Selama ini kita kebiasaan nyimpen data di cloud. Foto, file kerja, data aplikasi—semua dititipin ke satu pihak. Praktis sih, tapi jarang ada yang mikir: sebenarnya siapa yang pegang kendali atas data itu?
Cloud tradisional itu terpusat. Artinya, data kita ada di server milik perusahaan tertentu. Selama semuanya normal, nggak ada masalah. Tapi begitu ada gangguan server, perubahan aturan, sensor, atau bahkan penutupan layanan, kita sebagai pengguna cuma bisa nerima.
Masalah lain soal biaya.
Awalnya murah, lama-lama naik. Apalagi kalau data makin besar. Buat developer atau aplikasi Web3, ini bisa jadi beban serius.
Di titik inilah konsep kayak Walrus mulai masuk akal.
Walrus dibangun buat ngilangin ketergantungan ke satu server. Data nggak disimpan di satu tempat, tapi dipecah dan disebar ke banyak node. Jadi kalau satu titik bermasalah, datanya tetap aman dan bisa diakses.
Bukan cuma soal aman, tapi juga tahan sensor. Karena datanya tersebar, nggak ada satu pihak yang bisa seenaknya nutup atau ngatur akses. Ini penting banget buat aplikasi terdesentralisasi yang pengen benar-benar bebas dan mandiri.
Walrus juga mikirin efisiensi.
Dengan teknologi erasure coding, data nggak perlu disalin berkali-kali seperti storage tradisional. Jadi lebih hemat biaya, tapi tetap kuat.
Intinya, Walrus nggak muncul karena ikut tren. Dia hadir karena ada masalah nyata di cara kita nyimpen data hari ini. Dan kalau Web3 mau tumbuh serius, solusi storage kayak gini bakal makin relevan.
Di artikel berikutnya, kita bakal bahas gimana sebenarnya cara kerja Walrus, tapi versi gampang dipahami—tanpa istilah ribet.
#walrus @Walrus 🦭/acc $WAL