1. Asal dan Ketertelusuran: NFT dapat digunakan untuk membangun rantai pasokan yang jelas dan transparan, dari asal tanaman hingga tujuan akhirnya. Misalnya, NFT dapat mewakili sejumlah produk tertentu, dengan token yang memuat informasi seperti kapan dan di mana tanaman tersebut ditanam, bagaimana cara panen dan pengangkutannya, serta jejak karbonnya. Transparansi ini dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan memungkinkan mereka membuat keputusan pembelian yang lebih tepat.
2. Tokenisasi Aset: Lahan pertanian atau perkebunan dapat ditokenisasi menggunakan NFT, dengan setiap token mewakili satu bagian. Hal ini memungkinkan petani untuk mengumpulkan modal dengan menjual token, sementara investor dapat memperoleh laba atas investasi mereka melalui pembagian keuntungan dari lahan pertanian. Metode ini dapat membuat investasi di bidang pertanian lebih mudah diakses oleh lebih banyak orang.
3. Kontrak Cerdas dan Otomatisasi: Bila dipadukan dengan kontrak cerdas, NFT dapat membantu mengotomatisasi proses dalam rantai pasokan pertanian. Misalnya, kontrak cerdas dapat secara otomatis melepaskan pembayaran kepada petani setelah sejumlah hasil produksi telah dikirim dan diverifikasi. Hal ini dapat membantu mengurangi keterlambatan dan meningkatkan efisiensi.
4. Mempromosikan Keberlanjutan: NFT juga dapat digunakan untuk memberi penghargaan atas praktik pertanian berkelanjutan. Petani yang mematuhi standar keberlanjutan tertentu dapat mencetak dan menjual NFT yang mewakili komitmen mereka terhadap praktik ini. Token ini kemudian dapat dibeli oleh konsumen atau investor yang ingin mendukung pertanian berkelanjutan.
5. Penjualan Langsung ke Konsumen: NFT dapat memfasilitasi penjualan langsung dari petani ke konsumen, tanpa melalui perantara. Hal ini dapat menghasilkan harga yang lebih adil bagi kedua belah pihak. Petani dapat mencetak NFT yang mewakili sejumlah hasil panen mereka dan menjual token ini langsung ke konsumen.