Halo pemula kripto!💎
Kamu sering dengar orang bilang "Bitcoin mahal banget, $90 ribu lebih per BTC!" Tapi coba pikir ulang: Bitcoin sebenarnya terdiri dari 100.000.000 satoshi (1 BTC = 100 juta satoshi). Jadi, kalau kamu beli 1 satoshi (sat), harganya cuma seperseratus juta dari harga BTC. Di 13 Januari 2026 ini, harga Bitcoin sekitar $91.000–$92.000 USD (berdasarkan data real-time dari Yahoo Finance, CoinMarketCap, dan update X resmi Bitcoin), artinya 1 satoshi ≈ $0.00091 USD atau sekitar Rp 14–15 rupiah (kurs Rp 16.000/USD).
Ya, benar: Bitcoin masih terasa "murah" jika dilihat dari satoshi – karena kamu bisa mulai investasi kecil-kecilan (bahkan Rp 10.000 bisa dapat ribuan satoshi). Ini yang bikin Bitcoin unik: unit terkecilnya (satoshi) memungkinkan akses mudah buat pemula, mirip beli recehan emas digital. Satoshi Nakamoto sendiri bilang Bitcoin bisa dibagi sampai 8 desimal (1 sat = 0.00000001 BTC), jadi potensinya besar kalau adopsi naik dan harga BTC terus tumbuh.
Fakta Menarik: Berapa Energi yang Dihabiskan untuk "Menambang" 1 Satoshi?
Bitcoin pakai Proof-of-Work (PoW) – miner harus pakai komputer super kuat untuk menyelesaikan teka-teki matematika demi mendapatkan blok baru dan memperoleh reward BTC. Ini bikin jaringan aman, tapi juga boros energi. Estimasi terkini (2025–2026 dari sumber seperti Digiconomist, Cambridge Centre for Alternative Finance, dan analisis mining):
Total konsumsi listrik jaringan Bitcoin sekitar 150–210 TWh per tahun (setara negara seperti Thailand atau Polandia).Rata-rata harian: sekitar 400–417 GWh (gigawatt-hour).Bitcoin baru diterbitkan 450 BTC per hari (setelah halving 2024, reward 3.125 BTC per blok × 144 blok/hari).
Baca Juga:
Kekuatan dan Keamanan Jaringan Bitcoin: Penjelasan Simpel untuk PemulaJadi, energi per 1 BTC yang baru ditambang ≈ 900–930 MWh (megawatt-hour) atau 900.000–930.000 kWh. Untuk 1 satoshi (karena 1 BTC = 100 juta satoshi):
Energi ≈ 9–9.3 kWh (atau sekitar 9–9.3 kilowatt-hour). Ini setara dengan:
Penggunaan listrik rumah tangga rata-rata di Indonesia selama 2–3 hari (rumah kecil pakai 3–4 kWh/hari).Atau nyalain AC 1 PK selama 10–12 jam nonstop.
Catatan penting:
Angka ini rata-rata jaringan, bukan biaya mining satu orang (karena reward dibagi antar miner di pool).Estimasi bisa berbeda tergantung sumber: Beberapa bilang lebih rendah (jika efisiensi miner naik), tapi tetap tinggi karena hash rate Bitcoin saat ini ~1.000–1.050 EH/s (exahash per detik) di Januari 2026.Bitcoin mining makin hijau: Lebih dari 50% energi dari renewable (hydro, wind, solar) menurut Cambridge 2025.
Fakta ini mengena buat pemula: Setiap satoshi yang kamu pegang "didukung" oleh energi komputasi global yang sangat besar – itu sebabnya Bitcoin disebut "digital gold" yang sulit dipalsukan atau diserang.
Baca Juga:
Ketika Hegemoni Dollar Melemah: Apa Peran Bitcoin di Krisis Global?Tabel Konversi BTC ke Satoshi (Praktis untuk Pemula)
Kenapa ini mengena buat pemula?
Kamu bisa mulai investasi Bitcoin dengan Rp 10.000–20.000 saja (dapat ratusan sampai ribuan satoshi di exchange seperti Binance atau
@Tokocrypto ). Nggak perlu beli 1 BTC utuh! Ini bikin Bitcoin lebih inklusif – mirip nabung recehan emas digital.
Tapi ingat: Harga satoshi ikut naik-turun sama BTC, dan kripto high risk. Selalu DYOR, pakai uang dingin, dan prioritaskan self-custody (not your keys, not your coins).
Apa pendapatmu? Masih mikir Bitcoin mahal, atau sekarang lihat dari sisi satoshi? Drop komentar yuk, biar kita diskusi bareng!
#bitcoin #Satoshi i
#CryptoPemula #dyor #BinanceSquare ‼️(NFA: Edukasi umum aja ya, bukan saran investasi. Harga fluktuatif, risikonya tinggi – konsultasi ahli kalau perlu.)
Baca Juga:
BitcoinOS (BOS): OS Revolusioner yang Bikin Bitcoin Jadi "Smart" Tanpa Ubah Satu Kode Pun