintaan ETF yang tidak stabil. Meskipun dana ini sempat mengalami arus masuk besar di awal bulan, tak lama kemudian arus keluar membalikkan tren, dengan dana keluar sebesar US$681,01 juta pada pekan lalu. Meski demikian, ETF tetap menarik US$187,33 juta pada hari Senin.

“Dengan harga realisasi rata-rata di sekitar US$86.000, mayoritas arus masuk ETF sejak ATH Oktober 2025 kini mengalami kerugian. Lebih dari US$6 miliar telah keluar dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di periode yang sama, menandai rekor tertinggi sejak persetujuannya,” papar analis Darkfost . “Dengan likuiditas Bitcoin yang secara berkala masih tipis, dampak ETF menjadi semakin signifikan, sehingga penting untuk selalu memantau arus ETF.”

Di saat yang sama, premi Coinbase menjadi negatif, memperlihatkan bahwa tekanan beli spot dari AS tertinggal dibandingkan pasar global.

Jika disimpulkan, data menunjukkan bahwa pasar kini semakin didorong oleh spekulasi leverage daripada permintaan spot. Meskipun trader derivatif secara agresif menargetkan kenaikan, keterlibatan institusi lewat ETF masih belum konsisten dan tekanan beli spot di AS mulai melemah.

Hal ini membuat Bitcoin rentan terhadap volatilitas penurunan. Saat posisi long terlalu padat, posisi itu bisa cepat terlepas jika momentum harga melambat. Dalam situasi seperti ini, koreksi kecil saja berisiko memicu gelombang likuidasi, sehingga kerugian bisa melebar sebelum permintaan yang lebih stabil kembali masuk ke pasar.
Senat AS Mendukung Bank saat RUU Kripto Batasi Imbal Hasil Stablecoin PasifSetelah berbulan-bulan negosiasi bipartisan yang intens, kini teks lengkap rancangan undang-undang struktur pasar aset virtual setebal 278 halaman dari Senat telah dirilis. Ini menjadi titik balik penting bagi regulasi aset kripto di Amerika Serikat. Walaupun sebagian besar perhatian media tertuju pada aturan DeFi dan klasifikasi token, ada perubahan yang lebih halus yang mungkin luput dari perhatian. Rancangan Undang-Undang Kripto Senat AS Batasi Imbal Hasil Stablecoin dan Untungkan Bank dalam Draft 278 Halaman Rancangan undang-undang ini bisa saja menguntungkan bank tradisional dengan cara membatasi imbal hasil pasif dari stablecoin. Dalam draf terbaru tersebut dijelaskan bahwa perusahaan tidak boleh membayar bunga hanya karena seseorang memegang saldo stablecoin. Sebaliknya, reward hanya diperbolehkan jika terkait dengan penggunaan akun secara aktif. Ini artinya: Staking Penyediaan likuiditas Transaksi Menjadi jaminan, atau Berpartisipasi dalam tata kelola jaringan. Secara praktik, pengguna ritel yang sebelumnya mendapat imbal hasil pasif seperti deposito bank akan menghadapi hambatan. Sementara itu, bank tetap bisa membayar bunga pada deposito nasabah mereka. “Bank sepertinya memenangkan putaran kali ini soal imbal hasil stablecoin,” ujar Eleanor Terrett, host dari Crypto in America, sambil menyorot ketentuan di halaman 189 dari draf tersebut. Pengesahan ini membawa urgensi tersendiri. Para senator hanya punya waktu 48 jam untuk mengajukan amandemen sebelum rapat markup hari Kamis, sehingga bentuk akhir dari undang-undang ini masih belum pasti. Jika ketentuan ini tidak berubah, aturan ini bisa membatasi daya tarik platform kripto bagi investor ritel dan mendorong mereka ke aktivitas DeFi atau ke bank konvensional sebagai alternatif. Sederhananya, pendekatan ini berisiko menghambat inovasi tanpa menyentuh akar masalah sistemik seperti depeg stablecoin yang pernah terjadi dan jadi alasan utama kenapa imbal hasil ditawarkan. Kejelasan Token dan Guardrail DeFi: Bagaimana RUU Menyeimbangkan Inovasi dan Pengawasan Selain aturan imbal hasil, draf undang-undang ini juga mengatur struktur pasar secara keseluruhan, klasifikasi token, serta pengawasan DeFi. Menariknya, token seperti XRP, SOL, LTC, HBAR, DOGE, dan LINK diperlakukan sama dengan BTC dan ETH dalam klasifikasi ETF, sehingga dapat mengurangi beban kepatuhan untuk perusahaan kripto besar serta memberi kejelasan lebih bagi investor. Rancangan undang-undang ini juga memasukkan kompromi yang melindungi pengembang perangkat lunak sekaligus mengurangi potensi arbitrase regulasi antara DeFi dan TradFi, yang sebelumnya menjadi titik panas baik bagi pelaku industri maupun perbankan. Protokol DeFi, sesuai catatan yang tertera dalam draf, harus beroperasi dalam batasan yang jelas agar tidak membuka celah hukum yang dapat melemahkan undang-undang sekuritas dan komoditas. Di saat yang sama, pengembang yang tidak mengendalikan proyek akan terlindungi dari tuntutan berlebih. Senator Cynthia Lummis, pendukung utama aset kripto, memandang perilisan draf ini sebagai tonggak penting. “Digital Asset Market Clarity Act akan memberikan kepastian untuk menjaga inovasi tetap berkembang di AS & melindungi konsumen,” tutur dia, sembari mendorong rekan-rekannya agar tidak mundur dari capaian bipartisan menjelang pembahasan di Komite Perbankan. Rancangan undang-undang ini, melanjutkan upaya sebelumnya seperti kerangka Lummis-Gillibrand, bukan hanya jadi peta jalan regulasi. Draf ini sepertinya akan diam-diam mengubah ekosistem kripto di Amerika Serikat. Dengan membatasi imbal hasil pasif stablecoin, draf ini secara halus mempertahankan model perbankan tradisional sekaligus mendorong keterlibatan lebih aktif dalam DeFi dan tata kelola jaringan. Kompromi ini dapat memengaruhi perilaku pengguna ritel dan membentuk persaingan antara platform kripto dan bank ke depannya.

Senat AS Mendukung Bank saat RUU Kripto Batasi Imbal Hasil Stablecoin Pasif

Setelah berbulan-bulan negosiasi bipartisan yang intens, kini teks lengkap rancangan undang-undang struktur pasar aset virtual setebal 278 halaman dari Senat telah dirilis. Ini menjadi titik balik penting bagi regulasi aset kripto di Amerika Serikat.

Walaupun sebagian besar perhatian media tertuju pada aturan DeFi dan klasifikasi token, ada perubahan yang lebih halus yang mungkin luput dari perhatian.

Rancangan Undang-Undang Kripto Senat AS Batasi Imbal Hasil Stablecoin dan Untungkan Bank dalam Draft 278 Halaman

Rancangan undang-undang ini bisa saja menguntungkan bank tradisional dengan cara membatasi imbal hasil pasif dari stablecoin.

Dalam draf terbaru tersebut dijelaskan bahwa perusahaan tidak boleh membayar bunga hanya karena seseorang memegang saldo stablecoin. Sebaliknya, reward hanya diperbolehkan jika terkait dengan penggunaan akun secara aktif. Ini artinya:

Staking

Penyediaan likuiditas

Transaksi

Menjadi jaminan, atau

Berpartisipasi dalam tata kelola jaringan.

Secara praktik, pengguna ritel yang sebelumnya mendapat imbal hasil pasif seperti deposito bank akan menghadapi hambatan. Sementara itu, bank tetap bisa membayar bunga pada deposito nasabah mereka.

“Bank sepertinya memenangkan putaran kali ini soal imbal hasil stablecoin,” ujar Eleanor Terrett, host dari Crypto in America, sambil menyorot ketentuan di halaman 189 dari draf tersebut.

Pengesahan ini membawa urgensi tersendiri. Para senator hanya punya waktu 48 jam untuk mengajukan amandemen sebelum rapat markup hari Kamis, sehingga bentuk akhir dari undang-undang ini masih belum pasti.

Jika ketentuan ini tidak berubah, aturan ini bisa membatasi daya tarik platform kripto bagi investor ritel dan mendorong mereka ke aktivitas DeFi atau ke bank konvensional sebagai alternatif.

Sederhananya, pendekatan ini berisiko menghambat inovasi tanpa menyentuh akar masalah sistemik seperti depeg stablecoin yang pernah terjadi dan jadi alasan utama kenapa imbal hasil ditawarkan.

Kejelasan Token dan Guardrail DeFi: Bagaimana RUU Menyeimbangkan Inovasi dan Pengawasan

Selain aturan imbal hasil, draf undang-undang ini juga mengatur struktur pasar secara keseluruhan, klasifikasi token, serta pengawasan DeFi. Menariknya, token seperti XRP, SOL, LTC, HBAR, DOGE, dan LINK diperlakukan sama dengan BTC dan ETH dalam klasifikasi ETF, sehingga dapat mengurangi beban kepatuhan untuk perusahaan kripto besar serta memberi kejelasan lebih bagi investor.

Rancangan undang-undang ini juga memasukkan kompromi yang melindungi pengembang perangkat lunak sekaligus mengurangi potensi arbitrase regulasi antara DeFi dan TradFi, yang sebelumnya menjadi titik panas baik bagi pelaku industri maupun perbankan.

Protokol DeFi, sesuai catatan yang tertera dalam draf, harus beroperasi dalam batasan yang jelas agar tidak membuka celah hukum yang dapat melemahkan undang-undang sekuritas dan komoditas. Di saat yang sama, pengembang yang tidak mengendalikan proyek akan terlindungi dari tuntutan berlebih.

Senator Cynthia Lummis, pendukung utama aset kripto, memandang perilisan draf ini sebagai tonggak penting.

“Digital Asset Market Clarity Act akan memberikan kepastian untuk menjaga inovasi tetap berkembang di AS & melindungi konsumen,” tutur dia, sembari mendorong rekan-rekannya agar tidak mundur dari capaian bipartisan menjelang pembahasan di Komite Perbankan.

Rancangan undang-undang ini, melanjutkan upaya sebelumnya seperti kerangka Lummis-Gillibrand, bukan hanya jadi peta jalan regulasi. Draf ini sepertinya akan diam-diam mengubah ekosistem kripto di Amerika Serikat.

Dengan membatasi imbal hasil pasif stablecoin, draf ini secara halus mempertahankan model perbankan tradisional sekaligus mendorong keterlibatan lebih aktif dalam DeFi dan tata kelola jaringan.

Kompromi ini dapat memengaruhi perilaku pengguna ritel dan membentuk persaingan antara platform kripto dan bank ke depannya.
Keuntungan Shiba Inu Anjlok 62% setelah Harga SHIB Anjlok Minggu IniHarga Shiba Inu melemah tajam selama seminggu terakhir, menghapus sebagian besar keuntungan yang baru diraih dan memberikan tekanan pada kepercayaan investor. SHIB turun setelah reli singkat awal bulan ini, sehingga sentimen berubah dari akumulasi menjadi aksi jual. Ketika kerugian terus bertambah, banyak holder segera mengunci sisa nilai aset mereka sehingga mempercepat penurunan harga. Keuntungan Shiba Inu Turun Data on-chain menunjukkan betapa cepat situasi memburuk. Di awal tahun, hampir 140 triliun SHIB berada dalam kondisi untung. Angka itu mencerminkan optimisme setelah lonjakan harga di bulan Desember dan meningkatnya partisipasi retail. Momen positif tersebut tidak bertahan lama. Dalam waktu satu minggu, pasokan yang masih untung turun sebesar 62%. Saat ini, hanya sekitar 57 triliun SHIB yang masih dalam keadaan menguntungkan. Kontraksi yang cepat ini menunjukkan betapa cepatnya keuntungan menghilang ketika harga berbalik turun. Turunnya profitabilitas sering membuat perilaku investor ikut berubah. Karena semakin sedikit holder yang mendapat untung, biasanya tekanan jual pun meningkat. Ingin wawasan token seperti ini setiap hari? Daftar ke Newsletter Harian Kripto Editor Harsh Notariya di sini. Pasokan Shiba Inu yang Masih Untung | Sumber: Glassnode Indikator makro mengonfirmasi adanya pergeseran menuju distribusi. Data perubahan posisi bersih exchange menunjukkan grafik batang hijau yang konsisten, menandakan semakin banyak aliran masuk ke exchange. Pola ini menunjukkan bahwa fase akumulasi sudah berakhir dan aksi jual mulai mendominasi. Seiring harga SHIB turun, saldo di exchange justru meningkat. Kenaikan saldo exchange biasanya menjadi indikasi potensi pelemahan lebih lanjut, karena token-relatif siap untuk dijual. Tren ini memperlihatkan bahwa holder lebih memilih untuk bersiap jual dibanding menunggu harga pulih. Tekanan jual yang meningkat dan turunnya keuntungan menciptakan lingkaran umpan balik negatif. Kerugian membuat banyak investor keluar, dan aksi keluar tersebut semakin membebani harga. Tanpa adanya permintaan baru, situasi ini meninggalkan Shiba Inu dalam posisi rentan terhadap penurunan lebih lanjut. Perubahan Posisi Bersih Shiba Inu di Exchange | Sumber: Glassnode Harga SHIB Masih Bertahan di Atas Support Shiba Inu diperdagangkan di kisaran US$0,00000857 pada waktu publikasi, tepat di atas support US$0,00000836. Meme coin ini sudah turun 9,6% dalam seminggu terakhir. Sebelumnya, SHIB sempat menyentuh US$0,00001000 pada lonjakan intraday tanggal 5 Desember. Meningkatnya tekanan jual mengancam level support saat ini. Jika harga menembus di bawah US$0,00000836, maka level tersebut juga akan sekaligus menembus EMA 50 hari. Jika ini terjadi, potensi penurunan bisa bergerak ke US$0,00000786 dan memperdalam fase koreksi saat ini. Analisis Harga Shiba Inu | Sumber: TradingView Pemulihan masih mungkin terjadi jika pembeli mampu mempertahankan support. Jika Shiba Inu memantul dari US$0,00000836, SHIB dapat naik ke kisaran US$0,00000898. Jika level itu berhasil ditembus, EMA 100 hari akan berubah menjadi support, membatalkan skenario bearish dan menstabilkan pergerakan harga.

Keuntungan Shiba Inu Anjlok 62% setelah Harga SHIB Anjlok Minggu Ini

Harga Shiba Inu melemah tajam selama seminggu terakhir, menghapus sebagian besar keuntungan yang baru diraih dan memberikan tekanan pada kepercayaan investor. SHIB turun setelah reli singkat awal bulan ini, sehingga sentimen berubah dari akumulasi menjadi aksi jual.

Ketika kerugian terus bertambah, banyak holder segera mengunci sisa nilai aset mereka sehingga mempercepat penurunan harga.

Keuntungan Shiba Inu Turun

Data on-chain menunjukkan betapa cepat situasi memburuk. Di awal tahun, hampir 140 triliun SHIB berada dalam kondisi untung. Angka itu mencerminkan optimisme setelah lonjakan harga di bulan Desember dan meningkatnya partisipasi retail.

Momen positif tersebut tidak bertahan lama. Dalam waktu satu minggu, pasokan yang masih untung turun sebesar 62%. Saat ini, hanya sekitar 57 triliun SHIB yang masih dalam keadaan menguntungkan. Kontraksi yang cepat ini menunjukkan betapa cepatnya keuntungan menghilang ketika harga berbalik turun.

Turunnya profitabilitas sering membuat perilaku investor ikut berubah. Karena semakin sedikit holder yang mendapat untung, biasanya tekanan jual pun meningkat.

Ingin wawasan token seperti ini setiap hari? Daftar ke Newsletter Harian Kripto Editor Harsh Notariya di sini.

Pasokan Shiba Inu yang Masih Untung | Sumber: Glassnode

Indikator makro mengonfirmasi adanya pergeseran menuju distribusi. Data perubahan posisi bersih exchange menunjukkan grafik batang hijau yang konsisten, menandakan semakin banyak aliran masuk ke exchange. Pola ini menunjukkan bahwa fase akumulasi sudah berakhir dan aksi jual mulai mendominasi.

Seiring harga SHIB turun, saldo di exchange justru meningkat. Kenaikan saldo exchange biasanya menjadi indikasi potensi pelemahan lebih lanjut, karena token-relatif siap untuk dijual. Tren ini memperlihatkan bahwa holder lebih memilih untuk bersiap jual dibanding menunggu harga pulih.

Tekanan jual yang meningkat dan turunnya keuntungan menciptakan lingkaran umpan balik negatif. Kerugian membuat banyak investor keluar, dan aksi keluar tersebut semakin membebani harga. Tanpa adanya permintaan baru, situasi ini meninggalkan Shiba Inu dalam posisi rentan terhadap penurunan lebih lanjut.

Perubahan Posisi Bersih Shiba Inu di Exchange | Sumber: Glassnode Harga SHIB Masih Bertahan di Atas Support

Shiba Inu diperdagangkan di kisaran US$0,00000857 pada waktu publikasi, tepat di atas support US$0,00000836. Meme coin ini sudah turun 9,6% dalam seminggu terakhir. Sebelumnya, SHIB sempat menyentuh US$0,00001000 pada lonjakan intraday tanggal 5 Desember.

Meningkatnya tekanan jual mengancam level support saat ini. Jika harga menembus di bawah US$0,00000836, maka level tersebut juga akan sekaligus menembus EMA 50 hari. Jika ini terjadi, potensi penurunan bisa bergerak ke US$0,00000786 dan memperdalam fase koreksi saat ini.

Analisis Harga Shiba Inu | Sumber: TradingView

Pemulihan masih mungkin terjadi jika pembeli mampu mempertahankan support. Jika Shiba Inu memantul dari US$0,00000836, SHIB dapat naik ke kisaran US$0,00000898. Jika level itu berhasil ditembus, EMA 100 hari akan berubah menjadi support, membatalkan skenario bearish dan menstabilkan pergerakan harga.
Ethereum Hadapi Resistance Penting di 2026, namun Arus Masuk ETF ETH US$5,04 Juta Beri HarapanHarga Ethereum (ETH) saat ini bergerak dengan bias bullish, tetap bertahan di atas support yang diberikan oleh garis tren naik yang sudah terbentuk sejak lama. Sementara ada resistance penting di timeframe 4 jam, arus positif pada ETF ETH di hari Senin menghadirkan harapan baru. Aliran Masuk Exchange-Traded Fund (ETF) Ethereum Lebih dari US$5 Juta pada Senin Dorong Reli Harga ETH Harga Ethereum terus menunjukkan kekuatan, setidaknya di timeframe 4 jam, didorong oleh arus masuk lebih dari US$5 juta ke ETF pada hari Senin. Data di SoSoValue memperlihatkan bahwa pada tanggal 12 Januari, exchange-traded fund (ETF) Ethereum spot mencatat arus bersih masuk sebesar US$5,042 juta. Dengan demikian, ETF ini berhasil mengakhiri tren arus keluar bersih selama 3 hari berturut-turut. Arus ETF Ethereum | Sumber: SoSoValue Di tengah arus positif ini, ETF ETHA milik BlackRock justru mencatat arus keluar sebesar US$79,9 juta, menjadi satu-satunya arus keluar di hari Senin, sementara Fidelity, Bitwise, VanEck, Invesco, dan Franklin Templeton tidak mencatat arus masuk atau keluar sama sekali. Di sisi lain, 21Shares mencatat arus masuk positif sebesar US$5 juta, sedangkan produk investasi ETHE dan ETH milik Grayscale masing-masing membukukan arus masuk US$50,7 juta dan US$29,3 juta. Per tanggal 12 Januari, total kumulatif arus bersih masuk ke ETF Ethereum mencapai US$12,44 miliar, dengan total nilai transaksi sebesar US$940,66 juta dan total aset bersih senilai US$18,88 miliar. Menariknya, total aset bersih ini mewakili lebih dari 5% kapitalisasi pasar Ethereum. Di sisi lain, ETF Bitcoin spot mencatat arus bersih masuk sebesar US$117 juta, menandai perubahan tren setelah empat hari berturut-turut mengalami arus keluar bersih. Sementara itu, ETF Solana spot memperoleh arus bersih masuk sebesar US$10,67 juta, dan ETF XRP spot mencatat arus bersih masuk total US$15,04 juta. Prospek Harga Ethereum setelah Arus Masuk US$5,04 Juta pada Hari Senin Dengan harga Ethereum yang bertahan di atas support multi-minggu dari garis tren naik, tren dominan tetap bullish. Karena nilai Relative Strength Index (RSI) yang naik, momentum juga meningkat. Jika kondisi ini terus berlanjut, harga ETH berpotensi kembali naik. Meski begitu, posisi RSI di sekitar level 50 menandakan peluang masih seimbang, sehingga aksi harga bisa berubah menjadi bearish sewaktu-waktu. Namun, secara keseluruhan, pergerakan dan posisi RSI di atas 50 mengindikasikan dominasi bull, sentimen yang bisa semakin kuat jika arus masuk ETF ETH pada hari Selasa juga tetap positif. Trader yang ingin membuka posisi long untuk Ethereum, disarankan menunggu penutupan candlestick yang jelas di atas level resistance US$3.150. Sinyal ini akan semakin kuat jika harga mampu melakukan retest pada level tersebut, yaitu harga menembus, lalu menguji kembali, dan akhirnya tetap bertahan di atas level tersebut pada timeframe 4 jam. Jika berhasil, harga Ethereum bisa menargetkan zona supply antara US$3.223 hingga US$3.296 sebagai target berikutnya. Zona ini merupakan blok order bearish yang menjadi penghalang bagi Ethereum untuk merebut kembali harga puncaknya. Performa Harga Ethereum (ETH) | Sumber: TradingView Sebaliknya, dengan harga Ethereum yang menghadapi resistance langsung di US$3.150, profil volume memperlihatkan adanya kekuatan oposisi yang besar di level harga saat ini sekitar US$3.134. Hal ini terlihat dari node besar profil volume bullish (batang horizontal hijau) dan bearish (merah) di chart. Tetapi, dengan lebih banyak node bearish dibandingkan bullish, harga Ethereum bisa saja terkoreksi, apalagi jika arus ETF ETH pada hari Selasa berubah menjadi negatif. Jika terjadi koreksi, skenario bullish Ethereum akan tidak berlaku jika support dari garis tren naik jebol, yang dapat membuat ETH kembali retest ke level US$3.058 yang terakhir terlihat pada 9 Januari.

Ethereum Hadapi Resistance Penting di 2026, namun Arus Masuk ETF ETH US$5,04 Juta Beri Harapan

Harga Ethereum (ETH) saat ini bergerak dengan bias bullish, tetap bertahan di atas support yang diberikan oleh garis tren naik yang sudah terbentuk sejak lama.

Sementara ada resistance penting di timeframe 4 jam, arus positif pada ETF ETH di hari Senin menghadirkan harapan baru.

Aliran Masuk Exchange-Traded Fund (ETF) Ethereum Lebih dari US$5 Juta pada Senin Dorong Reli Harga ETH

Harga Ethereum terus menunjukkan kekuatan, setidaknya di timeframe 4 jam, didorong oleh arus masuk lebih dari US$5 juta ke ETF pada hari Senin.

Data di SoSoValue memperlihatkan bahwa pada tanggal 12 Januari, exchange-traded fund (ETF) Ethereum spot mencatat arus bersih masuk sebesar US$5,042 juta. Dengan demikian, ETF ini berhasil mengakhiri tren arus keluar bersih selama 3 hari berturut-turut.

Arus ETF Ethereum | Sumber: SoSoValue

Di tengah arus positif ini, ETF ETHA milik BlackRock justru mencatat arus keluar sebesar US$79,9 juta, menjadi satu-satunya arus keluar di hari Senin, sementara Fidelity, Bitwise, VanEck, Invesco, dan Franklin Templeton tidak mencatat arus masuk atau keluar sama sekali.

Di sisi lain, 21Shares mencatat arus masuk positif sebesar US$5 juta, sedangkan produk investasi ETHE dan ETH milik Grayscale masing-masing membukukan arus masuk US$50,7 juta dan US$29,3 juta.

Per tanggal 12 Januari, total kumulatif arus bersih masuk ke ETF Ethereum mencapai US$12,44 miliar, dengan total nilai transaksi sebesar US$940,66 juta dan total aset bersih senilai US$18,88 miliar. Menariknya, total aset bersih ini mewakili lebih dari 5% kapitalisasi pasar Ethereum.

Di sisi lain, ETF Bitcoin spot mencatat arus bersih masuk sebesar US$117 juta, menandai perubahan tren setelah empat hari berturut-turut mengalami arus keluar bersih. Sementara itu, ETF Solana spot memperoleh arus bersih masuk sebesar US$10,67 juta, dan ETF XRP spot mencatat arus bersih masuk total US$15,04 juta.

Prospek Harga Ethereum setelah Arus Masuk US$5,04 Juta pada Hari Senin

Dengan harga Ethereum yang bertahan di atas support multi-minggu dari garis tren naik, tren dominan tetap bullish.

Karena nilai Relative Strength Index (RSI) yang naik, momentum juga meningkat. Jika kondisi ini terus berlanjut, harga ETH berpotensi kembali naik. Meski begitu, posisi RSI di sekitar level 50 menandakan peluang masih seimbang, sehingga aksi harga bisa berubah menjadi bearish sewaktu-waktu.

Namun, secara keseluruhan, pergerakan dan posisi RSI di atas 50 mengindikasikan dominasi bull, sentimen yang bisa semakin kuat jika arus masuk ETF ETH pada hari Selasa juga tetap positif.

Trader yang ingin membuka posisi long untuk Ethereum, disarankan menunggu penutupan candlestick yang jelas di atas level resistance US$3.150. Sinyal ini akan semakin kuat jika harga mampu melakukan retest pada level tersebut, yaitu harga menembus, lalu menguji kembali, dan akhirnya tetap bertahan di atas level tersebut pada timeframe 4 jam.

Jika berhasil, harga Ethereum bisa menargetkan zona supply antara US$3.223 hingga US$3.296 sebagai target berikutnya. Zona ini merupakan blok order bearish yang menjadi penghalang bagi Ethereum untuk merebut kembali harga puncaknya.

Performa Harga Ethereum (ETH) | Sumber: TradingView

Sebaliknya, dengan harga Ethereum yang menghadapi resistance langsung di US$3.150, profil volume memperlihatkan adanya kekuatan oposisi yang besar di level harga saat ini sekitar US$3.134. Hal ini terlihat dari node besar profil volume bullish (batang horizontal hijau) dan bearish (merah) di chart.

Tetapi, dengan lebih banyak node bearish dibandingkan bullish, harga Ethereum bisa saja terkoreksi, apalagi jika arus ETF ETH pada hari Selasa berubah menjadi negatif.

Jika terjadi koreksi, skenario bullish Ethereum akan tidak berlaku jika support dari garis tren naik jebol, yang dapat membuat ETH kembali retest ke level US$3.058 yang terakhir terlihat pada 9 Januari.
CME Bersiap Hadapi Potensi Tekanan Emas dan Perak dengan Aturan Margin BaruChicago Mercantile Exchange (CME) akan segera mengubah cara risiko dihitung di pasar logam mulia—dan dampaknya meluas jauh melebihi sekadar penyesuaian teknis biasa. Mulai hari ini, 13 Januari 2026, CME akan mengubah persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas, perak, platinum, dan paladium dari nominal tetap dalam bentuk US$ menjadi persentase dari nilai nosional. Apa Arti Aturan Margin Baru CME untuk Trader Emas dan Perak Menurut bursa derivatif tersebut, langkah ini mengikuti tinjauan rutin terhadap volatilitas pasar untuk memastikan cakupan jaminan yang memadai. “Berdasarkan tinjauan rutin volatilitas pasar untuk memastikan cakupan jaminan yang cukup… CME… menyetujui persyaratan bond kinerja…[dari]berdasarkan jumlah US$…[menjadi]berdasarkan persentase dari nilai nosional,” bunyi kutipan dalam pengumuman tersebut. Dengan skema baru ini, margin emas akan ditetapkan sebesar 5%, sedangkan margin perak naik menjadi 9%, dan platinum serta paladium juga akan dihitung berdasarkan persentase serupa. Meskipun CME menganggap perubahan ini sebagai hal prosedural, pelaku pasar melihat sinyal yang lebih dalam: manajemen risiko di kontrak berjangka logam mulia kini benar-benar terkait langsung dengan kenaikan harga itu sendiri. Sebelumnya, kenaikan margin CME dilakukan dengan menaikan nominal US$ secara terpisah, sebagai alat kasar yang meningkatkan biaya satu kali lalu tetap bertahan. Model baru ini berbeda. Dengan mengaitkan persyaratan margin dengan nilai nosional, CME secara efektif memperkenalkan mekanisme yang dapat menyesuaikan sendiri: saat harga naik, kebutuhan jaminan pun otomatis meningkat. “Semakin tinggi harga emas dan perak, semakin besar jaminan yang harus disetor oleh posisi short. Artinya: Melakukan short pada logam kini jadi jauh lebih mahal. Trader kertas yang terlalu ber-leverage akan semakin cepat terhimpit. Forced covering = volatilitas makin tinggi,” tulis analis Echo X. Secara praktik, ini berarti penjual short menghadapi peningkatan biaya secara bertahap, tepat ketika pasar bergerak melawan mereka. Melakukan short menjadi lebih mahal, dan trader kertas berleverage tinggi akan semakin terdesak dan berpotensi harus menutup posisi paksa. Kenaikan harga memaksa penambahan posting margin, yang dapat memicu deleverage paksa, margin call, atau bahkan likuidasi penuh. Bagi investor emas dan perak, hal ini patut diperhatikan karena dinamika seperti ini biasanya muncul saat pasar logam berada di titik tekanan besar. Jejak Titik Balik Masa Lalu di Tengah Ketatnya Fisik vs. Risiko Kertas BeInCrypto sebelumnya melaporkan bahwa intervensi margin CME sering terjadi bersamaan dengan periode volatilitas tinggi dan ketidakseimbangan struktural. Pada bulan Desember, media ini menyoroti bagaimana lonjakan margin perak secara berulang mengingatkan pada tahun 2011 dan 1980, dua periode di mana kenaikan persyaratan jaminan mempercepat penjualan paksa dan menyingkap leverage berlebihan. Meskipun perubahan saat ini tidak seagresif lima kali kenaikan margin dalam sembilan hari di tahun 2011, logika dasarnya tetap serupa. Analis makro Qinbafrank saat itu memperingatkan bahwa menaikkan margin, apapun motifnya, pasti akan menurunkan leverage dan membuat trader harus menambah modal atau keluar dari posisi, sering kali tanpa memedulikan fundamental jangka panjang. “Kenaikan margin secara sederhana mengurangi leverage: Trader butuh lebih banyak modal untuk mengontrol ukuran kontrak yang sama… langkah CME tetap perlu diamati—kita tidak boleh terlalu FOMO,” tulis Qinbafrank. Perbedaan utama saat ini adalah tekanannya kini bersifat dinamis, bukan statis. Perubahan ini terjadi di tengah pergerakan harga yang ekstrem. Perak telah naik lebih dari 100% pada tahun 2025, dipicu oleh aliran spekulatif dan akhirnya oleh kelangkaan pasokan fisik. Banyak aktivitas kini telah beralih di luar exchange, dengan hanya sekitar 100.000 kontrak futures perak Maret 2026 yang masih terbuka, sedangkan opsi SLV (iShares Silver Trust) dan perdagangan fisik perak makin banyak dilakukan over-the-counter. Pergeseran tersebut bisa membatasi dampak volume langsung dari aturan margin baru ini. Tapi, hal tersebut tidak mengurangi dampak sinyal yang lahir dari perubahan ini. Mengapa Investor Jangka Panjang Perlu Memperhatikan Penting untuk disadari bahwa CME bukan sedang mencoba menekan harga; mereka justru tengah bersiap menghadapi kemungkinan tekanan di masa depan. Inilah inti pelajaran bagi investor jangka panjang dan alokator dana. Kerangka margin hampir tidak pernah diubah secara signifikan saat pasar tenang. Perubahan terjadi saat exchange melihat risiko sistemik yang semakin meningkat. Walaupun volume perdagangan cenderung tetap, perubahan ke margin berbasis persentase menunjukkan makin lebarnya jarak antara permintaan fisik dan posisi kertas di pasar. Bagi investor yang terekspos pada logam mulia—baik lewat futures, ETF, maupun kepemilikan fisik—harus mengingat bahwa struktur pasar, bukan sekadar harga, bisa menjadi penentu fase berikutnya dari volatilitas.

CME Bersiap Hadapi Potensi Tekanan Emas dan Perak dengan Aturan Margin Baru

Chicago Mercantile Exchange (CME) akan segera mengubah cara risiko dihitung di pasar logam mulia—dan dampaknya meluas jauh melebihi sekadar penyesuaian teknis biasa.

Mulai hari ini, 13 Januari 2026, CME akan mengubah persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas, perak, platinum, dan paladium dari nominal tetap dalam bentuk US$ menjadi persentase dari nilai nosional.

Apa Arti Aturan Margin Baru CME untuk Trader Emas dan Perak

Menurut bursa derivatif tersebut, langkah ini mengikuti tinjauan rutin terhadap volatilitas pasar untuk memastikan cakupan jaminan yang memadai.

“Berdasarkan tinjauan rutin volatilitas pasar untuk memastikan cakupan jaminan yang cukup… CME… menyetujui persyaratan bond kinerja…[dari]berdasarkan jumlah US$…[menjadi]berdasarkan persentase dari nilai nosional,” bunyi kutipan dalam pengumuman tersebut.

Dengan skema baru ini, margin emas akan ditetapkan sebesar 5%, sedangkan margin perak naik menjadi 9%, dan platinum serta paladium juga akan dihitung berdasarkan persentase serupa.

Meskipun CME menganggap perubahan ini sebagai hal prosedural, pelaku pasar melihat sinyal yang lebih dalam: manajemen risiko di kontrak berjangka logam mulia kini benar-benar terkait langsung dengan kenaikan harga itu sendiri.

Sebelumnya, kenaikan margin CME dilakukan dengan menaikan nominal US$ secara terpisah, sebagai alat kasar yang meningkatkan biaya satu kali lalu tetap bertahan.

Model baru ini berbeda. Dengan mengaitkan persyaratan margin dengan nilai nosional, CME secara efektif memperkenalkan mekanisme yang dapat menyesuaikan sendiri: saat harga naik, kebutuhan jaminan pun otomatis meningkat.

“Semakin tinggi harga emas dan perak, semakin besar jaminan yang harus disetor oleh posisi short. Artinya: Melakukan short pada logam kini jadi jauh lebih mahal. Trader kertas yang terlalu ber-leverage akan semakin cepat terhimpit. Forced covering = volatilitas makin tinggi,” tulis analis Echo X.

Secara praktik, ini berarti penjual short menghadapi peningkatan biaya secara bertahap, tepat ketika pasar bergerak melawan mereka. Melakukan short menjadi lebih mahal, dan trader kertas berleverage tinggi akan semakin terdesak dan berpotensi harus menutup posisi paksa.

Kenaikan harga memaksa penambahan posting margin, yang dapat memicu deleverage paksa, margin call, atau bahkan likuidasi penuh. Bagi investor emas dan perak, hal ini patut diperhatikan karena dinamika seperti ini biasanya muncul saat pasar logam berada di titik tekanan besar.

Jejak Titik Balik Masa Lalu di Tengah Ketatnya Fisik vs. Risiko Kertas

BeInCrypto sebelumnya melaporkan bahwa intervensi margin CME sering terjadi bersamaan dengan periode volatilitas tinggi dan ketidakseimbangan struktural.

Pada bulan Desember, media ini menyoroti bagaimana lonjakan margin perak secara berulang mengingatkan pada tahun 2011 dan 1980, dua periode di mana kenaikan persyaratan jaminan mempercepat penjualan paksa dan menyingkap leverage berlebihan.

Meskipun perubahan saat ini tidak seagresif lima kali kenaikan margin dalam sembilan hari di tahun 2011, logika dasarnya tetap serupa.

Analis makro Qinbafrank saat itu memperingatkan bahwa menaikkan margin, apapun motifnya, pasti akan menurunkan leverage dan membuat trader harus menambah modal atau keluar dari posisi, sering kali tanpa memedulikan fundamental jangka panjang.

“Kenaikan margin secara sederhana mengurangi leverage: Trader butuh lebih banyak modal untuk mengontrol ukuran kontrak yang sama… langkah CME tetap perlu diamati—kita tidak boleh terlalu FOMO,” tulis Qinbafrank.

Perbedaan utama saat ini adalah tekanannya kini bersifat dinamis, bukan statis.

Perubahan ini terjadi di tengah pergerakan harga yang ekstrem. Perak telah naik lebih dari 100% pada tahun 2025, dipicu oleh aliran spekulatif dan akhirnya oleh kelangkaan pasokan fisik.

Banyak aktivitas kini telah beralih di luar exchange, dengan hanya sekitar 100.000 kontrak futures perak Maret 2026 yang masih terbuka, sedangkan opsi SLV (iShares Silver Trust) dan perdagangan fisik perak makin banyak dilakukan over-the-counter.

Pergeseran tersebut bisa membatasi dampak volume langsung dari aturan margin baru ini. Tapi, hal tersebut tidak mengurangi dampak sinyal yang lahir dari perubahan ini.

Mengapa Investor Jangka Panjang Perlu Memperhatikan

Penting untuk disadari bahwa CME bukan sedang mencoba menekan harga; mereka justru tengah bersiap menghadapi kemungkinan tekanan di masa depan. Inilah inti pelajaran bagi investor jangka panjang dan alokator dana.

Kerangka margin hampir tidak pernah diubah secara signifikan saat pasar tenang. Perubahan terjadi saat exchange melihat risiko sistemik yang semakin meningkat. Walaupun volume perdagangan cenderung tetap, perubahan ke margin berbasis persentase menunjukkan makin lebarnya jarak antara permintaan fisik dan posisi kertas di pasar.

Bagi investor yang terekspos pada logam mulia—baik lewat futures, ETF, maupun kepemilikan fisik—harus mengingat bahwa struktur pasar, bukan sekadar harga, bisa menjadi penentu fase berikutnya dari volatilitas.
Connectez-vous pour découvrir d’autres contenus
Découvrez les dernières actus sur les cryptos
⚡️ Prenez part aux dernières discussions sur les cryptos
💬 Interagissez avec vos créateurs préféré(e)s
👍 Profitez du contenu qui vous intéresse
Adresse e-mail/Nº de téléphone

Dernières actualités

--
Voir plus
Plan du site
Préférences en matière de cookies
CGU de la plateforme