Pada tahun 2021 terjadi penurunan besar-besaran nilai mata uang kripto, yang membuat banyak investor dan peminatnya bingung. Bitcoin, mata uang kripto terbesar di dunia, yang mencapai puncaknya hampir $65.000 pada bulan April 2021, kehilangan lebih dari setengah nilainya pada bulan-bulan berikutnya, dan aset digital lainnya pun mengikuti jejaknya. Pada artikel ini, kita akan mengeksplorasi beberapa kemungkinan penyebab jatuhnya pasar kripto pada tahun 2021.

  1. Tindakan keras Tiongkok terhadap mata uang kripto - Tiongkok selalu memiliki hubungan yang kompleks dengan mata uang kripto, dan pada tahun 2021, pemerintah negara tersebut mengintensifkan tindakan kerasnya terhadap aset digital. Pada bulan Mei, Tiongkok melarang lembaga keuangan menyediakan layanan terkait mata uang kripto, yang menyebabkan aksi jual besar-besaran di pasar. Selain itu, beberapa provinsi di Tiongkok menghentikan operasi penambangan mata uang kripto, sehingga menyulitkan para penambang untuk beroperasi dan menambang koin baru. Akibatnya, hal ini berdampak signifikan pada dinamika penawaran dan permintaan pasar kripto, yang menyebabkan penurunan harga.

  2. Masalah regulasi – Pemerintah dan regulator keuangan di seluruh dunia sedang bergulat dengan cara mengatur mata uang kripto, yang semakin populer dan kapitalisasi pasarnya selama bertahun-tahun. Pada tahun 2021, beberapa pemerintah mengumumkan langkah-langkah peraturan baru, yang menciptakan ketidakpastian di pasar. Misalnya, Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif pajak capital gain, yang akan mempengaruhi investor mata uang kripto. Selain itu, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) di AS menunda keputusannya mengenai apakah akan menyetujui ETF Bitcoin, sehingga menciptakan ketidakpastian di pasar.

  3. Tweet Elon Musk - CEO Tesla Elon Musk adalah pendukung vokal mata uang kripto dan dikenal menggerakkan pasar dengan tweetnya. Namun, pada tahun 2021, tweet Musk tentang Bitcoin menyebabkan fluktuasi pasar yang signifikan. Pada bulan Mei, Musk mengumumkan bahwa Tesla tidak lagi menerima Bitcoin sebagai pembayaran untuk mobil listriknya, dengan alasan masalah lingkungan. Hal ini menyebabkan penurunan nilai Bitcoin secara signifikan dan berdampak pada mata uang kripto lainnya.

  4. Ketakutan akan inflasi dan kenaikan suku bunga - Pandemi COVID-19 menyebabkan tingkat stimulus pemerintah dan kebijakan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga meningkatkan jumlah uang beredar dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Selain itu, kekhawatiran akan kenaikan suku bunga menambah ketidakpastian di pasar, karena suku bunga yang lebih tinggi dapat menyebabkan penurunan permintaan terhadap aset berisiko seperti mata uang kripto.

  5. Margin call dan likuidasi – Pasar kripto memiliki leverage yang tinggi, yang berarti investor dapat meminjam uang untuk meningkatkan keuntungan mereka. Namun, hal ini juga berarti bahwa ketika harga turun, investor mungkin harus menjual asetnya untuk menutupi margin call, yang dapat memicu serangkaian penjualan dan penurunan harga lebih lanjut. Pada bulan Mei 2021, pasar kripto mengalami peristiwa likuidasi besar-besaran, dengan posisi senilai lebih dari $8 miliar dilikuidasi hanya dalam satu hari, yang selanjutnya memicu aksi jual.

Kesimpulannya, jatuhnya pasar kripto pada tahun 2021 adalah peristiwa kompleks yang memiliki berbagai penyebab, termasuk masalah peraturan, tindakan keras Tiongkok terhadap mata uang kripto, tweet Elon Musk, ketakutan akan inflasi dan kenaikan suku bunga, serta margin call dan likuidasi. Seiring dengan semakin matangnya pasar kripto, kemungkinan besar tantangan dan risiko baru akan muncul, dan investor serta peminatnya harus bersiap untuk menghadapinya.