Dampak perubahan iklim terhadap ekosistem, masyarakat manusia, dan satwa liar semakin nyata. Jelas bahwa kita memerlukan solusi dan teknologi inovatif bagi aktivisme iklim untuk mengatasi masalah ini. Sebelum kita mendalami salah satu solusi tersebut, mari kita periksa masalahnya lebih dekat. Pengelolaan sampah muncul sebagai kontributor signifikan terhadap krisis iklim, yang mewakili aspek mendesak dan nyata dari tantangan lingkungan hidup yang lebih luas yang harus kita hadapi.

Masalah sampah global semakin memburuk setiap hari, didorong oleh pesatnya urbanisasi dan meningkatnya konsumerisme. Menurut data Bank Dunia, jumlah sampah yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai 4,5 triliun pound. Pendekatan konvensional terhadap pembuangan limbah, seperti tempat pembuangan sampah, sering kali justru memperburuk masalah dibandingkan memberikan solusi yang sesungguhnya.

Gagasan kuno tentang “tidak terlihat, tidak terpikirkan” yang terkait dengan tempat pembuangan sampah secara tidak sengaja telah memperburuk masalah sampah. Kenyataannya, tempat pembuangan sampah berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim melalui emisi gas metana.

Misalnya saja, tempat pembuangan sampah sampah padat di Amerika Serikat menduduki peringkat ketiga sebagai sumber emisi metana yang dihasilkan manusia pada tahun 2019, yaitu sebesar 15 persen dari total emisi gas metana yang dihasilkan manusia. Sebagai perbandingan, jumlah ini setara dengan emisi yang dihasilkan oleh lebih dari 20 juta pengemudi pada tahun yang sama.

Jika kita mengabaikan isu-isu yang melekat dalam pengelolaan sampah dan terus menerapkan praktik-praktik yang tidak berkelanjutan, maka permasalahan sampah global akan semakin buruk. Dengan latar belakang yang sulit ini, salah satu solusi yang bertujuan untuk membalikkan situasi ini adalah ecoterra, sebuah proyek Web3 yang didedikasikan untuk aktivisme iklim melalui pemberian insentif daur ulang.

Memajukan Aktivisme Iklim dengan Aplikasi Recycle2Earn

Untuk meningkatkan upaya daur ulang dan mendorong tindakan ramah lingkungan, ecoterra berencana memperkenalkan aplikasi ponsel pintar untuk sistem Recycle2Earn-nya. Aplikasi ini akan membuat program penghargaan bagi pendaur ulang, memotivasi kegiatan yang berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan.

Aplikasi ini akan memberi pengguna akses ke tiga komponen utama: bahan daur ulang dan pasar penggantian kerugian karbon, serta profil dampak yang melacak tindakan ramah lingkungan. Platform ini akan memanfaatkan kumpulan likuiditas untuk mengelola likuiditas token untuk pasar.

Ekosistem yang diusulkan Ecoterra akan memberi insentif kepada perusahaan dan memberikan penghargaan kepada pengguna atas upaya ramah lingkungan dan daur ulang mereka. Seperti disebutkan, elemen utama ekosistem ini adalah pasar bahan daur ulang, yang bertujuan untuk menghubungkan bisnis yang membutuhkan bahan daur ulang dengan pihak yang dapat memasok sumber daya tersebut.

Untuk memastikan materi yang terdaftar memenuhi persyaratan spesifik setiap pembeli, pasar akan menerapkan mekanisme penyaringan tingkat lanjut. Pembayaran dapat dilakukan menggunakan token $ECOTERRA atau mata uang kripto lainnya. Untuk mendorong transparansi, riwayat pembelian bahkan dapat diintegrasikan ke dalam profil perusahaan yang dapat dilacak untuk mencegah greenwashing.

Merek Terkemuka: Database Produk Daur Ulang

Sebagai bagian dari upayanya untuk memperkuat aktivisme iklim, ecoterra telah mulai memasukkan merek global ke dalam ekosistemnya, termasuk Vittel, Heineken, dan Pepsi. Produk bermerek yang tercantum dalam database ecoterra akan dikenali sebagai bahan yang dapat dipindai, sehingga pengguna aplikasi dapat memperoleh imbalan karena mendaur ulangnya.

Selain itu, ecoterra telah bermitra dengan jaringan supermarket Delhaize, yang memiliki cabang di Eropa, Amerika Utara, dan Asia. Kemitraan ini mengusulkan agar Delhaize bertindak sebagai pusat daur ulang di mana pengguna dapat mengembalikan barang daur ulang bermerek dengan imbalan token $ECOTERRA.

Ecoterra membayangkan pendekatan khusus terhadap aktivisme iklim dengan memanfaatkan potensi token non-fungible (NFT). Dalam model yang diusulkan ini, NFT dapat mewakili tindakan berdampak—perilaku ramah lingkungan yang secara signifikan mengurangi kerusakan lingkungan.

Perusahaan juga berencana menjadikan pembangkitan energi terbarukan sebagai usaha yang menguntungkan bagi pemegang token $ECOTERRA. Sebagian dari pendapatan token dapat dialokasikan untuk membeli energi terbarukan, yang kemudian dapat dijual ke jaringan listrik nasional.

#web3community #Binancefeed #climatechange